5 Cara Mengontrol Emosi Saat Anak Melawan, Biar Orangtua Tetap Tenang dan Anak Lebih Kooperatif

Siti Nur ArishaDiterbitkan 02 Oktober 2026, 16:00 WIB

Fimela.com, Jakarta - Menghadapi anak yang tiba-tiba menolak, membantah, atau bahkan tantrum di saat kita sedang lelah memang bisa terasa sangat menguras emosi. Tidak jarang, situasi sederhana seperti waktu mandi atau berangkat sekolah berubah menjadi ajang tarik ulur yang membuat orangtua ikut terpancing emosi. Padahal, reaksi kita justru sangat menentukan bagaimana situasi itu berkembang.

Faktanya, perilaku “melawan” pada anak bukan semata-mata bentuk pembangkangan. Ini adalah bagian dari proses tumbuh kembang, di mana anak mulai menyadari bahwa dirinya adalah individu yang punya keinginan sendiri. Sayangnya, tanpa pengelolaan emosi yang tepat, momen ini bisa berubah menjadi konflik berkepanjangan antara orangtua dan anak.

Dilansir dari MindChamps Australia, kebutuhan akan kendali atau “power” sudah mulai muncul sejak usia dini. Karena itu, penting bagi orangtua untuk tidak hanya fokus mengatur anak, tetapi juga mampu mengontrol emosi diri sendiri agar tidak terjebak dalam power struggle yang melelahkan.

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

1. Jangan Terpancing, Belajar “Menghindar” dari Power Struggle

Saat anak mulai berkata “tidak” dengan nada menantang, respons pertama yang paling penting adalah tetap tenang. Mengontrol emosi di momen ini bukan berarti mengalah, tetapi memilih untuk tidak masuk ke dalam konflik. (foto/dok: freepik)

Saat anak mulai berkata “tidak” dengan nada menantang, respons pertama yang paling penting adalah tetap tenang. Mengontrol emosi di momen ini bukan berarti mengalah, tetapi memilih untuk tidak masuk ke dalam konflik.

Alih-alih memaksa atau membalas dengan nada tinggi, coba ubah pendekatan menjadi lebih ringan. Misalnya, daripada memaksa anak mandi, beri pilihan dengan cara yang santai. Ini membantu meredakan ketegangan sekaligus menjaga hubungan tetap hangat.

2. Tarik Napas, Lalu Berikan Pilihan

Saat emosi mulai naik, berhenti sejenak dan tarik napas sebelum merespons. Setelah itu, berikan anak pilihan yang tetap berada dalam kendali Sahabat Fimela.

Misalnya, “Kamu mau pakai sepatu yang merah atau yang biru?” Dengan cara ini, anak tetap merasa punya kendali, sementara kamu tetap mengarahkan situasi. Strategi ini efektif untuk meredam konflik tanpa harus adu emosi.

3. Ubah Larangan Menjadi Arahan Positif

Sering kali, tanpa sadar kita menggunakan kalimat larangan seperti “Jangan lari!” atau “Jangan berisik!”. Padahal, kalimat seperti ini justru bisa membuat anak bingung dan memicu penolakan.

Coba ubah menjadi kalimat yang lebih jelas dan positif, seperti “Jalannya pelan ya” atau “Kita bicara pelan-pelan”. Selain lebih mudah dipahami, cara ini juga membantu kamu tetap berbicara dengan nada yang lebih tenang.

3 dari 3 halaman

4. Salurkan Kebutuhan Anak untuk “Berkuasa”

Sahabat Fimela, anak yang sedang berada dalam fase ini sebenarnya hanya ingin merasa punya peran dan kendali. Jadi, daripada melawan, cobalah memberikan “kekuasaan kecil” yang positif. (foto/dok: freepik)

Sahabat Fimela, anak yang sedang berada dalam fase ini sebenarnya hanya ingin merasa punya peran dan kendali. Jadi, daripada melawan, cobalah memberikan “kekuasaan kecil” yang positif.

Misalnya, minta ia membantu memastikan sabuk pengaman sudah terpasang atau memilih baju sendiri. Dengan begitu, anak merasa dihargai dan kamu tidak perlu menghadapi perlawanan yang menguras emosi.

5. Ajarkan Cara Menolak dengan Baik

Mengontrol emosi juga berarti tidak langsung bereaksi negatif saat anak berkata “tidak”. Justru, ini momen yang tepat untuk mengajarkan cara menyampaikan penolakan dengan sopan.

Bimbing anak untuk mengatakan alasan dengan baik, seperti “Aku belum mau sekarang, boleh nanti?” Dengan begitu, anak belajar berkomunikasi tanpa harus melawan, dan Sahabat Fimela pun bisa merespons dengan lebih tenang.

Menghadapi power struggle memang tidak mudah, tetapi bukan berarti harus selalu berakhir dengan konflik. Saat orangtua mampu mengontrol emosi, anak pun akan belajar bagaimana menghadapi situasi dengan lebih baik. Kuncinya bukan pada siapa yang menang, tetapi bagaimana hubungan tetap terjaga dengan penuh rasa saling menghargai.

Penulis: Siti Nur Arisha