Red Tuesday, Hari Paling Rawan Putus Cinta Jelang Valentine, Ini Alasannya

Vinsensia DianawantiDiterbitkan 11 Februari 2026, 21:10 WIB

ringkasan

  • "Red Tuesday" adalah hari paling rawan putus cinta menjelang Valentine, berdasarkan survei Illicit Encounters yang menunjukkan 49% responden sengaja memilih hari tersebut untuk berpisah.
  • Dua motivasi utama di balik perpisahan pada Red Tuesday adalah keengganan mengeluarkan uang untuk hadiah Valentine (41%) dan tidak ingin memalsukan kasih sayang (29%).
  • Jurnalis Olivia Petter menilai putus cinta sebelum Valentine sebagai tindakan kejam, namun ia juga menyarankan untuk memilih waktu yang bijak dan melihat sisi positif bagi yang diputuskan.

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, tahukah Anda bahwa hari ini, yang dikenal sebagai "Red Tuesday," disebut-sebut sebagai momen paling rawan untuk mengakhiri sebuah hubungan? Fenomena ini terjadi hanya beberapa hari menjelang perayaan Hari Valentine yang seharusnya dipenuhi dengan romansa dan kasih sayang. Ini adalah waktu krusial bagi banyak pasangan.

Klaim mengejutkan ini didasarkan pada penelitian terbaru yang mengungkap mengapa banyak orang memilih Selasa sebelum Hari Valentine untuk berpisah. Survei tersebut menyoroti faktor-faktor pendorong di balik keputusan sulit ini. Penelitian dilakukan oleh Illicit Encounters di Inggris.

Temuan ini memberikan perspektif baru tentang dinamika hubungan modern menjelang salah satu hari paling romantis dalam setahun. Memahami alasan di balik "Red Tuesday" dapat membantu kita melihat lebih dalam kompleksitas emosi. Ini juga dapat membantu kita memahami tekanan sosial yang ada.

2 dari 4 halaman

Mengapa Red Tuesday Jadi Hari Paling Rawan Putus Cinta?

ilustrasi perempuan sedih/Photo by Timur Weber/Pexels

Penelitian yang dilakukan oleh Illicit Encounters, situs web kencan ekstramarital terbesar di Inggris, menjadi dasar klaim "Red Tuesday" ini. Survei terhadap 1.500 anggotanya menunjukkan sebuah pola menarik. Lebih dari sepertiga atau 34 persen dari mereka mengakhiri hubungan menjelang Hari Valentine.

Angka tersebut semakin spesifik ketika hampir setengahnya, yaitu 49 persen dari responden, secara sengaja memilih "Red Tuesday" untuk berpisah. Hari ini adalah Selasa sebelum Hari Valentine. Pemilihan waktu ini bukanlah kebetulan semata, melainkan sebuah keputusan yang disengaja.

Data ini menunjukkan bahwa "Red Tuesday" bukan sekadar mitos, melainkan sebuah fenomena yang didukung oleh perilaku nyata. Banyak individu yang merencanakan perpisahan mereka. Mereka melakukannya dengan mempertimbangkan waktu yang strategis.

3 dari 4 halaman

Dua Alasan Utama di Balik Keputusan Berpisah

Ada dua motivasi utama yang mendorong seseorang untuk mengakhiri hubungan pada "Red Tuesday." Motivasi ini terungkap dari hasil survei Illicit Encounters. Faktor-faktor ini mencerminkan pertimbangan praktis dan emosional.

Motivasi pertama adalah faktor keuangan. Sebanyak 41 persen responden menyatakan bahwa mereka tidak ingin mengeluarkan uang untuk perjalanan atau hadiah Hari Valentine. Mereka tidak ingin berinvestasi untuk seseorang yang sudah tidak lagi diminati. Ini menunjukkan adanya perhitungan biaya-manfaat dalam hubungan.

Motivasi kedua adalah keengganan untuk memalsukan kasih sayang. Sebanyak 29 persen responden mengaku tidak ingin berpura-pura menunjukkan afeksi pada hari yang seharusnya merayakan cinta romantis. Mereka merasa tidak nyaman berbohong tentang perasaan mereka. Kejujuran emosional menjadi prioritas.

Kedua alasan ini menyoroti bagaimana tekanan sosial dan ekspektasi Hari Valentine dapat memicu keputusan sulit. Orang-orang ingin menghindari pengeluaran tidak perlu dan tampil tulus. Ini adalah pilihan yang sulit namun dianggap perlu.

4 dari 4 halaman

Pandangan Jurnalis dan Saran Bijak Menghadapi Perpisahan

Olivia Petter, seorang jurnalis dari Independent.co.uk, menyoroti bagaimana aplikasi kencan modern mungkin mendorong pendekatan yang kurang peduli terhadap romansa. Ia berpendapat bahwa memutuskan hubungan tepat sebelum Hari Valentine adalah tindakan yang "sangat kejam". Meskipun demikian, Petter mengakui bahwa tidak ada cara yang "baik" untuk memutuskan seseorang.

Waktu putus cinta akan selalu terasa tidak tepat, seringkali berdekatan dengan momen penting lainnya. Petter menyarankan agar kita semua berusaha membawa lebih banyak kasih sayang ke dalam dunia kencan. Dunia kencan seringkali terasa hambar atau bahkan disfungsional.

Bagi Sahabat Fimela yang mungkin diputuskan pada "Red Tuesday," Petter memberikan ucapan selamat. Ini berarti Anda telah terhindar dari menghabiskan masa depan dengan seseorang yang "benar-benar buruk". Bahkan, mungkin saja seseorang yang terdaftar di situs web perselingkuhan. Ini adalah perspektif yang mencoba memberikan kekuatan.

Petter menyarankan untuk memilih waktu yang bijak saat memutuskan hubungan agar dampaknya tidak terlalu buruk. Hal ini demi mengurangi rasa sakit bagi kedua belah pihak. Mengakhiri hubungan dengan empati adalah penting.