6 Tips Mengajarkan Anak Mengatasi Rasa Takut yang Berlebihan

hilya KamilaDiterbitkan 30 Juni 2026, 09:00 WIB

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, pernah melihat anak yang ketakutan saat mati lampu? Atau ketika mereka mendengar bunyi petir? Rasa takut merupakan bagian yang tak dapat terpisahkan dari anak. Namun, orangtua sulit untuk mengatasi rasa takut pada anak. Tips parenting sederhana yang bisa dilakukan orangtua adalah menenangkan si kecil ketika mereka merasa takut.

Dilansir dari childmind.org, ketika rasa takut pada anak muncul, orangtua biasanya mencoba untuk menenangkan dan menghibur. Tips parenting yang lain adalah orangtua tidak bisa selalu berada disamping anak untuk menenangkan mereka saat ketakutan. Ada masanya ketika anak harus mengatasi rasa takut itu dengan diri sendiri, tanpa orangtua yang membantu.

Itulah sebabnya, orangtua perlu untuk membantu anak membangun kepercayaan diri dan kemandirian agar mereka bisa mengendalikan diri ketika merasa takut. Lalu, bagaimana cara agar orangtua bisa mengajarkan anak mengatasi rasa takut dengan tepat? Yuk simak pembahasan berikut agar Sahabat Fimela bisa membantu anak mengatasi ketakutan mereka dengan mandiri.

2 dari 3 halaman

Cara Membantu untuk Mengatasi Rasa Takut pada Anak

Self-regulation bisa membantu anak untuk mengenali rasa takut, menenangkan diri, dan tetap mencoba meski merasa tidak nyaman. (Foto/dok: Freepik/stockking)

1. Melatih anak self-regulation

Tujuan utama orang tua bukan membuat rasa takut anak hilang seketika, tetapi membantu mereka belajar menghadapinya sendiri. Kemampuan ini dikenal sebagai self-regulation, yaitu saat anak bisa mengenali rasa takut, menenangkan diri, dan tetap mencoba meski merasa tidak nyaman. Pada kenyataannya, kemampuan ini tidak muncul begitu saja. Bahkan, anak perlu belajar dan berlatih. Selain itu, Sahabat Fimela perlu memberi sedikit ruang untuk anak secara perlahan agar dapat memahami bahwa rasa takut itu bisa dihadapi dan tidak selalu berbahaya. Intinya, rasa takut bukan sesuatu yang harus dihindari, tetapi bagian dari proses anak menjadi lebih berani.

2. Ajak anak bercerita tentang hal yang membuatnya takut

Meskipun sering dianggap sepela, membantu anak mengungkapkan ketakutannya adalah langkah penting. Sebenarnya, banyak anak yang merasa takut, tetapi tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Di sinilah peran orang tua dibutuhkan. Cobalah bertanya dengan lembut dan spesifik seperti, “Apa yang bikin kamu takut?” Pertanyaan tersebut membantu anak mengenali dan memahami perasaannya sendiri. Saat rasa takut bisa diungkapkan dengan jelas, biasanya terasa lebih ringan dan lebih mudah dicari jalan keluarnya. Selain itu, orangtua juga jadi lebih paham apa yang sebenarnya terjadi di balik rasa takut tersebut. Entah itu karena pengalaman, imajinasi atau hal lainnya.

3. Hargai perasaan anak, jangan diremehkan

Ketika anak merasa takut, hal terpenting yang bisa dilakukan orangtua adalah menunjukkan bahwa perasaan itu valid. Hindari merespons dengan kalimat seperti, “Ah, itu nggak apa-apa” atau “Jangan lebay.” Walaupun tujuannya berusaha untuk menenangkan, kalimat seperti ini justru bisa membuat anak merasa tidak dipahami. Sebaiknya, cobalah merespon anak dengan empati, seperti, “Iya, pasti rasanya takut ya” atau “Wajar kok kamu merasa seperti itu.” Respon sederhana ini bisa membuat anak merasa didengar dan lebih aman secara emosional. Perlu diingat, memvalidasi bukan berarti membenarkan ketakutannya, tetapi mengakui bahwa perasaan tersebut nyata.

3 dari 3 halaman

4. Hadapi rasa takut secara bertahap

Melatih mengatasi rasa takut pada anak bisa dilakukan secara bertahap. (Foto/dok: Freepik)

Mengatasi rasa takut tidak perlu dilakukan secara drastis. Justru, pendekatan bertahap jauh lebih efektif. Anak diajak menghadapi ketakutannya sedikit demi sedikit. Contohnya, jika anak takut tidur sendiri, Sahabat Fimela bisa dimulai dengan ditemani, lalu perlahan menjauh hingga akhirnya anak terbiasa tidur sendiri. Setiap langkah kecil ini memberi pengalaman positif yang membangun kepercayaan diri. Dengan cara ini, anak tidak merasa dipaksa, tetapi tetap bergerak maju. 

5. Beri dukungan dan apresiasi pada setiap usaha

Setiap usaha anak untuk menghadapi rasa takut layak diapresiasi, sekecil apa pun. Fokuslah pada proses, bukan hanya hasil akhir. Misalnya, katakan, “Kamu tadi sudah berani mencoba, itu hebat,” meskipun anak belum sepenuhnya berhasil. Dukungan seperti ini membuat anak merasa dihargai dan lebih percaya diri untuk mencoba lagi. Pujian yang tepat juga membantu anak memahami bahwa keberanian bukan sesuatu yang instan, tetapi sesuatu yang dibangun dari usaha yang terus-menerus.

6. Ketahui kapan perlu bantuan profesional

Tidak semua rasa takut perlu dikhawatirkan. Namun, ada kondisi tertentu yang perlu mendapat perhatian lebih.Jika rasa takut anak terasa berlebihan, berlangsung lama, mengganggu aktivitas sehari-hari, atau membuat anak terus menghindari banyak hal, bisa jadi ini tanda masalah yang lebih serius. Dalam situasi seperti ini, tidak ada salahnya Sahabat Fimela berkonsultasi dengan psikolog anak. Bantuan profesional dapat membantu anak mengelola kecemasan dengan cara yang lebih tepat.

Sahabat Fimela, sebagai orangtua, penting untuk memahami bahwa rasa takut pada anak adalah hal yang wajar dan tidak harus selalu dihilangkan, melainkan dibimbing agar bisa dikelola dengan baik. Melalui pendampingan yang tepat, anak akan belajar menjadi lebih percaya diri dan mandiri. Dukungan serta apresiasi dari orangtua juga berperan besar dalam proses ini, sekaligus membantu anak melihat bahwa keberanian adalah hasil dari usaha yang terus dilakukan. Dengan pendekatan yang konsisten, anak tidak hanya mampu mengatasi rasa takutnya, tetapi juga tumbuh lebih kuat secara emosional dalam jangka panjang.