5 Sikap agar Bulan Ramadan Ini Makin Bahagia

Endah WijayantiDiterbitkan 23 Februari 2026, 15:45 WIB

Fimela.com, Jakarta - Ramadan selalu datang dengan harapan baru. Ada yang ingin memperbaiki ibadah, ada yang ingin memperbaiki hubungan, ada pula yang ingin menata ulang hidup agar lebih tenang dan terarah. Namun kebahagiaan di bulan suci tidak hadir begitu saja. Ia tumbuh dari sikap yang dipilih setiap hari.

Sahabat Fimela, kebahagiaan Ramadan bukan tentang seberapa sibuk jadwal ibadah atau seberapa banyak agenda buka bersama. Ia lebih dalam dari itu. Ia terasa ketika hati lebih lapang, pikiran lebih jernih, dan hubungan dengan sesama terasa lebih hangat.

Berikut lima sikap yang bisa membuat Ramadan tahun ini terasa lebih bahagia dan bermakna.

What's On Fimela
2 dari 6 halaman

1. Menata Niat dengan Lebih Bermakna

1. Menata Niat dengan Lebih Bermakna./Copyright depositphotos.com/odua

Ramadan sering kali dipenuhi target: khatam sekian kali, salat tarawih penuh, sedekah rutin, bangun sahur tanpa bolong. Semua itu baik. Namun tanpa niat yang jujur, semuanya mudah berubah menjadi beban.

Menata niat berarti bertanya dengan tenang: untuk apa semua ini dilakukan? Apakah hanya demi terlihat baik, sekadar mengikuti kebiasaan, atau benar-benar ingin mendekat kepada Allah dan memperbaiki diri?

Ketika niat diluruskan, beban berubah menjadi kebutuhan hati. Ibadah tak lagi terasa sebagai kewajiban yang menekan, melainkan ruang untuk beristirahat dari hiruk pikuk dunia. Niat yang jujur juga membuat seseorang tidak mudah membandingkan diri dengan orang lain.

Ramadan menjadi lebih bahagia saat fokus berpindah dari “orang lain sudah sejauh apa” menjadi “hari ini sudah lebih baik dari kemarin atau belum.”

3 dari 6 halaman

2. Mengelola Ekspektasi dengan Bijak

2. Mengelola Ekspektasi dengan Bijak./Copyright depositphotos.com/airdone

Tidak semua hari di Ramadan akan terasa khusyuk. Ada hari ketika tubuh lelah, pekerjaan menumpuk, emosi naik turun, atau masalah keluarga muncul tanpa aba-aba. Jika ekspektasi terlalu tinggi dan kaku, kekecewaan mudah muncul.

Sikap bijak adalah menerima bahwa proses spiritual juga memiliki dinamika. Ada hari yang terasa sangat dekat dengan Tuhan, ada hari yang terasa biasa saja. Itu manusiawi.

Mengelola ekspektasi berarti memberi ruang pada diri sendiri untuk tidak sempurna. Jika suatu hari terlewat salat malam, bukan berarti semuanya gagal. Jika satu waktu emosi tak terjaga, bukan berarti Ramadan rusak seluruhnya.

Sahabat Fimela, kebahagiaan lahir dari penerimaan. Penerimaan bukan berarti menyerah, melainkan memahami bahwa perjalanan selalu memiliki naik dan turun. Dengan sikap ini, Ramadan terasa lebih ringan dan realistis.

4 dari 6 halaman

3. Memperluas Empati, Bukan Sekadar Simpati

3. Memperluas Empati, Bukan Sekadar Simpati./Copyright Fimela/Adrian Putra

Ramadan mengajarkan rasa lapar dan dahaga agar manusia lebih peka terhadap sesama. Namun empati tidak berhenti pada perasaan iba. Empati berarti mau benar-benar memahami dan hadir.

Ada banyak cara sederhana untuk melatih empati di bulan suci: mendengarkan keluh kesah tanpa menghakimi, membantu tanpa mempermalukan, memberi tanpa mengungkit, serta memaafkan tanpa syarat yang rumit.

