Ramadan Lebih Mindful, Arab Saudi Gaungkan Gaya Hidup Minim Limbah Makanan

Anisha Saktian PutriDiterbitkan 18 Maret 2026, 17:00 WIB

Fimela.com, Jakarta - Selama Ramadan, meja makan hingga buffet hotel di Arab Saudi dipenuhi hidangan berlimpah, terutama saat iftar dan sahoor. Namun di balik kemewahan sajian tersebut, kini mulai tumbuh kesadaran baru: bagaimana tetap menjaga semangat berbagi tanpa berujung pada pemborosan makanan.

Dilansir dari Arab News, sejumlah pelaku industri makanan hingga perhotelan di Arab Saudi mulai mengubah cara pandang mereka terhadap konsumsi selama bulan suci. Ramadan yang identik dengan kelimpahan kini juga menjadi momen untuk menerapkan gaya hidup lebih berkelanjutan.

Salah satu inisiatif datang dari platform food-tech Barakah. Platform ini memiliki misi untuk membantu bisnis kuliner mengurangi limbah makanan dengan menyediakan saluran bagi restoran, toko roti, hingga supermarket untuk menjual makanan berlebih dengan harga lebih terjangkau, alih-alih dibuang.

Co-founder Barakah, Rabah Habiss, mengungkapkan bahwa Ramadan menjadi waktu yang paling tepat untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga keberkahan makanan. Melalui kolaborasi dengan General Food Security Authority lewat program Letadom, Barakah juga menghadirkan edukasi interaktif seputar praktik konsumsi berkelanjutan yang selaras dengan nilai-nilai Islam.

Menariknya, Barakah juga mengajak masyarakat untuk lebih dekat dengan sumber makanan melalui kampanye “Eat it From Your Hands”, yakni menanam bahan makanan sendiri sebelum akhirnya diolah. Konsep sederhana ini dinilai mampu mengurangi pemborosan sekaligus meningkatkan apresiasi terhadap makanan.

What's On Fimela
2 dari 2 halaman

Sustainable di Hotel saat Ramadan

Masjid Nabawi di Arab Saudi/Photo by Yasmine Arfaoui on Unsplash

Di sisi lain, industri perhotelan juga turut beradaptasi. Hotel seperti Rixos Obhur Jeddah menerapkan strategi berbasis data untuk mengontrol produksi makanan. Mulai dari memasak dalam jumlah bertahap, menghadirkan live cooking station, hingga memantau limbah makanan setiap hari demi meminimalkan sisa makanan.

Hal serupa juga dilakukan oleh Mövenpick Hotel Tahlia Jeddah yang mengandalkan perencanaan menu berdasarkan pola konsumsi tamu. Selain itu, mereka juga mengedepankan penggunaan bahan lokal, mengurangi plastik sekali pakai, hingga memanfaatkan teknologi digital untuk menekan penggunaan kertas.

Tak hanya soal operasional, edukasi kepada masyarakat juga menjadi kunci. Peneliti keberlanjutan, Dr. Ahmed Al-Qahtani, menilai Ramadan sebagai momentum penting untuk membentuk kebiasaan baru yang lebih bijak. Mulai dari merencanakan menu, menyimpan makanan dengan benar, hingga memanfaatkan sisa makanan secara kreatif.

Pada akhirnya, Ramadan bukan hanya tentang kelimpahan hidangan, tetapi juga tentang bagaimana menjaga keseimbangan antara berbagi dan tanggung jawab. Semangat berbagi tetap bisa berjalan seiring dengan gaya hidup yang lebih mindful dan berkelanjutan—sebuah refleksi baru yang membuat makna Ramadan semakin dalam.