Fimela.com, Jakarta - Kejang pada bayi adalah kondisi medis yang bisa sangat mengkhawatirkan bagi setiap orang tua. Kondisi ini terjadi ketika ada aktivitas listrik abnormal yang mendadak dan berlebihan di otak si kecil. Aktivitas listrik yang tidak terkendali ini dapat mengganggu penerimaan dan pengiriman impuls dari otak ke bagian tubuh lainnya, yang kemudian menyebabkan perubahan perilaku, gerakan, atau tingkat kesadaran bayi.
Perlu Sahabat Fimela ketahui, otak bayi yang belum sepenuhnya berkembang membuat kejang pada bayi berbeda dengan kejang yang dialami anak yang lebih tua atau orang dewasa. Kejang pada bayi bukanlah suatu penyakit, melainkan gejala dari gangguan saraf pusat yang memerlukan perhatian serius.
Memahami kejang pada bayi, termasuk jenis-jenisnya, gejala, dan langkah penanganan yang tepat, adalah kunci untuk dapat bertindak cepat dan efektif. Informasi yang akurat dapat membantu Sahabat Fimela tetap tenang dan memberikan pertolongan pertama yang benar saat si kecil mengalami kondisi ini.
Jenis-jenis Kejang pada Bayi: Memahami Perbedaan Krusial
Ada beberapa jenis kejang yang dapat terjadi pada bayi, masing-masing dengan karakteristik dan penyebab yang berbeda. Mengenali jenis kejang ini penting untuk diagnosis dan penanganan yang tepat.
Kejang Demam (Febrile Seizures)
Kejang demam adalah jenis kejang yang paling umum pada bayi dan anak kecil, biasanya terjadi pada 2 hingga 5 persen anak-anak sebelum usia 5 tahun. Kejang ini dipicu oleh demam tinggi, umumnya ketika suhu tubuh di atas 38°C. Usia paling rentan adalah antara 6 bulan hingga 5 tahun, dengan risiko tertinggi pada usia 1 hingga 3 tahun.
Sebagian besar kejang demam berlangsung hanya beberapa menit dan berhenti dengan sendirinya, serta umumnya tidak berbahaya dan tidak menyebabkan masalah kesehatan jangka panjang. Kejang demam dapat dibagi menjadi dua jenis: kejang demam sederhana, yang berlangsung beberapa detik hingga 15 menit dan hanya terjadi sekali dalam 24 jam; serta kejang demam kompleks, yang berlangsung lebih dari 15 menit, terjadi lebih dari sekali dalam 24 jam, atau hanya melibatkan satu bagian tubuh.
Penyebab kejang demam seringkali terkait dengan infeksi virus seperti flu, pilek, roseola, cacar air, COVID-19, RSV, atau infeksi telinga. Ada juga komponen genetik yang dapat memengaruhi kerentanan anak terhadap kondisi ini. Penting untuk diingat bahwa memiliki kejang demam tidak berarti seorang anak menderita epilepsi; hanya sebagian kecil anak dengan riwayat kejang demam yang kemudian berkembang menjadi epilepsi, terutama jika ada riwayat kejang demam kompleks atau riwayat epilepsi dalam keluarga.
Kejang Neonatal (Neonatal Seizures)
Kejang neonatal terjadi pada bayi baru lahir, yaitu dalam 28 hari pertama kehidupan untuk bayi cukup bulan, atau hingga 44 minggu usia pascakonsepsi untuk bayi prematur. Insiden kejang ini lebih tinggi pada periode neonatal dibandingkan waktu lain dalam hidup, diperkirakan 80-120 kasus per 100.000 neonatus per tahun di Amerika Serikat. Bayi prematur atau bayi dengan berat lahir rendah lebih mungkin mengalami kejang neonatal.
Penyebab paling umum kejang neonatal adalah ensefalopati hipoksik-iskemik (HIE), yaitu cedera otak akibat kekurangan oksigen selama atau sekitar waktu kelahiran. Penyebab lain meliputi cedera struktural atau kerusakan otak, infeksi otak (seperti meningitis atau ensefalitis), kelainan bawaan otak, ketidakseimbangan metabolik (misalnya, kadar gula darah rendah, kalsium rendah), kelainan genetik, dan putus obat pada bayi yang lahir dari ibu dengan riwayat penyalahgunaan zat.
Gejala kejang neonatal seringkali halus dan sulit dibedakan dari gerakan normal bayi. Ini bisa berupa gerakan mengunyah, gerakan mengayuh kaki, sentakan lengan/kaki, mata melotot atau bergerak tak terkendali, perubahan tonus otot, atau henti napas yang lama. Kejang neonatal dapat menyebabkan konsekuensi serius, termasuk disabilitas kognitif dan motorik yang signifikan, epilepsi seumur hidup, dan bahkan kematian.
Spasme Infantil (Infantile Spasms)
Spasme infantil adalah bentuk epilepsi langka dan serius yang memengaruhi bayi di bawah usia 12 bulan, biasanya dimulai antara usia 3 hingga 12 bulan. Kondisi ini terlihat seperti sentakan atau ketegangan singkat yang melibatkan perut, kepala, leher, lengan, dan/atau kaki bayi. Spasme ini seringkali terjadi dalam serangkaian (cluster) dan dapat menyerupai refleks terkejut, biasanya berulang setiap 5-10 detik dan sering terjadi saat bayi bangun tidur.
Spasme infantil dapat disebabkan oleh masalah pada bagian otak atau masalah yang memengaruhi seluruh otak, seperti kelainan metabolik, kelainan genetik (misalnya, Sindrom Down, Tuberous Sclerosis), atau malformasi otak. Diagnosis dini sangat penting karena spasme infantil seringkali menyebabkan keterlambatan perkembangan. Pengobatan yang cepat dapat membantu meminimalkan dampak negatif pada perkembangan anak.
Jenis Kejang Lainnya
- Kejang Fokal: Terjadi ketika aktivitas kejang dimulai di satu area tertentu di otak.
- Kejang Tonik: Otot-otot tubuh menegang atau kaku.
- Kejang Klonik: Gerakan menyentak berirama yang melibatkan otot-otot wajah, lidah, lengan, kaki, atau bagian tubuh lainnya.
- Kejang Tonik-Klonik: Melibatkan kekakuan seluruh tubuh diikuti dengan gerakan menyentak berulang, seringkali disertai hilangnya kesadaran.
- Kejang Absans: Anak mungkin berhenti beraktivitas selama beberapa detik, terlihat diam, tidak bergerak, dan menatap kosong.
- Kejang Mioklonik: Gerakan tersentak tiba-tiba pada satu atau beberapa bagian tubuh.
- Kejang Atonik: Otot-otot tubuh menjadi rileks, menyebabkan tubuh atau kepala terkulai.
Mengenali Gejala Umum Kejang pada Bayi: Apa yang Harus Diperhatikan
Gejala kejang pada bayi bisa sulit dibedakan dari gerakan normal, terutama pada bayi baru lahir. Namun, Sahabat Fimela perlu mewaspadai beberapa tanda umum yang mungkin mengindikasikan kejang.
Tanda-tanda ini bisa bervariasi, tetapi observasi yang cermat sangat penting. Beberapa gejala yang perlu diperhatikan meliputi gerakan mengunyah atau mengecap bibir, gerakan mengayuh atau mengayunkan kaki seperti bersepeda, serta sentakan lengan dan kaki.
Selain itu, mata melotot atau bergerak tak terkendali, berkedip cepat, atau mata bergulir ke atas juga bisa menjadi indikasi. Perubahan tonus otot, seperti kekakuan mendadak, henti napas yang lama (apnea), mengerang atau mengeluarkan busa dari mulut, penurunan kesadaran atau tidak responsif, buang air kecil atau besar secara tiba-tiba, serta kulit pucat atau kebiruan di sekitar bibir juga merupakan gejala yang harus diwaspadai.
Diagnosis dan Penanganan Kejang pada Bayi: Langkah Tepat dari Medis hingga Pertolongan Pertama
Diagnosis kejang pada bayi memerlukan evaluasi menyeluruh oleh tenaga medis. Dokter akan melakukan anamnesis (wawancara riwayat medis) dan pemeriksaan fisik untuk menanyakan riwayat kejang sebelumnya, riwayat tumbuh kembang, riwayat penyakit lain, serta riwayat kejang atau gangguan neurologis dalam keluarga.
Pemeriksaan penunjang yang umum dilakukan meliputi Elektroensefalografi (EEG), yang merupakan tes standar emas untuk merekam aktivitas listrik otak dan mendeteksi aktivitas kejang. Tes darah dan urine juga dilakukan untuk memeriksa ketidakseimbangan metabolik seperti kadar gula darah atau elektrolit. Pencitraan otak seperti MRI atau CT Scan dapat mendeteksi kelainan struktural, sementara pungsi lumbal dilakukan untuk menyingkirkan infeksi serius seperti meningitis. Dalam beberapa kasus, tes genetik mungkin diperlukan untuk mengidentifikasi kelainan genetik yang terkait.
