Tips Membangun Sikap Empati dan Toleransi Anak di Usia Sekolah

hilya KamilaDiterbitkan 24 Juni 2026, 13:00 WIB

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, toleransi dan empati adalah salah satu sikap yang perlu diajarkan kepada anak-anak. Melalui sikap empati, anak dapat belajar kemampuan untuk memahami dan merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain. Selain itu, dilansir dari ywcagla.org, empati dapat membentuk mereka menjadi individu yang penuh kasih dan tanggung jawab secara sosial. Dengan mengajarkan sikap empati pada anak, mereka akan mampu menjalin hubungan dan menyelesaikan konflik dengan baik. 

Empati tidak hanya sekadar menjadi seseorang yang baik hati, tetapi juga tentang sikap bagaimana cara memahami orang lain secara mendalam. Dengan mengajarkan sikap empati pada anak, dapat menumbuhkan kemampuan meregulasi emosi dan hubungan dengan baik. Ketika anak-anak belajar berempati, mereka menjadi lebih mampu mengatur diri sendiri, yaitu kemampuan untuk mengelola emosi, pikiran, dan perilaku dalam berbagai situasi. 

Di sisi lain, empati juga dapat mengurangi perundungan dan perilaku agresif si kecil. Anak-anak mampu belajar menghadapi konflik dengan penuh kepedulian dan mencari penyelesaian yang dapat diterima oleh semua pihak. Kemampuan bersikap empati yang diajarkan sejak dini, sangatlah penting untuk membangun hubungan yang positif kepada sesama. Lantas, bagaimana cara mengajarkan anak di usia sekolah agar dapat belajar toleransi dan empati? Mari kita simak pembahasan berikut ini, Sahabat Fimela.

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

Tips Menumbuhkan Sikap Empati kepada Anak-Anak

Beberapa aktivitas yang menarik dapat menumbuhkan sikap empati pada anak. (Foto/dok: Freepik)

Dilansir dari ywcagla.org, jika Sahabat Fimela ingin mengajarkan empati kepada si kecil, terdapat beberapa aktivitas yang dapat menumbuhkan sikap empati pada anak. 

1. Pendekatan dengan storytelling

Bercerita merupakan salah satu cara yang efektif untuk mengajarkan pengelolaan emosi dan empati pada anak-anak. Sahabat Fimela dapat memilih buku-buku yang dapat mendorong anak untuk menempatkan diri pada posisi orang lain. Setelah membaca, ajukan pertanyaan refleksi kepada anak, seperti “menurutmu bagaimana perasaan tokoh ini?” atau “apa yang akan kamu lakukan jika berada dalam situasi ini?” Hal itu dapat membantu si kecil mengenali perasaan dan meningkatkan sikap empati.

2. Role play bersama anak-anak

Role play atau yang biasa kita kenal dengan bermain peran memungkinkan anak-anak merasakan berbagai sudut pandang orang lain, tetapi sambil bersenang-senang. Misalnya, berpura-puralah menjadi seorang tokoh yang sedang menghadapi keputusan sulit, lalu biarkan anak membantu menentukan penyelesaiannya. Cara ini membantu mereka berlatih memikirkan kebutuhan dan perasaan orang lain.

3. Refleksi diri dengan latihan bersyukur

Pada umumnya, rasa syukur dan empati berjalan secara beriringan. Sahabat Fimela dapat mempraktikan rasa syukur. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara bertanya dengan anak tentang apa yang mereka syukuri selama ini. Selain itu, orang tua juga perlu mendiskusikan bagaimana orang lain terlibat terhadap pengalaman positif tersebut.

3 dari 3 halaman

4. Ekspresikan diri melalui seni

Para orang tua dapat mengajak anak-anak menggambar atau menulis cerita tentang hal-hal yang membuat teman atau keluarga mereka bahagia. (Foto/dok: Freepik/fwstudio)

Para orang tua dapat mengajak anak-anak menggambar atau menulis cerita tentang hal-hal yang membuat teman atau keluarga mereka bahagia. Kegiatan ini dapat mendorong mereka untuk memikirkan perasaan orang lain serta meningkatkan pemahaman terhadap berbagai sudut pandang.

5. Libatkan anak pada kegiatan sosial

Sahabat Fimela dapat melibatkan anak-anak dalam kegiatan volunteer. Kegiatan yang bersifat sukarela ini biasanya akan banyak membantu orang lain dengan menjadi relawan di suatu komunitas. Pengalaman tersebut dapat memberi si kecil kesempatan nyata untuk belajar langsung tentang kepedulian dan tanggung jawab sosial.

Sahabat Fimela, menumbuhkan toleransi dan empati pada anak sejak usia sekolah tidak hanya mengajarkan menjadi pribadi yang baik, tetapi juga membekali mereka dengan keterampilan hidup yang penting. Empati membantu anak memahami perasaan orang lain, mengelola emosi dengan lebih baik, mengurangi perilaku agresif, serta membangun hubungan yang sehat dan harmonis. Melalui berbagai cara sederhana seperti storytelling, bermain peran, latihan rasa syukur, ekspresi seni, hingga keterlibatan dalam kegiatan sosial, orang tua dapat menanamkan nilai kepedulian dan tanggung jawab sosial secara konsisten.