Tips Ajarkan Anak Mengelola Rasa Malu Tanpa Turunkan Percaya Dirinya

Annisa Kharisma DewiDiterbitkan 11 April 2026, 18:00 WIB

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, ketika sudah menjadi orangtua, perannya tidak hanya sebatas memenuhi kebutuhan fisik anak, tetapi juga membentuk kesejahteraan emosional mereka. Saat anak merasakan kegembiraan, kebanggaan, atau antusiasme, kita sering ikut merayakan. Namun, ketika mereka merasa malu atau tersinggung, respons orangtua menjadi sangat menentukan.

Dilansir dari beberapa sumber, mengelola rasa malu dengan cara yang sehat sangat penting untuk membangun rasa percaya diri dan harga diri anak di masa depan. Rasa malu adalah emosi yang kuat, dan jika ditangani secara kurang tepat, bisa berdampak negatif pada perkembangan emosional anak. 

Apa Itu Rasa Malu?

Rasa malu muncul ketika seseorang merasa ada yang salah dengan dirinya, merasa kurang, tidak berharga, atau tidak pantas. Berbeda dengan rasa bersalah, yang biasanya muncul karena perilaku tertentu, malu menargetkan identitas anak itu sendiri.

Pada anak-anak, rasa malu bisa muncul dari berbagai situasi, misalnya gagal dalam tugas, dibandingkan dengan teman atau saudara, tidak memenuhi ekspektasi, atau merasa ditolak oleh teman sebaya. Walau normal, jika rasa malu terlalu sering atau terlalu berat, hal ini bisa menurunkan rasa percaya diri, membuat anak menarik diri dari lingkungan sosial, atau menimbulkan kecemasan.

 

 

2 dari 3 halaman

Mengapa Orangtua Harus Hati-hati dengan Rasa Malu?

Sahabat Fimela, simak alasan mengapa orangtua harus hati-hati dengan rasa malu pada anak. [Dok/freepik.com/tirachardz]

1. Rasa Malu Bisa Mengurangi Harga Diri Anak

Anak sangat sensitif terhadap perlakuan orangtua. Jika mereka sering dipermalukan atau disalahkan, anak bisa merasa “tidak cukup baik.” Mengatakan hal seperti, “Kenapa kamu nggak seperti kakakmu?” atau “Seharusnya kamu malu sama dirimu sendiri” dapat membuat anak merasa tidak dihargai, memengaruhi kepercayaan diri, dan meragukan kemampuan sendiri.

2. Rasa Malu Kronis Bisa Menghambat Perkembangan Emosional

Terlalu sering merasa malu dapat menekan ekspresi emosional anak. Mereka mungkin menghindari interaksi sosial, menutup diri, atau mengembangkan mekanisme coping negatif seperti agresi, menarik diri, atau perfeksionisme.

 3. Bisa Menimbulkan Masalah Perilaku

Anak yang sering merasa malu bisa bertindak defensif untuk melindungi diri dari rasa sakit emosional. Anak yang dipermalukan karena tidak menyelesaikan PR bisa menghindari tugas sekolah atau bersikap nakal sebagai bentuk perlindungan diri.

Cara Orangtua Membantu Anak Mengelola Rasa Malu dengan Sehat

1. Pisahkan Perilaku dari Anak

Fokus pada tindakan, bukan identitas anak. Tegaskan bahwa melakukan kesalahan adalah bagian dari proses belajar.Alih-alih menekankan anak “buruk” karena melakukan kesalahan, arahkan perhatian pada bagaimana memperbaikinya. Hal ini membuat anak memahami bahwa kesalahan tidak mendefinisikan siapa mereka.

 

 

 

 

3 dari 3 halaman

2. Tunjukkan Cara Mengekspresikan Emosi dengan Sehat

Sebagai orangtua, tunjukkan bagaimana mengekspresikan perasaan, termasuk rasa malu, secara sehat. [Dok/freepik.com]

Anak belajar dari contoh yang dilakukan oleh orangtua. Tunjukkan bagaimana mengekspresikan perasaan, termasuk rasa malu, secara sehat. Misalnya, orangtua bisa mengatakan, “Aku merasa frustrasi karena melakukan kesalahan, tapi aku akan tarik napas, belajar dari kesalahan, dan melanjutkan.” Ini menanamkan ketahanan emosional pada anak.

3. Ajarkan Rasa Kasih pada Diri Sendiri

Dorong anak bersikap baik pada diri sendiri ketika merasa malu. Self compassion membantu anak melewati rasa malu tanpa menganggapnya sebagai identitas diri. Kalimat seperti, “Aku melakukan kesalahan, tapi itu nggak berarti aku buruk. Aku bisa mencoba lagi besok,” mengajarkan anak bersikap lembut pada diri sendiri.

4. Validasi Perasaannya

Akui perasaan malu anak tanpa membuat mereka merasa salah. Yakinkan bahwa rasa malu adalah pengalaman manusiawi, tetapi tidak menentukan nilai diri anak. Ungkapan sederhana seperti, “Aku tahu kamu merasa malu, itu wajar. Rasanya memang nggak nyaman, tapi ingat, kamu selalu dicintai dan berharga,” bisa memberi rasa aman dan diterima.

5. Fokus pada Solusi, Bukan Menyalahkan

Alihkan perhatian dari kesalahan ke cara memperbaikinya. Hal ini mengajarkan anak bertanggung jawab tanpa menambah rasa malu. Jika anak lupa melakukan tugas, ajak mereka membuat rencana agar tidak terulang, daripada menekankan ketidakmampuan mereka.