Sukses

Relationship

Mencintai Diri Sendiri Bukan Berarti Menutup Diri dari Orang Lain

Fimela.com, Jakarta - Belakangan ini, istilah self-love atau mencintai diri sendiri semakin sering kita dengar. Banyak yang mulai sadar pentingnya menjaga kesehatan mental, menetapkan batasan, dan berhenti memaksakan diri demi diterima orang lain. Ini perkembangan yang baik. Namun, di sisi lain, ada juga kebingungan yang pelan-pelan muncul: apakah mencintai diri sendiri berarti harus menjaga jarak dari orang lain? Apakah membuka hati lagi justru tanda kita belum cukup kuat?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini wajar. Apalagi jika kita pernah terluka, dikecewakan, atau terlalu sering mengalah. Mencintai diri sendiri memang sering dimulai dari menarik diri sejenak. Tapi berhenti di sana saja bisa membuat kita salah paham tentang maknanya yang utuh.

Self-Love Bukan tentang Mengisolasi Diri

Mencintai diri sendiri bukan berarti membangun tembok tinggi dan menutup semua pintu. Self-love adalah tentang memahami diri, bukan mengisolasi diri. Ada perbedaan besar antara menjaga diri dan menutup diri.

Menjaga diri berarti tahu batas kemampuan emosional, tahu kapan perlu berkata tidak, dan tahu kapan butuh jeda. Sementara menutup diri sering kali lahir dari ketakutan: takut terluka lagi, takut dikecewakan, atau takut merasa tidak cukup.

Ketika seseorang berkata, “Aku fokus ke diri sendiri dulu,” itu sah dan sehat. Tapi jika fokus itu berubah menjadi penolakan total terhadap koneksi, kedekatan, atau kepercayaan, mungkin ada luka yang belum dibereskan, bukan cinta diri yang sedang dirawat.

Mencintai Diri Sendiri Justru Membantu Kita Berelasi Lebih Sehat

Sahabat Fimela, orang yang benar-benar mencintai dirinya biasanya justru lebih mampu membangun hubungan yang sehat. Mengapa? Karena ia tidak lagi mencari validasi berlebihan dari orang lain. Ia hadir dalam relasi bukan untuk diisi, melainkan untuk berbagi.

Saat kita mengenal diri sendiri dengan jujur, kita tahu apa yang bisa dan tidak bisa kita toleransi. Kita tidak mudah terseret drama, tidak mudah merasa bersalah hanya karena memilih diri sendiri, dan tidak mudah kehilangan arah hanya demi mempertahankan hubungan.

Hubungan yang dibangun dari self-love biasanya lebih setara. Tidak ada peran “penyelamat” atau “korban” yang terus diulang. Dua orang bertemu sebagai pribadi yang utuh, bukan sebagai orang yang sama-sama berharap diselamatkan.

Membuka Diri Tidak Sama dengan Mengorbankan Diri

Salah satu alasan banyak orang menutup diri adalah karena pengalaman masa lalu yang mengajarkan bahwa membuka hati sering kali berakhir dengan kehilangan diri sendiri. Terlalu memberi, terlalu mengerti, terlalu mengalah.

Padahal, membuka diri yang sehat selalu disertai kesadaran. Kita bisa dekat tanpa kehilangan batas. Kita bisa peduli tanpa melupakan kebutuhan sendiri. Kita bisa mencintai tanpa harus selalu mengorbankan kenyamanan batin.

Mencintai diri sendiri berarti kita berani berkata, “Aku ingin dekat, tapi aku juga ingin tetap menjadi diriku sendiri.” Dan itu bukan egois. Itu dewasa.

Tidak Semua Orang Berhak Masuk Terlalu Dalam

Self-love juga mengajarkan satu hal penting: tidak semua orang harus punya akses yang sama ke hidup kita. Ada lingkaran-lingkaran yang wajar kita buat. Ada yang hanya tahu permukaan, ada yang kita izinkan lebih dekat.

Menutup diri sepenuhnya sering kali terasa aman, tapi dalam jangka panjang bisa membuat kita kesepian. Sebaliknya, membuka diri tanpa seleksi bisa melelahkan. Di sinilah kebijaksanaan dibutuhkan.

Mencintai diri sendiri berarti memilih dengan sadar siapa yang kita beri ruang. Bukan karena takut, tapi karena menghargai energi dan emosi yang kita punya.

Proses Setiap Orang Tidak Sama

Sahabat Fimela, ada orang yang butuh waktu lama untuk kembali percaya. Ada juga yang cepat bangkit dan membuka hati lagi. Keduanya tidak salah. Mencintai diri sendiri bukan perlombaan.

Yang penting adalah kejujuran pada diri sendiri. Apakah kita sedang menarik diri untuk memulihkan, atau untuk menghindar? Apakah kita berkata “aku baik-baik saja sendiri” karena memang sudah utuh, atau karena lelah berharap?

Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini tidak perlu diumumkan ke siapa pun. Cukup dijawab jujur di dalam hati.

Hubungan yang Sehat Tidak Mengancam Self-Love

Hubungan yang sehat tidak membuat kita merasa kecil, bersalah, atau harus selalu membuktikan diri. Sebaliknya, hubungan yang sehat memberi ruang untuk bertumbuh, termasuk ruang untuk sendiri.

Jika sebuah hubungan menuntut kita untuk mengabaikan diri sendiri, itu bukan cinta. Tapi jika self-love membuat kita menolak semua bentuk kedekatan, itu juga patut dipertanyakan.

Keseimbangan memang tidak selalu mudah, tapi bisa dipelajari. Kita boleh mencintai diri sendiri sambil tetap membuka ruang untuk orang lain hadir, mengenal kita, dan berjalan bersama.

Sahabat Fimela, mencintai diri sendiri bukan tentang hidup sendirian dan merasa paling kuat. Self-love adalah tentang keberanian untuk mengenal diri, merawat luka, menetapkan batas, dan tetap percaya bahwa koneksi yang sehat itu mungkin.

Kita tidak perlu menutup diri untuk melindungi diri. Kita hanya perlu lebih sadar, lebih jujur, dan lebih lembut pada diri sendiri. Dari sanalah hubungan yang lebih sehat dengan orang lain bisa tumbuh, tanpa kehilangan diri, tanpa harus berpura-pura kuat sepanjang waktu.

 

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading