Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, siapa yang tidak pusing ketika melihat balita tantrum di tempat umum? Bahkan, sering kali balita mudah tantrum di saat yang tidak tepat, seperti momen berkumpul bersama kerabat. Hal itu membuat para orangtua merasa kewalahan untuk mengatasi balita yang tantrum. Itulah sebabnya, melalui parenting yang tepat, orangtua perlu untuk memahami penyebab dan solusi mengatasi balita yang tantrum.
Mengapa balita sering mengamuk atau tantrum? Dilansir dari pampers.com, amukan balita merupakan bagian normal dari perkembangan emosional mereka. Selain itu, sifat tantrum balita termasuk respon ketika mereka merasa lelah, lapar, atau tidak dapat memperoleh apa yang diinginkan. Bahkan, ketika orangtua berusaha menenangkan balita yang sedang mengamuk, tidak jarang reaksi mereka justru semakin parah. Oleh karena itu, sangat diperlukan metode parenting yang tepat untuk mengatasi balita saat tantrum.
Sementara itu, amukan balita bisa berupa teriakan, menangis, bahkan yang paling parah ketika mereka bereaksi dengan menendang atau memukul. Lalu, apa saja penyebab balita menjadi mudah tantrum dan bagaimana menenangkan mereka? Yuk simak pembahasan berikut agar tantruman si kecil tidak membuat Sahabat Fimela kewalahan dalam menghadapi mereka.
Mengapa Balita Bisa Sering Mengamuk atau Menjadi Tantrum?
1. Perkembangan otak yang masih belum sempurna
Sahabat Fimela, pada masa balita, otak anak masih berada dalam tahap perkembangan yang sangat pesat. Namun, bagian otak yang berfungsi untuk mengatur emosi, mengendalikan diri, serta berpikir tenang belum berkembang secara optimal. Sebaliknya, bagian otak yang memunculkan emosi seperti marah, sedih, kecewa, atau frustrasi justru berkembang lebih cepat. Inilah sebabnya balita sering menunjukkan reaksi emosional yang besar terhadap hal-hal kecil.
2. Kemampuan komunikasi yang terbatas
Balita sebenarnya sudah mulai memahami banyak hal, tetapi kemampuan berbicara mereka belum sepenuhnya mampu menggambarkan apa yang dirasakan. Saat merasa kecewa, lelah, marah, atau menginginkan sesuatu, mereka sering kesulitan memilih kata yang tepat untuk mengungkapkannya. Akibatnya, rasa frustrasi tersebut muncul dalam bentuk tangisan, berteriak, berguling di lantai, atau perilaku emosional lainnya. Tantrum sering menjadi cara balita “berkomunikasi” ketika mereka belum mampu menjelaskan perasaannya secara verbal.
3. Ingin melakukan banyak hal dengan mandiri
Memasuki usia dua tahun, anak mulai memiliki rasa ingin tahu dan keinginan untuk melakukan banyak hal sendiri. Mereka ingin makan tanpa bantuan, memakai sepatu sendiri atau memilih barang yang diinginkan. Sayangnya, kemampuan fisik dan keterampilan mereka belum selalu sesuai dengan keinginannya yang besar. Ketika gagal melakukan sesuatu, merasa dibatasi, atau tidak diperbolehkan melakukan hal tertentu, bisa memicu ledakan emosi atau tantrum secara tiba-tiba.
4. Kebutuhan fisiologis yang belum terpenuhi
Kondisi fisik juga sangat mempengaruhi emosi balita. Anak yang lapar, mengantuk, kelelahan, sakit atau terlalu banyak menerima stimulasi dari lingkungan biasanya lebih mudah rewel dan sensitif. Bahkan, perubahan rutinitas sederhana seperti jadwal tidur yang berubah atau suasana yang terlalu ramai, dapat membuat balita merasa tidak nyaman.
Cara Mengatasi Balita yang Tantrum dengan Tenang
1. Perhatikan suasana hati anak
Sahabat Fimela, kondisi emosional balita sangat berpengaruh terhadap perilakunya sehari-hari. Anak yang merasa terlalu lelah, cemas, bosan atau frustrasi biasanya lebih mudah mengalami tantrum. Itulah sebabnya, penting bagi orangtua untuk memperhatikan waktu istirahat anak dengan baik. Jika si kecil masih memiliki jadwal tidur siang, usahakan untuk mempertahankan rutinitas tersebut agar tubuh dan emosinya tetap stabil.
2. Coba pendekatan yang tidak membuat anak takut
Cara orangtua bersikap kepada anak ternyata juga mempengaruhi intensitas tantrum. Sikap yang terlalu keras dapat membuat balita merasa tertekan, sedangkan aturan yang terlalu longgar bisa membuat mereka kesulitan memahami batasan. Itulah sebabnya, penting untuk menerapkan pola pengasuhan yang seimbang. Dengan pendekatan yang hangat namun tegas, balita akan merasa lebih aman dan perlahan belajar memahami aturan tanpa merasa takut atau terancam.
3. Gunakan nada yang lembut saat menenangkan
Saat berbicara dengan balita, nada suara memiliki pengaruh besar terhadap respons emosinya. Ketika meminta anak melakukan sesuatu, seperti membereskan mainan atau berhenti bermain, cobalah menggunakan suara yang lembut dan penuh kesabaran. Selain membantu anak merasa lebih dihargai, cara ini juga mengajarkan mereka tentang pentingnya berbicara sopan kepada orang lain. Anak cenderung meniru cara orang tua berkomunikasi, sehingga penggunaan kata seperti “tolong” dan “terima kasih” dapat menjadi contoh positif dalam keseharian mereka.
4. Hindari memberikan reaksi yang berlebihan
Sahabat Fimela, fase balita sering kali membuat anak gemar mengatakan “tidak” terhadap berbagai hal. Ini sebenarnya merupakan bagian alami dari proses mereka belajar menunjukkan pendapat dan keinginan sendiri. Ketika menghadapi situasi seperti ini, usahakan untuk tetap tenang dan tidak langsung terpancing emosi. Reaksi orangtua yang terlalu emosional justru dapat membuat suasana semakin tegang dan memicu tantrum yang lebih besar. Sikap tenang dari orang tua akan membantu anak belajar mengelola emosinya secara perlahan.
Sahabat Fimela, tantrum pada balita sebenarnya merupakan bagian normal dari proses tumbuh kembang anak karena mereka masih belajar mengenali, mengendalikan, dan mengungkapkan emosinya. Kondisi otak yang belum berkembang sempurna, kemampuan komunikasi yang masih terbatas, keinginan untuk mandiri hingga rasa lapar atau lelah dapat memicu ledakan emosi pada si kecil. Dengan memahami penyebab tantrum dan menerapkan pola pengasuhan yang lembut namun tegas, balita akan belajar menenangkan diri dan mengelola emosinya secara perlahan seiring bertambahnya usia.