Pertolongan Pertama Saat Bayi Kejang
Melihat bayi kejang bisa sangat menakutkan, namun penting bagi Sahabat Fimela untuk tetap tenang dan melakukan langkah-langkah pertolongan pertama dengan benar.
- Tetap Tenang: Hal pertama yang harus dilakukan adalah menenangkan diri dan jangan panik.
- Posisikan Bayi dengan Aman: Letakkan bayi secara perlahan di lantai atau permukaan yang lembut dan datar. Posisikan bayi miring ke samping untuk mencegah tersedak air liur atau muntah. Jauhkan benda-benda berbahaya di sekitar bayi dan lindungi kepala bayi dengan bantal atau bantalan lembut.
- Longgarkan Pakaian: Kendurkan pakaian ketat di sekitar kepala dan leher bayi agar lebih mudah bernapas.
- Jangan Masukkan Apapun ke Mulut Bayi: Jangan pernah memasukkan sendok, jari, atau benda lain ke dalam mulut bayi. Ini dapat melukai bayi, mematahkan gigi, atau menyumbat jalan napas.
- Catat Durasi dan Gejala: Perhatikan dan catat waktu dimulainya kejang dan berapa lama kejang berlangsung. Informasi ini sangat penting bagi dokter. Amati juga perubahan warna kulit, mata, dan respons bayi setelah kejang.
- Jangan Menahan Gerakan: Jangan mencoba menahan gerakan bayi saat kejang karena dapat menimbulkan cedera pada otot dan tulangnya.
- Pantau Pernapasan: Waspadai tanda-tanda gangguan pernapasan, termasuk warna kebiruan pada wajah.
- Setelah Kejang Berakhir: Tetap awasi bayi hingga sadar sepenuhnya. Bayi mungkin akan mengantuk atau bingung setelah kejang.
Kapan Harus Mencari Bantuan Medis Darurat:
- Ini adalah kejang pertama kali pada bayi.
- Kejang berlangsung lebih dari 5 menit.
- Bayi mengalami kesulitan bernapas atau wajahnya membiru.
- Bayi tidak sadar atau tidak pulih dengan cepat setelah kejang.
- Bayi mengalami cedera selama kejang.
- Kejang terjadi di dalam air.
- Kejang hanya melibatkan sebagian tubuh, bukan seluruh tubuh.
- Bayi mengalami kejang lagi dalam waktu 24 jam.
- Bayi memiliki kondisi kesehatan lain seperti diabetes atau penyakit jantung.
- Bayi menunjukkan gejala mengkhawatirkan lainnya seperti leher kaku, ruam kulit, atau muntah proyektil.
Pengobatan: Pengobatan utama difokuskan pada penyebab kejang. Obat antikejang (misalnya, fenobarbital, levetiracetam) dapat diberikan jika kejang berlanjut atau berulang. Untuk kejang demam, obat penurun demam seperti asetaminofen atau ibuprofen dapat digunakan untuk kenyamanan. Dalam kasus HIE, terapi hipotermia (pendinginan otak) dapat digunakan untuk meminimalkan cedera otak.
Komplikasi dan Prognosis Kejang pada Bayi: Memahami Dampak Jangka Panjang
Kejang pada bayi, terutama jika berkepanjangan dan tidak diobati, dapat memiliki dampak serius pada kesehatan dan perkembangan si kecil. Penting bagi Sahabat Fimela untuk memahami potensi komplikasi dan prognosis terkait kondisi ini.
Salah satu komplikasi yang paling mengkhawatirkan adalah kerusakan otak permanen, yang dapat terjadi jika kejang berlangsung lama dan tidak mendapatkan penanganan yang tepat. Kerusakan ini bisa diakibatkan oleh penurunan aliran oksigen ke otak dan aktivitas sel otak yang berlebihan.
Meskipun kejang demam sederhana jarang menyebabkan epilepsi, jenis kejang lain seperti kejang neonatal dan spasme infantil memiliki risiko lebih tinggi untuk berkembang menjadi epilepsi di kemudian hari. Kejang neonatal juga merupakan prediktor kuat gangguan kognitif dan perkembangan jangka panjang, sementara spasme infantil sering dikaitkan dengan keterlambatan perkembangan yang signifikan.