Fimela.com, Jakarta - Merawat anak dengan autisme sering kali menjadi perjalanan yang penuh tantangan sekaligus pembelajaran bagi orangtua. Tidak jarang orangtua merasa ragu apakah mereka sudah melakukan cara yang tepat untuk mendukung tumbuh kembang anak. Perasaan tidak yakin ini sebenarnya wajar, terutama ketika orangtua harus memahami kebutuhan anak yang mungkin berbeda dengan anak pada umumnya.
Di sinilah konsep parenting self efficacy menjadi penting. Istilah ini merujuk pada keyakinan orangtua terhadap kemampuan mereka dalam merawat, membimbing, dan memahami kebutuhan anak. Ketika orangtua memiliki keyakinan tersebut, mereka cenderung lebih tenang dalam menghadapi tantangan, lebih konsisten dalam mendampingi anak, serta mampu melihat perkembangan anak secara lebih positif.
Dilansir dari Raising Children Network, salah satu cara membangun kepercayaan diri anak autisme adalah dengan menyoroti kekuatan, minat, dan kemampuan yang mereka miliki, bukan hanya berfokus pada tantangan yang dihadapi. Pendekatan ini tidak hanya membantu anak merasa lebih percaya diri, tetapi juga memperkuat keyakinan orangtua dalam menjalankan peran pengasuhan sehari hari.
1. Fokus pada Kekuatan Anak
Setiap anak memiliki keunikan, termasuk anak dengan autisme. Karena itu, langkah penting dalam membangun parenting self efficacy adalah dengan mengenali dan menghargai kekuatan yang dimiliki anak.
Orangtua dapat mulai dengan memperhatikan aktivitas yang paling disukai anak atau hal yang mereka lakukan dengan baik. Misalnya anak yang senang menyusun puzzle, membaca buku, bermain Lego, bernyanyi, atau memasak bersama. Ketika orangtua menyadari potensi ini, mereka bisa lebih percaya diri dalam mengarahkan kegiatan yang mendukung perkembangan anak.
Dengan fokus pada kekuatan anak, orangtua juga akan lebih mudah melihat perkembangan positif yang mungkin sebelumnya tidak disadari.
2. Manfaatkan Minat Anak sebagai Cara Belajar
Banyak anak autisme memiliki minat khusus yang sangat kuat terhadap suatu hal. Minat ini sebenarnya dapat dimanfaatkan sebagai cara belajar yang efektif.
Misalnya, jika anak menyukai mobil atau kereta, orangtua dapat menggunakan gambar kendaraan untuk mengajarkan berhitung. Jika anak menyukai hewan, buku cerita tentang hewan bisa menjadi cara menyenangkan untuk melatih kemampuan membaca atau bercerita.
Menggunakan minat anak sebagai media belajar membuat proses belajar terasa lebih menarik dan membantu anak merasa lebih percaya diri.
3. Amati Anak dalam Berbagai Situasi
Cara lain untuk memperkuat parenting self efficacy adalah dengan mengamati perilaku anak dalam berbagai situasi. Orangtua bisa memperhatikan aktivitas anak ketika berada di rumah, di sekolah, maupun saat bermain.
Perhatikan kegiatan yang secara alami menarik perhatian anak. Misalnya apakah anak senang membantu merapikan mainan, mengikuti instruksi sederhana, atau menunjukkan sikap peduli kepada orang lain.
Pengamatan ini membantu orangtua memahami kemampuan anak secara lebih menyeluruh sehingga mereka bisa memberikan dukungan yang sesuai.
4. Libatkan Guru dan Orang Terdekat
Orangtua tidak harus menjalani proses pengasuhan sendirian. Mendengarkan masukan dari guru, pengasuh, atau anggota keluarga lain dapat memberikan perspektif baru tentang potensi anak.
Sering kali orang lain melihat kekuatan anak yang mungkin tidak disadari oleh orangtua. Dengan berbagi informasi dan pengalaman, orangtua dapat lebih yakin dalam menentukan pendekatan pengasuhan yang tepat.
Dukungan dari lingkungan sekitar juga membantu orangtua merasa lebih percaya diri dalam menghadapi berbagai tantangan pengasuhan.
5. Buat Buku Kekuatan Anak
Salah satu cara sederhana namun efektif adalah membuat buku tentang kekuatan anak. Buku ini bisa berisi hal hal yang disukai anak, kemampuan yang mereka miliki, aktivitas yang membuat mereka bahagia, hingga hal yang sedang mereka pelajari.
Orangtua juga dapat menambahkan foto, gambar, atau cerita kecil tentang pencapaian anak. Buku ini tidak hanya menjadi pengingat akan potensi anak, tetapi juga dapat meningkatkan rasa bangga dan percaya diri pada anak.
Bagi orangtua, buku ini menjadi pengingat bahwa setiap perkembangan kecil adalah bagian dari perjalanan besar anak.
6. Gunakan Kartu Kekuatan untuk Menghargai Anak
Kartu kekuatan dapat dibuat secara sederhana menggunakan gambar atau kata kata yang menggambarkan kualitas positif seperti berani, ramah, atau pendengar yang baik.
Orangtua dapat mengajak anak memilih kartu yang menggambarkan dirinya atau anggota keluarga lainnya. Aktivitas ini membantu anak memahami kekuatan mereka sekaligus meningkatkan komunikasi dalam keluarga.
Selain itu, Sahabat Fimela juga dapat memberikan pujian ketika anak menunjukkan perilaku positif yang sesuai dengan kartu tersebut.
7. Dorong Aktivitas Fisik dan Kreatif
Kegiatan fisik dan kreatif juga dapat membantu meningkatkan rasa percaya diri anak. Ketika anak berhasil mempelajari keterampilan baru, mereka akan merasa bangga dengan pencapaiannya.
Aktivitas seperti olahraga ringan, kelas drama, atau kegiatan seni dapat menjadi sarana bagi anak untuk mengekspresikan diri sekaligus berinteraksi dengan orang lain. Kegiatan yang terstruktur biasanya lebih nyaman bagi anak autisme karena memberikan rasa aman dan keteraturan.
Sahabat Fimela, dengan mengenali kekuatan anak, memanfaatkan minat mereka, serta memberikan dukungan yang tepat, orangtua dapat membantu anak autisme tumbuh lebih percaya diri sekaligus memperkuat keyakinan diri mereka dalam menjalani peran sebagai orangtua.
Penulis: Siti Nur Arisha