Sukses

FimelaMom

Cara Lembut Menetapkan Batas dengan Metode Parenting “Pause and Connect” saat Marah

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, menghadapi anak yang sedang marah seringkali menjadi momen paling menantang dalam proses parenting. Di satu sisi, orangtua ingin memahami perasaan anak. Namun di sisi lain, batasan tetap perlu ditegakkan agar anak merasa aman dan terarah.

Di sinilah metode parenting pause and connect hadir sebagai pendekatan yang penuh empati sekaligus tegas dengan cara yang sehat. Dilansir dari journeyintoparenting.com, metode ini mengajak orangtua untuk berhenti sejenak sebelum bereaksi, lalu membangun koneksi emosional dengan anak, terutama saat emosi sedang memuncak.

Kapan Orangtua Perlu Menetapkan Batasan?

Menetapkan batasan bukan berarti bersikap keras. Justru, batasan diperlukan ketika tidak melakukannya berpotensi menimbulkan dampak negatif, baik bagi anak maupun orangtua. Misalnya, ketika anak kesulitan mengatur konsumsi gula, terlalu lama di depan layar, atau melakukan aktivitas yang berisiko.

Tanpa batasan yang jelas, orang tua bisa tanpa sadar menekan perasaan sendiri. Dalam jangka panjang, emosi yang terpendam ini dapat berubah menjadi kemarahan yang meledak dan merusak hubungan dengan anak. Batasan yang sehat justru menciptakan rasa aman dan kasih sayang.

 

 

Pause and Connect: Kunci Menghadapi Anak Saat Marah

Metode parenting pause and connect dimulai dari kesadaran diri orangtua. Saat anak marah, alih-alih langsung menegur atau melarang, orangtua diajak untuk:

1. Pause :  Berhenti Sejenak dan Terhubung dengan Diri Sendiri

Tarik napas, rasakan emosi yang muncul, dan dengarkan sinyal dari tubuh. Perasaan tidak nyaman di perut atau dada sering kali menjadi tanda bahwa sebuah batas perlu ditegakkan.

2. Connect : Bangun Koneksi Emosional dengan Anak

Datangi anak dengan kehangatan, bukan kemarahan. Tatap mata mereka, gunakan nada suara yang lembut, dan hadir secara emosional.

3. Validasi Perasaan Anak

Akui kebutuhan atau keinginan mereka. Misalnya, dengan berkata “Ayah tahu kamu sangat ingin biskuit itu,” atau “Ibu paham kamu masih ingin bermain karena tadi menyenangkan.”

4. Jelaskan Alasan dengan Tenang

Sampaikan batasan secara jelas namun penuh empati. “Kita perlu menjaga pola makan seimbang karena hari ini kamu sudah makan es krim,” atau “Ibu khawatir barang-barang di ruang tamu bisa rusak.”

5. Tenangkan Emosi Tanpa Mengubah Batasan

Perasaan anak boleh hadir, tetapi batas tetap dijaga. Dampingi anak melewati kekecewaannya.

6. Cari Alternatif Bersama Jika Memungkinkan

Ajak anak berdiskusi untuk menemukan solusi yang sama-sama nyaman.

 

 

Mengapa Batasan Justru Membentuk Anak yang Berempati?

Penelitian menunjukkan bahwa anak dengan tingkat kesejahteraan emosional tinggi biasanya tumbuh bersama orangtua yang hangat namun konsisten dalam menetapkan batasan. Batasan membantu anak belajar tanggung jawab secara bertahap, tanpa merasa terbebani terlalu dini.

Melibatkan anak dalam pengambilan keputusan seperti mengatur waktu layar atau membantu pekerjaan rumah juga membantu mereka mengembangkan rasa kompeten dan percaya diri.

Hindari Toxic Shame, Bangun Kesadaran Sehat

Saat menetapkan batas, penting bagi orangtua untuk menghindari label negatif seperti “malas”, “nakal”, atau “keras kepala”. Kata-kata ini dapat menumbuhkan toxic shame, yang membuat anak merasa dirinya tidak cukup baik.

Sebaliknya, healthy shame membantu anak memahami konsekuensi dari tindakannya, belajar memperbaiki kesalahan, dan tumbuh menjadi pribadi yang berempati. Peran orangtua adalah mendampingi anak melewati proses ini dengan aman dan penuh kasih.

 

 

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading