5 Tips Parenting dalam Melatih Anak Mengatur Emosi Ketika Bertengkar dengan Teman

hilya KamilaDiterbitkan 16 April 2026, 15:00 WIB

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, selama masa sekolah, anak seringkali berinteraksi dengan teman-teman. Namun, tidak semua anak-anak merasa nyaman untuk berinteraksi. Bahkan, sebagian anak cenderung mudah untuk bertengkar dengan temannya. Masalah pertemanan tersebut menjadi kekhawatiran tersendiri bagi orangtua. Itulah sebabnya, orangtua perlu untuk melatih anak mengatur emosi mereka. Hal ini sebagai salah satu cara pencegahan agar anak tidak bertengkar kembali dengan temannya.

Di sisi lain, cepat atau lambat, setiap anak belajar bahwa pertemanan tidak selamanya berjalan dengan lancar. Pertemanan juga bisa melibatkan perselisihan dan perasaan sakit hati akibat pertengkaran. Dilansir dari kidsmentalhealthfoundation.org, anak yang belajar mengelola emosi saat bertengkar dengan teman dapat bermanfaat bagi kesehatan mental karena meningkatkan keterampilan komunikasi, meningkatkan kepercayaan diri, dan memperkuat hubungan.

Akan tetapi, masalah pertengkaran anak dengan temannya janganlah disepelekan. Terkadang, anak-anak mengira bahwa ketika mereka bertengkar, hubungan pertemanan pun akan berakhir. Ketika masalah itu terjadi, orangtua dapat mengajarkan atau melatih anak mengatur emosi mereka saat bertengkar. Dengan berbicara kepada anak tentang masalah pertemanan, dapat membantu mereka mengatasi perasaan sakit hati kepada temannya.

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

Cara Melatih Anak untuk Mengatur Emosi saat Berselisih

Orangtua dapat mengarahkan mereka untuk mengekspresikan diri secara tegas ketika membahas konflik dengan teman mereka. (Foto/dok: Freepik/tirachardz)

Dilansir calm-kids.com, terdapat teknik efektif untuk membantu anak-anak dalam menghadapi konflik dengan temannya.

1. Mendorong untuk komunikasi terbuka

Terdapat banyak cara untuk mengatasi pertengkaran anak-anak, salah satu caranya adalah komunikasi yang terbuka dan jujur. Misalnya, jika anak datang kepada orangtua dan menceritakan konflik dengan temannya, dengarkanlah perspektif mereka secara aktif tanpa menghakimi dan validasi emosi. Selain itu, bantulah mereka untuk mengungkapkan perasaan dan kekhawatiran yang anak rasakan. Dengan menciptakan ruang yang aman untuk dialog terbuka, orangtua dapat mengarahkan mereka untuk mengekspresikan diri secara tegas ketika sedang bertengkar dengan teman mereka.

2. Mengajarkan empati melalui berbagai perspektif

Untuk mengatasi permasalahan anak dengan temannya, orangtua bisa membantu anak untuk mengembangkan empati dan memahami berbagai perspektif. Selain itu, orangtua dapat mendorong mereka untuk mempertimbangkan bagaimana perasaan teman mereka atau apa yang sedang mereka alami. Contohnya, orangtua dapat bertanya kepada anak tentang pendapat "bagaimana perasaan temanmu tentang situasi ini?" Pengambilan perspektif ini dapat membantu menumbuhkan pemahaman dan kasih sayang. Itulah sebabnya anak-anak dapat memahami untuk menghadapi konflik dengan empati.

3. Membantu anak memecahkan masalah

Orangtua dapat membimbing anak dalam mengembangkan keterampilan pemecahan masalah untuk mengatasi konflik dengan temannya. Bujuk mereka untuk bertukar pikiran tentang masalah dan solusi dengan mengeksplorasi berbagai pendekatan. Selain itu, orangtua juga dapat mengajari mereka untuk mempertimbangkan konsekuensi dari tindakan mereka. Misalnya, orangtua bisa menanyakan kepada mereka, "Apa saja solusi yang mungkin bisa kamu sarankan kepada temanmu?" Dengan memberdayakan anak-anak untuk berusaha menemukan solusi terhadap masalah pertengkaran, hal itu dapat membangun kepercayaan diri mereka dalam menyelesaikan konflik.

3 dari 3 halaman

4. Mendengarkan anak ketika mereka bercerita

Orangtua dapat mengajari anak untuk memahami sudut pandang teman mereka. (Foto/dok: Freepik)

Peran orangtua sangat penting untuk melatih anak mendengarkan dengan seksama selama konflik. Selain itu, orangtua juga dapat memberikan anak saran agar tetap bersikap tenang ketika bertengkar dengan teman. Orangtua dapat membujuk mereka untuk mendengarkan perspektif teman tanpa menyela atau mengabaikan. Mendengarkan secara seksama dapat menumbuhkan rasa saling menghormati dan mendorong komunikasi yang efektif. Ajari anak untuk memahami sudut pandang teman mereka. 

5. Mengembangkan kesadaran penuh pada anak

Orangtua dapat memperkenalkan anak pada praktik mindfulness untuk mendukung kesejahteraan emosional mereka ketika berada dalam situasi konflik dengan teman. Mindfulness dapat membantu anak-anak mengembangkan kesadaran diri, mengelola emosi mereka, dan menanggapi konflik dengan tenang dan jernih. Melalui cara sederhana ini, seperti latihan pernapasan dalam atau pemindaian tubuh secara sadar, dapat membantu mereka tetap tenang dan hadir di saat ini. Mindfulness juga mendorong anak-anak untuk mengamati pikiran dan emosi mereka tanpa menghakimi sehingga menumbuhkan pendekatan yang tidak reaktif dalam penyelesaian konflik.

Sahabat Fimela, pertengkaran dalam pertemanan anak merupakan hal yang wajar terjadi selama masa tumbuh kembang. Namun, hal ini tidak boleh diabaikan begitu saja karena dapat mempengaruhi kondisi emosional dan hubungan sosial anak. Oleh sebab itu, peran orangtua sangat penting dalam mendampingi anak untuk belajar mengatur emosi saat menghadapi konflik. Melalui komunikasi terbuka, penanaman empati, keterampilan pemecahan masalah, kemampuan mendengarkan serta latihan mindfulness, anak dapat belajar menyelesaikan perselisihan dengan lebih bijak. Dengan pendampingan yang tepat, anak tidak hanya mampu menjaga hubungan pertemanan, tetapi juga mengembangkan kepercayaan diri dan kesehatan mental yang lebih baik.