Kebahagiaan di Ramadan sering kali tumbuh bukan dari apa yang diterima, tetapi dari apa yang diberikan. Memberi perhatian kepada orang tua, pasangan, anak, sahabat, bahkan rekan kerja yang mungkin sedang kesulitan, bisa menghangatkan hati lebih dari sekadar hadiah materi.

Empati juga berarti berhenti cepat menghakimi. Tidak semua orang menjalani Ramadan dengan kondisi yang sama. Ada yang sedang sakit, ada yang berduka, ada yang sedang berjuang secara finansial. Memahami latar belakang orang lain membuat hati lebih lembut dan suasana Ramadan terasa lebih damai.

5 dari 6 halaman

4. Menjaga Lisan dan Respons Emosi

4. Menjaga Lisan dan Respons Emosi./Copyright Fimela/Adrian Putra

Salah satu ujian terbesar di bulan Ramadan bukan hanya menahan lapar, tetapi menahan lisan dan emosi. Dalam kondisi lelah dan haus, seseorang bisa lebih mudah tersulut.

Sikap yang perlu dilatih adalah jeda sebelum merespons. Tidak semua hal harus ditanggapi saat itu juga. Tidak semua perbedaan harus diperdebatkan. Tidak semua kritik perlu dibalas dengan pembelaan panjang.

Menjaga lisan berarti memastikan bahwa kata-kata yang keluar membawa kebaikan. Jika tidak bisa memberi solusi, setidaknya tidak menambah luka. Jika tidak bisa memuji, lebih baik diam daripada merendahkan.

Sahabat Fimela, suasana rumah dan lingkungan kerja selama Ramadan sangat dipengaruhi oleh cara seseorang merespons. Ketika satu orang memilih tenang, energi itu bisa menular. Ketika satu orang memilih menahan diri, konflik yang lebih besar bisa dicegah.

Ramadan menjadi lebih bahagia ketika hati tidak dipenuhi penyesalan karena ucapan yang terburu-buru.

6 dari 6 halaman

5. Fokus pada Perbaikan Kecil yang Konsisten

5. Fokus pada Perbaikan Kecil yang Konsisten./Copyright Fimela/Adrian Putra

Banyak orang ingin berubah drastis di bulan Ramadan. Targetnya besar, daftarnya panjang. Namun sering kali semangat besar di awal tidak bertahan hingga akhir.

Sikap yang lebih bijak adalah memilih perbaikan kecil tetapi konsisten. Misalnya, menambah lima menit doa setiap selesai salat. Membaca beberapa halaman Al-Qur’an setiap hari tanpa harus memaksakan satu juz jika belum mampu. Menyisihkan sedikit rezeki untuk sedekah secara rutin.

Perubahan kecil yang konsisten jauh lebih kuat dampaknya dibanding perubahan besar yang hanya bertahan beberapa hari. Konsistensi juga menumbuhkan rasa percaya diri. Ketika melihat diri mampu menjaga satu kebiasaan baik, muncul keyakinan bahwa perubahan lain pun mungkin dilakukan.

Kebahagiaan di Ramadan bukan tentang pencapaian spektakuler. Ia hadir saat melihat diri perlahan menjadi lebih sabar, lebih peka, lebih disiplin, dan lebih tenang dibanding sebelumnya.

Ramadan yang Lebih Hangat dan Bermakna

Secara garis besar, Ramadan adalah tentang hubungan: hubungan dengan Tuhan, dengan sesama, dan dengan diri sendiri. Ketika niat ditata, ekspektasi dikelola, empati diperluas, lisan dijaga, dan perbaikan kecil dilakukan secara konsisten, suasana bulan suci terasa berbeda.

Sahabat Fimela, kebahagiaan tidak selalu berbentuk tawa atau perayaan besar. Kadang ia hadir dalam bentuk hati yang lebih damai, tidur yang lebih nyenyak setelah saling memaafkan, atau senyum kecil saat melihat orang lain terbantu.

Ramadan tahun ini mungkin tidak sempurna. Namun dengan sikap yang tepat, ia bisa menjadi lebih hangat dan membekas lebih lama. Bukan hanya selama tiga puluh hari, tetapi hingga bulan-bulan setelahnya.

Semoga Ramadan kali ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan momentum untuk tumbuh dengan cara yang lebih dewasa, lebih bijak, dan lebih penuh syukur.