Fimela.com, Jakarta - Di tengah narasi publik yang kerap menggambarkan remaja Indonesia sebagai generasi yang rapuh dan rentan terhadap gangguan mental, sebuah eksperimen sosial berbasis sekolah justru menghadirkan kabar optimistis. Remaja Indonesia dinilai memiliki modal prososial dan empati yang kuat. Kemampuan itu dapat dibentuk secara signifikan melalui intervensi sederhana di lingkungan sekolah.
Temuan ini terungkap melalui Program CekTemanSebelah 2.0: “Laporkan Kebaikan Teman” yang diinisiasi oleh Health Collaborative Center (HCC). Program tersebut dipimpin oleh Ketua Tim Eksperimen sekaligus Ketua HCC, Ray Wagiu Basrowi, bersama Direktur Eksekutif HCC, Bunga Pelangi.
Program ini mengadopsi metode tootling, yakni praktik melaporkan kebaikan atau tindakan positif teman sebaya secara terstruktur. Selama 10 hari pelaksanaan, sebanyak 699 siswa SMA di Jakarta terlibat, dengan 541 siswa menyelesaikan program secara penuh.
Hasilnya mencengangkan. Siswa yang aktif melaporkan kebaikan teman menunjukkan 5 kali lebih empatik, 5 kali lebih prososial, hampir 4 kali lebih tinggi dalam perspective-taking atau kemampuan memahami sudut pandang orang lain
Dalam periode singkat tersebut, terkumpul 4.710 laporan kebaikan. Artinya, terjadi daya multiplikasi hingga 10 kali lipat hanya dari satu intervensi sederhana. Sebanyak 8 dari 10 pelajar mengaku merasakan perubahan positif setelah mengikuti program. Bahkan, siswa yang aktif melaporkan kebaikan memiliki peluang 11 kali lebih besar untuk merasakan perubahan positif tersebut.
Menguatkan Fondasi Psikologis Remaja
Program ini tidak hanya mengukur perilaku prososial, tetapi juga enam aspek emosional remaja, termasuk gejala emosional, masalah perilaku, hiperaktivitas, relasi teman sebaya, skor kesulitan, serta aspek empati menggunakan Interpersonal Reactivity Index.
Psikolog Klinis Puskesmas Ciracas sekaligus elaborator eksperimen sosial ini, Sulastry Pardede, menjelaskan bahwa perilaku prososial yang dilatih melalui program ini terbukti meningkatkan empati dan solidaritas, mengurangi rasa ketidaknyamanan diri, membentuk reaksi sosial yang lebih positif, serta memperkuat hubungan antar teman sebaya.
Data menarik lainnya menunjukkan 77% siswa melaporkan kebaikan sebagai bentuk ucapan terima kasih, 71% sebagai bentuk apresiasi, 50% sebagai balas kebaikan, 41% untuk menginspirasi teman lain, dan 34% agar kebaikan diketahui publik.
Temuan lain yang tak kalah penting, siswa perempuan memiliki peluang 34 kali lebih besar melaporkan kebaikan kepada sesama perempuan dibandingkan kepada siswa laki-laki. Hal ini menunjukkan adanya dinamika sosial yang dapat menjadi dasar pengembangan strategi intervensi berikutnya.
Pentingnya Mengasah Empati Sejak Usia Sekolah
Empati bukan sekadar kemampuan merasakan apa yang dirasakan orang lain. Ia adalah fondasi bagi tumbuhnya solidaritas, kepedulian, dan kemampuan membangun relasi sehat. Dalam konteks kesehatan mental, empati berperan sebagai faktor protektif yang memperkuat ketahanan psikologis remaja.
Eksperimen sosial ini menegaskan bahwa membangun empati tidak selalu membutuhkan program kompleks atau biaya besar. Intervensi sederhana, konsisten, dan terstruktur di lingkungan sekolah terbukti mampu memperkuat karakter sekaligus kesehatan mental siswa dalam waktu relatif singkat.
Sekolah, sebagai ruang sosial utama anak dan remaja, memiliki peran strategis dalam membentuk budaya saling menghargai dan mengapresiasi. Ketika praktik “melaporkan kebaikan teman” menjadi kebiasaan, sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar akademik, tetapi juga ruang tumbuhnya generasi yang lebih peduli, tangguh, dan berdaya.
Di tengah berbagai tantangan sosial yang dihadapi generasi muda saat ini, mengasah empati sejak usia sekolah bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak untuk membangun masa depan yang lebih sehat secara mental dan sosial.