Sukses

FimelaMom

6 Cara Mengurangi Screen Time pada Anak yang Tanpa Drama Menurut Ahli

Fimela.com, Jakarta - Gawai sudah menjadi bagian dari keseharian keluarga modern. Mulai dari belajar, menonton video edukasi, hingga bermain gim, layar sering kali menjadi teman anak di berbagai situasi. Namun, ketika durasi screen time semakin sulit dikendalikan, banyak orangtua mulai bertanya-tanya: bagaimana cara menguranginya tanpa memicu konflik?

Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwan screen time berlebihan pada anak dapat memengaruhi berbagai aspek tumbuh kembang, mulai dari kemampuan bahasa, konsentrasi, hingga kualitas tidur.

Sebuah tinjauan ilmiah yang dipublikasikan dalam JAMA Pediatrics menemukan bahwa screen time yang lebih tinggi pada anak usia dini berkaitan dengan meningkatnya risiko keterlambatan perkembangan, terutama pada kemampuan komunikasi dan pemecahan masalah. Sementara itu, American Academy of Pediatrics (AAP) juga mengingatkan bahwa kualitas interaksi langsung antara anak dan orangtua tetap menjadi faktor utama dalam mendukung perkembangan kognitif maupun sosial-emosional anak.

Lantas, bagaimana cara mengurangi screen time tanpa membuat anak merasa dihukum?

 

1. Jangan Langsung Melarang, Kurangi Secara Bertahap

Menghilangkan akses gadget secara mendadak justru sering memicu penolakan. Orangtua dapat mulai dengan mengurangi durasi penggunaan sedikit demi sedikit, misalnya 15–30 menit setiap beberapa hari hingga anak terbiasa dengan rutinitas baru.

Pendekatan bertahap membantu anak beradaptasi tanpa merasa kehilangan aktivitas yang mereka sukai.

2. Hadirkan Aktivitas yang Lebih Menarik

Anak tidak akan berhenti bermain gadget jika tidak memiliki alternatif yang sama menariknya.

Cobalah mengajak mereka menggambar, bermain balok, memasak bersama, berkebun, atau membaca buku dengan cara yang menyenangkan. Ketika aktivitas baru terasa seru, perhatian anak akan beralih secara alami dari layar.

3. Jadikan Membaca sebagai Aktivitas Bersama

Membacakan buku sebelum tidur masih menjadi salah satu kebiasaan sederhana yang direkomendasikan banyak ahli perkembangan anak.

Selain membantu memperkaya kosakata, aktivitas ini juga mempererat hubungan emosional antara orangtua dan anak. Momen membaca bersama memberi ruang bagi anak untuk bertanya, berdiskusi, dan berimajinasi—sesuatu yang sulit diperoleh dari konsumsi konten digital yang pasif.

 

 

4. Pilih Buku yang Mengajak Anak Aktif

Tidak semua anak langsung tertarik membaca buku konvensional. Karena itu, buku interaktif dapat menjadi jembatan yang menyenangkan.

Berbeda dengan hiburan digital yang cenderung membuat anak menjadi penonton, buku interaktif mengajak mereka menyentuh, mendengarkan, menjawab pertanyaan, hingga mengeksplorasi cerita secara aktif. Pendekatan multisensori ini membantu anak lebih fokus sekaligus membuat proses belajar terasa seperti bermain.

Melihat kebutuhan tersebut, inovasi buku anak juga terus berkembang. Salah satunya dilakukan Ziyadbooks yang menghadirkan berbagai lini soundbook, yakni buku fisik yang dipadukan dengan teknologi audio interaktif untuk membantu anak belajar doa, bahasa, sains, maupun pengetahuan umum dengan cara yang lebih menyenangkan.

Alih-alih memosisikan teknologi sebagai lawan literasi, pendekatan ini justru memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan pengalaman membaca tanpa membuat anak terus bergantung pada layar.

5. Orangtua Juga Perlu Memberi Contoh

Anak belajar melalui apa yang mereka lihat setiap hari.

Jika orang ua terus memegang ponsel saat makan atau ketika sedang bersama keluarga, anak akan menganggap kebiasaan tersebut sebagai hal yang normal. Menyediakan waktu bebas gawai (screen-free time), misalnya saat makan malam atau satu jam sebelum tidur, dapat menjadi contoh sederhana yang efektif.

6. Fokus pada Kualitas, Bukan Sekadar Durasi

Tidak semua screen time memiliki dampak yang sama. Video edukasi yang ditonton bersama orangtua tentu berbeda dengan anak yang menghabiskan waktu berjam-jam menggulir konten sendirian.

AAP menyarankan agar orangtua lebih memperhatikan kualitas konten, keterlibatan saat anak mengakses media digital, serta memastikan waktu layar tidak mengganggu aktivitas penting lain seperti tidur, bermain aktif, belajar, dan berinteraksi dengan keluarga.

 

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading