Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, di tengah banyaknya kolaborasi fashion yang terus bermunculan, Weaving The Sky hadir dengan pendekatan yang terasa lebih dekat dan bermakna. Digelar pada 31 Maret 2026 di Savyavasa Marketing Gallery, Jakarta, acara ini tidak hanya menampilkan karya, tapi juga membawa cerita yang lebih dalam di balik setiap detailnya.
Kolaborasi ini mempertemukan Cita Tenun Indonesia dan One Fine Sky, dua organisasi nirlaba dengan fokus yang berbeda, namun punya tujuan yang sama yaitu menghadirkan kualitas hidup yang lebih baik.
Cita Tenun Indonesia konsisten melestarikan tenun sebagai warisan budaya, sementara One Fine Sky bergerak membantu akses pendidikan anak-anak di berbagai daerah di Indonesia. Dari pertemuan dua visi ini, lahirlah Weaving The Sky. Sebuah kolaborasi yang terasa hangat, karena menghubungkan budaya, kreativitas, dan kepedulian dalam satu ruang yang sama.
Mengangkat Tenun Lewat Cara yang Lebih Dekat
Menariknya, dalam acara ini tenun tidak hadir dalam bentuk yang terlalu formal. Justru sebaliknya, kain tradisional ini diaplikasikan ke dalam t-shirt, item yang lebih kasual dan akrab dengan keseharian.
Sebanyak 13 desainer Indonesia yang merupakan mitra Cita Tenun Indonesia ikut terlibat, di antaranya Alto Project, Danjyo Hiyoji, Danny Satriadi, Jeffry Tan, hingga Wilsen Willim. Masing-masing membawa sentuhan khasnya, namun tetap menjadikan tenun sebagai pusat perhatian.
Pendekatan ini terasa segar. Tenun yang selama ini identik dengan tampilan yang lebih “berat”, di sini justru tampil lebih ringan, fleksibel, dan mudah dipadukan. Sahabat Fimela pun bisa melihat bagaimana tenun bisa masuk ke gaya sehari-hari tanpa terasa berlebihan.
Ragam Tenun Nusantara dalam Satu Koleksi
Koleksi yang ditampilkan juga menghadirkan beragam tenun dari berbagai daerah di Indonesia. Mulai dari Sumba Timur, Jepara, Putussibau di Kalimantan Barat, Sambas, Lombok, Garut, Sulawesi Tenggara, Bali, hingga Makassar.
Setiap kain tentu punya karakter yang berbeda, baik dari motif, warna, hingga teknik pembuatannya. Dalam kolaborasi ini, keunikan tersebut tetap dipertahankan, sehingga setiap piece terasa punya identitasnya sendiri.
Tidak hanya sekadar tampil menarik, setiap t-shirt juga membawa cerita dari daerah asalnya. Ini menjadi cara yang lebih ringan untuk mengenalkan kembali tenun kepada generasi sekarang.
Fashion yang Juga Punya Dampak Nyata
Di balik tampilannya yang kasual dan modern, Weaving The Sky juga membawa misi sosial yang kuat. Setiap t-shirt hasil kolaborasi ini akan dikonversikan menjadi satu set seragam sekolah lengkap untuk anak-anak yang membutuhkan.
Program ini sejalan dengan perjalanan One Fine Sky sejak 2017, yang telah mendistribusikan lebih dari 29 ribu seragam ke berbagai daerah terpencil di Indonesia. Lewat konsep ini, fashion tidak hanya berhenti pada estetika, tapi juga menjadi bagian dari aksi nyata.
Bagi anak-anak penerima, seragam sekolah bukan hanya soal pakaian, tapi juga soal rasa percaya diri dan semangat untuk belajar.
Menghubungkan Banyak Cerita dalam Satu Kolaborasi
Weaving The Sky juga menjadi ruang yang mempertemukan banyak pihak. Mulai dari para perajin yang menjaga tradisi tenun, desainer yang mengolahnya menjadi karya, hingga masyarakat yang ikut mendukung melalui pilihan yang mereka pakai.
Cita Tenun Indonesia sendiri telah membina perajin di 28 kabupaten dan 14 provinsi, memastikan tenun tetap berkembang dan relevan. Sementara One Fine Sky membawa kolaborasi ini ke arah yang lebih luas dengan dampak sosial yang nyata.
Sahabat Fimela, kolaborasi ini terasa sederhana, tapi punya makna yang panjang. Dari selembar kain, proses kreatif, hingga kontribusi untuk pendidikan, semuanya terhubung dalam satu cerita yang sama.
Dan mungkin dari sini, kita jadi melihat bahwa apa yang kita pakai hari ini, bisa punya arti lebih dari sekadar gaya.
Penulis: Siti Nur Arisha