5 Tips Melatih Anak agar Memiliki Kemampuan Delayed Gratification Sejak Usia Dini

Annisa Kharisma DewiDiterbitkan 05 April 2026, 22:00 WIB

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, mengajarkan anak untuk bersabar sering kali menjadi tantangan tersendiri bagi banyak orangtua. Tidak sedikit anak yang ingin segala sesuatu terjadi dengan cepat, mulai dari ingin segera membuka hadiah, langsung makan camilan favorit, hingga meminta waktu bermain lebih lama. Situasi seperti ini sebenarnya sangat wajar dalam proses tumbuh kembang mereka.

Namun, di balik kebiasaan menunggu tersebut, ada satu kemampuan penting yang perlu dilatih sejak dini, yaitu delayed gratification atau kemampuan menunda kesenangan. Kemampuan ini membantu anak belajar bahwa menunggu dengan sabar sering kali akan menghasilkan sesuatu yang lebih baik.

Dilansir dari Raising Children Network, anak yang mampu menunda keinginan cenderung memiliki keterampilan emosional yang lebih baik, prestasi akademik yang lebih tinggi, serta kemampuan pengambilan keputusan yang lebih matang saat dewasa. Kabar baiknya, kemampuan ini bukan bakat bawaan, melainkan keterampilan yang dapat dipelajari dan dilatih sejak kecil.

Berikut beberapa tips melatih anak agar memiliki kemampuan delayed gratification yang bisa mulai diterapkan dalam keseharian :  

 

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

Mengurangi Godaan agar Anak Lebih Mudah Menunggu

Ketika anak tidak terus-menerus melihat sesuatu yang mereka inginkan, keinginan tersebut biasanya tidak terasa terlalu mendesak. [Dok/freepik.com/tirachardz]

Salah satu cara paling sederhana untuk membantu anak belajar menunda keinginan adalah dengan mengurangi godaan yang ada di sekitarnya. Ketika anak tidak terus-menerus melihat sesuatu yang mereka inginkan, keinginan tersebut biasanya tidak terasa terlalu mendesak.

Misalnya, jika Sahabat Fimela tidak ingin anak terlalu sering meminta camilan manis, cobalah menyimpan makanan tersebut di tempat yang tidak mudah terlihat. Cara ini membantu anak belajar bahwa tidak semua keinginan harus langsung dipenuhi. Seiring bertambahnya usia, orang tua juga bisa menjelaskan alasan di balik strategi ini agar anak mulai memahami cara mengendalikan keinginan mereka sendiri.

Tidak Terlalu Menekankan Hadiah

Banyak orangtua menggunakan hadiah sebagai cara memotivasi anak untuk berperilaku baik. Meski metode ini tidak sepenuhnya salah, terlalu sering membicarakan hadiah justru bisa membuat anak semakin fokus pada hal yang ingin mereka dapatkan.

Ketika anak terus memikirkan hadiah tersebut, rasa ingin mendapatkannya bisa semakin kuat sehingga membuat mereka sulit menunggu. Karena itu, cobalah mengalihkan fokus anak pada proses atau aktivitas yang sedang dilakukan, bukan hanya pada hadiah di akhir. Dengan cara ini, anak belajar bahwa kesabaran adalah bagian dari proses, bukan sekadar cara untuk mendapatkan sesuatu.

 

 

3 dari 3 halaman

Mengalihkan Perhatian dengan Aktivitas Menyenangkan

Sahabat Fimela, kamu bisa mengajak anak untuk bernyanyi, bercerita, menggambar, atau bermain permainan sederhana. [Dok/pressfoto]

Anak biasanya lebih mudah menunggu ketika mereka memiliki aktivitas lain yang menyenangkan. Mengalihkan perhatian dengan kegiatan positif bisa menjadi cara efektif untuk membantu anak belajar menunda keinginan.

Misalnya, ketika anak harus menunggu waktu makan atau giliran bermain, Sahabat Fimela bisa mengajak mereka bernyanyi, bercerita, menggambar, atau bermain permainan sederhana. Aktivitas ringan seperti ini membantu anak merasa waktu berjalan lebih cepat dan membuat mereka tidak terlalu fokus pada hal yang sedang ditunggu. Yang terpenting, aktivitas pengalihan sebaiknya tetap menyenangkan agar anak merasa nyaman selama menunggu.

Mengajak Anak Berpikir Secara Kreatif

Pada anak yang sudah sedikit lebih besar, orang tua juga bisa mengajarkan cara melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Misalnya, jika anak terus memikirkan makanan yang ingin dimakan, ajak mereka membayangkan bentuk atau warna makanan tersebut secara kreatif.

Pendekatan ini membantu anak menggunakan kemampuan berpikir mereka untuk mengendalikan keinginan. Dengan kata lain, anak belajar menenangkan emosi mereka melalui cara berpikir yang lebih rasional. Latihan sederhana seperti ini juga dapat membantu anak mengembangkan kreativitas sekaligus kemampuan pengendalian diri.