Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, menjadi seorang working mom memang tidaklah mudah. Para working mom harus membagi waktunya antara bekerja dan mengurus anak. Selain itu, seringkali pada working mom juga merasa kesulitan untuk membangun kedekatan dengan anaknya. Agar working mom bisa menjadi lebih dekat dengan anak, mereka bisa menerapkan pola asuh anak dengan cara gentle parenting.
Dilansir dari pampers.com, gentle parenting merupakan salah satu cara untuk melakukan pola asuh yang penuh kasih sayang dalam menekankan empati dan rasa hormat. Berbeda dengan pola asuh lainnya, gentle parenting mendorong orangtua berperan dalam membimbing anak melalui komunikasi terbuka dan menetapkan batasan yang jelas. Tujuannya tidak hanya membuat anak patuh, tetapi juga membimbing mereka dengan dukungan agar bisa belajar mengendalikan diri, memahami perasaan orang lain, dan bertanggung jawab.
Pola asuh gentle parenting ini dapat mempererat hubungan antara orangtua dan anak. Lalu, bagaimana cara menerapkan gentle parenting agar anak bisa tumbuh dengan penuh kasih sayang? Berikut beberapa tips yang bisa Sahabat Fimela coba untuk menerapkan pola asuh gentle parenting.
Cara Menerapkan Gentle Parenting sebagai Pola Asuh kepada Anak
1. Membangun rutinitas yang konsisten
Bagi working mom, rutinitas menjadi berharga karena waktu bersama anak terbatas. Dengan jadwal yang jelas, seperti waktu bangun, makan, bermain, dan tidur, anak menjadi tidak mudah rewel atau bingung. Hal ini juga meminimalkan konflik di rumah, terutama saat ibu sedang lelah sepulang kerja. Rutinitas yang konsisten membuat anak lebih kooperatif karena mereka sudah memahami alur kegiatan harian tanpa harus selalu diingatkan atau dimarahi.
2. Memberikan apresiasi pada perilaku positif
Untuk working mom, cara ini sangat efektif karena tidak membutuhkan waktu lama, tetapi berdampak besar. Misalnya, mengucapkan “terima kasih” dapat membuat anak merasa dihargai. Selain itu, anak pun akan lebih termotivasi untuk mengulang perilaku positif tersebut. Pendekatan ini membantu membangun suasana rumah yang lebih positif dan minim terjadinya konflik.
3. Berpikir sejenak sebelum merespon anak
Salah satu tips penting adalah berhenti sejenak dan bernapas sebelum bereaksi. Hal ini sangat relevan untuk working mom yang sering mengalami kelelahan. Ketika anak berperilaku tidak sesuai, reaksi spontan yang emosional bisa memperburuk situasi. Dengan mengambil jeda sejenak, Sahabat Fimela bisa merespons dengan lebih tenang dan bijak. Selain itu, anak juga belajar dari contoh tersebut bahwa emosi sebaiknya perlu untuk dikelola dan tidak diluapkan secara langsung.
4. Mengajak anak mencari solusi bersama
Pendekatan gentle parenting sangat membantu working mom karena tidak hanya menyelesaikan masalah saat itu, tetapi juga melatih anak menjadi lebih mandiri. Contohnya, ketika anak sulit untuk mengerjakan tugas mereka, ibu bisa bertanya, “Apa yang bisa kita lakukan supaya tugas cepat selesai?” Dengan cara ini, anak merasa dihargai dan belajar bertanggung jawab atas perilakunya.
5. Merayakan setiap hal kecil
Pentingnya untuk selalu menghargai perkembangan kecil anak sebagai bagian dari proses belajar. Hal tersebut bisa membantu mengubah fokus dari “anak harus sempurna” menjadi “anak sedang belajar.” Misalnya, ketika anak mulai membereskan mainan meski belum rapi, itu sudah merupakan kemajuan. Sikap ini membuat working mom menjadi lebih sabar dan anak merasa lebih percaya diri dalam mencoba hal baru.
6. Memulai dari langkah kecil yang konsisten
Dalam gentle parenting, cara menerapkan pola asuh tidak harus sempurna, tetapi perlu konsistensi. Sahabat Fimela tidak perlu langsung menerapkan semua prinsip sekaligus. Cukup mulai dari satu kebiasaan kecil seperti berbicara dengan lebih tenang atau lebih sering mendengarkan anak. Seiring waktu, kebiasaan ini akan menjadi pola yang alami dalam pengasuhan sehari-hari.
Sahabat Fimela, menjadi working mom memang penuh tantangan, terutama dalam membagi waktu dan membangun kedekatan dengan anak. Namun, melalui penerapan gentle parenting, hubungan yang hangat dan penuh kasih tetap bisa tercipta meskipun waktu bersama terbatas. Dengan mengedepankan empati, komunikasi yang terbuka, serta konsistensi dalam pola asuh, anak tidak hanya tumbuh menjadi pribadi yang patuh, tetapi juga mampu mengelola emosi, memahami orang lain, dan bertanggung jawab.