Sering Menyipitkan Mata? Kenali 13 Gejala Awal Refraksi Miopia yang Wajib Kamu Tahu

Anisha Saktian PutriDiterbitkan 28 April 2026, 16:24 WIB

ringkasan

  • Refraksi miopia ditandai oleh penglihatan kabur pada objek jauh dan berbagai gejala lain seperti sering menyipitkan mata, sakit kepala, serta mata lelah.
  • Deteksi dini dan penanganan yang tepat untuk refraksi miopia, terutama pada anak-anak, sangat krusial untuk mencegah perkembangan miopia tinggi dan komplikasi serius.
  • Pemeriksaan oleh dokter spesialis mata sangat dianjurkan untuk diagnosis akurat dan penanganan yang sesuai, menghindari risiko dari penggunaan kacamata atau obat mata yang tidak tepat.

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, apakah kamu sering merasa kesulitan melihat objek yang berada jauh di depan? Kondisi ini dikenal sebagai refraksi miopia atau rabun jauh, di mana penglihatan jarak dekat jelas namun jarak jauh justru terlihat kabur. Kelainan refraksi ini terjadi ketika cahaya yang masuk ke mata tidak dapat difokuskan dengan benar pada retina, melainkan jatuh di depannya.

Gejala awal refraksi miopia seringkali tidak disadari, terutama pada anak-anak. Padahal, deteksi dini sangat krusial untuk mencegah perkembangan kondisi yang lebih serius di kemudian hari. Mengabaikan tanda-tanda ini dapat memperburuk penglihatan dan memicu komplikasi yang tidak diinginkan.

Artikel ini akan mengupas tuntas berbagai gejala refraksi miopia yang perlu Sahabat Fimela waspadai, mulai dari yang paling umum hingga yang sering terlewat. Mari kita pahami pentingnya mengenali gejala ini dan segera mengambil tindakan yang tepat.

What's On Fimela
2 dari 4 halaman

Gejala Utama Refraksi Miopia yang Perlu Diwaspadai

Penglihatan kabur pada objek yang jauh merupakan gejala utama dari refraksi miopia. Seseorang dengan miopia akan melihat objek dekat dengan jelas, namun objek yang letaknya jauh akan tampak buram.

Selain penglihatan kabur, ada beberapa tanda lain yang mengindikasikan adanya refraksi miopia. Berikut adalah daftar komprehensif gejala yang perlu Sahabat Fimela perhatikan:

  • Penglihatan Kabur pada Objek Jauh: Gejala utama miopia adalah penglihatan kabur saat melihat objek yang jauh, sementara objek dekat terlihat jelas.
  • Sering Menyipitkan Mata: Individu dengan miopia sering menyipitkan mata atau menutup sebagian kelopak mata untuk mencoba melihat lebih jelas.
  • Sakit Kepala: Sakit kepala dapat terjadi akibat ketegangan mata yang berlebihan karena berusaha fokus pada objek jauh.
  • Ketegangan Mata (Eyestrain) atau Kelelahan Mata (Eye Fatigue): Mata terasa lelah atau tegang, terutama setelah mencoba melihat objek jauh dalam waktu lama.
  • Kesulitan Melihat di Malam Hari (Miopia Nokturnal): Penglihatan kabur dapat memburuk dalam kondisi cahaya redup atau di malam hari.
  • Sering Menggosok Mata: Terutama pada anak-anak, sering menggosok mata bisa menjadi indikasi adanya masalah penglihatan.
  • Gangguan Visual (Halos atau Penglihatan Ganda): Beberapa orang mungkin mengalami lingkaran cahaya (halos) di sekitar lampu atau penglihatan ganda.
  • Perubahan Penglihatan Bertahap: Penglihatan dapat memburuk secara bertahap, dengan objek jauh menjadi semakin kabur.
  • Postur Kepala Abnormal: Anak-anak mungkin memiringkan kepala atau mengadopsi postur kepala yang tidak biasa untuk mencoba melihat lebih baik.
  • Sering Berkedip: Terutama pada anak-anak, berkedip berlebihan bisa menjadi tanda kesulitan melihat.
  • Duduk Dekat TV atau Memegang Objek Dekat Wajah: Anak-anak mungkin menunjukkan perilaku ini karena kesulitan melihat objek jauh.
  • Tidak Menyadari Objek Jauh: Anak-anak mungkin tidak menyadari keberadaan objek yang berada di kejauhan.
  • Kesulitan Melihat Objek di Perifer (Penglihatan Tepi): Selain kesulitan melihat objek jauh, miopia juga dapat menyebabkan kesulitan melihat objek di penglihatan tepi.

Mengenali gejala-gejala ini sedini mungkin adalah langkah pertama yang penting. Jika Sahabat Fimela atau anggota keluarga mengalami beberapa gejala di atas, jangan tunda untuk memeriksakan diri ke profesional kesehatan mata.

3 dari 4 halaman

Mengapa Deteksi Dini Refraksi Miopia pada Anak Sangat Penting?

ilustrasi mata/unsplash

Refraksi miopia seringkali dimulai pada usia anak-anak dan remaja. Gejala seperti sering menyipitkan mata, duduk terlalu dekat saat menonton TV atau belajar, hingga keluhan sakit kepala dan mata lelah, kerap kali tidak disadari oleh orang tua sebagai tanda masalah penglihatan.

Menurut Dr. Susanti, SpM(K), M.Kes dari Rumah Sakit Mata Nasional Cicendo, miopia pada anak tidak cukup hanya dikoreksi dengan kacamata biasa. Penting untuk mendeteksi dan menanganinya sejak awal agar risiko gangguan penglihatan yang lebih serius di kemudian hari dapat ditekan.

Jika tidak ditangani dengan baik, miopia dapat berkembang menjadi miopia tinggi, yaitu minus 6 dioptri atau lebih. Kondisi ini berisiko memicu berbagai komplikasi serius seperti ablasio retina, glaukoma, katarak, hingga degenerasi makula miopia yang bisa menyebabkan kehilangan penglihatan permanen.

4 dari 4 halaman

Jangan Asal Beli Kacamata, Periksa Mata ke Ahli!

Membeli kacamata jadi atau yang dijual bebas tanpa mengetahui kondisi mata secara pasti malah bisa berujung masalah. Penggunaan kacamata yang tidak sesuai ukuran dapat menimbulkan keluhan seperti sakit kepala hingga memperburuk gangguan penglihatan.

Dokter spesialis mata Muznidah Z. Ahmad mengingatkan bahwa sering ditemukan pasien dengan keluhan gangguan penglihatan disertai sakit kepala, akibat memakai kacamata yang dibeli bebas atau tanpa pemeriksaan dokter ahli, padahal ukurannya belum tentu sesuai dengan kondisi mata.

Oleh karena itu, masyarakat yang memiliki gangguan penglihatan diimbau untuk memeriksakan diri ke dokter spesialis mata. Pemeriksaan ini akan membantu mengetahui permasalahan pada kondisi mata kanan dan mata kiri, serta mendapatkan diagnosis yang tepat sebelum menentukan jenis penanganan yang sesuai. Hindari membeli obat mata secara mandiri tanpa rekomendasi medis, karena penggunaan obat yang tidak tepat dapat menyebabkan efek samping dan berpotensi memperparah kondisi penyakit mata.