Fimela.com, Jakarta - Mencari kalimat sederhana yang bisa membuat anak merasa didengarkan tidak harus selalu menggunakan kata-kata panjang atau nasihat yang rumit. Terkadang, satu kalimat pendek seperti “Ceritakan sama Ibu” atau “Ayah dengar, kok” sudah cukup untuk menunjukkan bahwa perasaan dan cerita anak dianggap penting.
Anak memiliki cara berbeda dalam menyampaikan apa yang dirasakan. Ada yang langsung bercerita, ada pula yang lebih banyak diam, menangis, marah, atau menunjukkan perubahan perilaku. Respons orang tua pada momen-momen tersebut dapat memengaruhi keberanian anak untuk kembali berbicara ketika menghadapi masalah.
Mendengarkan juga bukan berarti selalu menyetujui keinginan anak. Orang tua tetap dapat memberikan batasan sambil mengakui perasaan mereka. Pendekatan seperti ini membantu percakapan terasa lebih aman, sehingga anak belajar bahwa emosinya boleh disampaikan dan masalah dapat dibicarakan bersama. Berikut 10 kalimat sederhana yang bisa membuat anak merasa didengarkan, dirangkum Liputan6.com, Senin (31/8/2026).
Advertisement
Advertisement
1. “Ceritakan sama Ibu/Ayah.”
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5441751/original/077518700_1765516997-medium-shot-woman-girl-playing-memory-game.jpg)
Kalimat sederhana ini memberi kesempatan kepada anak untuk menjelaskan sesuatu dari sudut pandangnya sendiri. Orang tua tidak langsung menyimpulkan atau menebak apa yang terjadi, tetapi memberikan ruang bagi anak untuk bercerita.
Motherly merekomendasikan ungkapan seperti “Tell me about...” atau “Ceritakan tentang...” karena membantu orang tua memahami situasi tanpa buru-buru membuat asumsi. Misalnya, ketika anak pulang sekolah dengan wajah murung, orang tua bisa berkata, “Ceritakan sama Ayah, tadi di sekolah bagaimana?”
Pertanyaan terbuka seperti ini juga dapat digunakan saat anak menunjukkan gambar, membuat sesuatu, atau bermain. Alih-alih langsung menebak, orang tua dapat bertanya tentang apa yang sedang dibuat atau dipikirkan anak.
2. “Ibu/Ayah dengar, kok.”
Anak terkadang tidak membutuhkan solusi secepatnya. Mereka hanya ingin mengetahui bahwa seseorang benar-benar memperhatikan ceritanya.
Childcare & Education Expo menjelaskan bahwa anak merasa dihargai ketika didengarkan. Mendengarkan dengan sungguh-sungguh dapat membantu membangun rasa percaya diri, kemandirian, dan kemampuan anak berkomunikasi.
Karena itu, kalimat “Ibu dengar, kok” sebaiknya disertai perilaku yang mendukung. Letakkan ponsel, hentikan aktivitas sejenak, lihat anak, dan biarkan ia menyelesaikan ceritanya.
3. “Kamu pasti kecewa, ya.”
Validasi emosi merupakan bagian penting dari komunikasi dengan anak. Kalimat ini tidak berarti orang tua membenarkan semua perilaku anak, melainkan mengakui bahwa perasaan yang sedang dialami memang nyata.
Dalam artikel CNBC, Kelsey Mora menjelaskan bahwa anak perlu merasa dilihat, didengar, dan dipercaya. Validasi membantu menciptakan rasa aman yang menjadi dasar untuk regulasi emosi, komunikasi, dan hubungan yang lebih baik.
Pada anak usia sekolah, misalnya, orang tua dapat mengatakan, “Kamu sudah menunggu lama, jadi kamu pasti kecewa ketika acaranya dibatalkan.”
Kalimat seperti ini menunjukkan bahwa orang tua berusaha memahami pengalaman anak sebelum mengarahkannya pada solusi.
4. “Bagaimana perasaanmu?”
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5561855/original/057168900_1776762752-2238.jpg)
Anak perlu belajar mengenali dan memberi nama pada emosinya. Pertanyaan sederhana “Bagaimana perasaanmu?” dapat menjadi pintu masuk untuk membicarakan hal tersebut.
Parents, mengutip psikolog Wendy Mogel, juga merekomendasikan pertanyaan mengenai perasaan anak. Pertanyaan ini memberi kesempatan kepada anak untuk berhenti sejenak dan merefleksikan apa yang sedang terjadi dalam dirinya.
Daripada langsung berkata, “Jangan marah,” orang tua dapat bertanya, “Kamu sedang marah atau kecewa?” Dari sana, anak perlahan belajar memahami perbedaan emosi.
5. “Bantu Ibu/Ayah memahami.”
Ketika anak melakukan sesuatu yang membingungkan, orang tua mungkin tergoda mengatakan, “Kenapa kamu melakukan itu?” dengan nada menghakimi.
Motherly menyarankan ungkapan “Help me understand...” karena kalimat tersebut menunjukkan bahwa orang tua ingin memahami situasinya, bukan sekadar mencari siapa yang salah.
Contohnya, “Bantu Ayah memahami apa yang terjadi tadi.” Kalimat tersebut dapat membuat anak merasa lebih aman untuk menjelaskan kejadian tanpa merasa langsung diadili.
6. “Ibu/Ayah melihat kamu sedang sedih.”
Mengungkapkan apa yang terlihat tanpa memberikan label negatif dapat menjadi cara sederhana untuk membuka percakapan.
Motherly merekomendasikan pendekatan “I see...” atau “Saya melihat...” untuk menggambarkan situasi secara netral. Misalnya, “Ibu melihat kamu kelihatan sedih,” bukan “Kamu dari tadi cemberut terus.”
Perbedaan kecil dalam pilihan kata tersebut dapat membuat suasana percakapan berubah. Anak mendapatkan kesempatan untuk mengonfirmasi apakah tebakan orang tua benar atau menjelaskan perasaannya sendiri.
Advertisement
7. “Aku di sini.”
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5403364/original/069446600_1762325396-side-view-father-daughter-eating-together-home.jpg)
Untuk anak kecil, kehadiran orang tua terkadang lebih penting daripada penjelasan panjang. CNBC secara khusus menyebut ungkapan “I’m right here” sebagai bentuk validasi yang sesuai untuk bayi dan balita. Pada usia tersebut, validasi lebih banyak dirasakan melalui nada suara, sentuhan, dan kehadiran yang konsisten.
Kalimat “Ibu di sini” atau “Ayah di sini” dapat digunakan ketika anak menangis, takut, atau sedang kewalahan. Pesan yang disampaikan sederhana: anak tidak menghadapi situasi tersebut sendirian.
8. “Kita pikirkan sama-sama, yuk.”
Mendengarkan anak bukan berarti orang tua harus menyelesaikan seluruh masalahnya. Anak juga perlu mendapatkan kesempatan untuk belajar memecahkan persoalan.
Motherly menyarankan pertanyaan seperti “What do you think you could do?” agar anak ikut memiliki proses mencari solusi. Orang tua dapat mengubahnya menjadi percakapan yang lebih natural, seperti “Menurut kamu, kita bisa melakukan apa?”
Pendekatan ini membantu anak merasa pendapatnya dihargai. Pada saat yang sama, anak belajar bahwa masalah dapat dibicarakan dan dicari jalan keluarnya secara bersama-sama.
9. “Tarik napas dulu, yuk.”
Ketika emosi sedang tinggi, percakapan sering kali tidak berjalan dengan baik. Anak mungkin menangis, berteriak, atau sulit menerima penjelasan. Orang tua pun dapat ikut kehilangan kesabaran.
Parents memasukkan “Take a breath” sebagai salah satu ungkapan yang dapat membantu memperlambat situasi. Mengajak anak bernapas juga sekaligus memberi contoh bahwa emosi tidak harus langsung direspons dengan tindakan.
Orang tua dapat membungkuk hingga sejajar dengan posisi anak, berbicara dengan suara tenang, lalu mengajak menarik napas bersama.
10. “Terima kasih sudah cerita.”
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5144984/original/044256100_1740653384-Membangun_koneksi.jpg)
Kalimat ini sederhana, tetapi dapat memberi pesan penting kepada anak bahwa keberaniannya untuk berbicara dihargai.
Ungkapan tersebut sangat berguna ketika anak menceritakan sesuatu yang sulit, memalukan, atau membuatnya takut. Orang tua tidak harus langsung memberikan nasihat. Awali dengan menghargai kepercayaan yang sudah diberikan anak.
Pada anak yang lebih besar atau remaja, ungkapan seperti “Aku senang kamu mau cerita” juga dapat memperkuat rasa aman dalam hubungan. CNBC menekankan bahwa ketika remaja merasa aman dan pengalaman mereka diakui, mereka lebih mungkin terus terbuka serta mencari dukungan ketika membutuhkannya.
Mendengarkan Anak Tidak Hanya soal Kata-Kata
Kalimat yang tepat akan lebih bermakna jika disertai sikap mendengarkan yang benar. Anak dapat mengetahui apakah orang tua benar-benar memperhatikan atau sekadar menunggu giliran untuk berbicara.
Parents menyarankan beberapa kebiasaan pendukung, seperti active listening melalui anggukan dan ekspresi yang menunjukkan perhatian, menggunakan bahasa tubuh yang terbuka, serta turun ke posisi anak dan menjaga kontak mata ketika berbicara. Menghabiskan quality time tanpa sibuk dengan ponsel juga dapat membantu membangun komunikasi yang lebih terbuka.
Orang tua juga tidak perlu selalu memberikan solusi. Ketika anak berkata, “Aku sedih karena temanku tidak mengajakku bermain,” respons pertama tidak harus berupa, “Sudah, nanti cari teman lain.”
Cobalah berhenti sebentar dan berkata, “Kamu sedih karena merasa tidak diajak, ya?” Setelah anak merasa dipahami, percakapan tentang solusi biasanya menjadi lebih mudah.
Validasi Bukan Berarti Membiarkan Semua Perilaku
Salah satu hal penting yang perlu dipahami orang tua adalah membedakan antara mengakui emosi dan membenarkan perilaku.
Anak boleh marah, tetapi bukan berarti ia boleh memukul. Anak boleh kecewa, tetapi bukan berarti ia boleh merusak barang. Orang tua dapat mengakui perasaannya sekaligus tetap menetapkan batas.
Motherly memberikan contoh penggunaan ungkapan “at the same time” untuk mempertahankan dua hal sekaligus: perasaan anak dapat diterima, sementara batas perilaku tetap berlaku. Misalnya, “Kamu boleh marah. Pada saat yang sama, Ayah tidak boleh membiarkan kamu memukul adik.”
Cara seperti ini membantu anak memahami bahwa emosi bukan sesuatu yang harus ditekan, sementara perilaku tetap memiliki konsekuensi dan batas.
Advertisement
Sesuaikan Kalimat dengan Usia Anak
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5248842/original/015214700_1749620652-parents-holding-their-little-son-are-walking-road.jpg)
Kalimat yang digunakan juga sebaiknya disesuaikan dengan kemampuan anak memahami bahasa. Balita mungkin membutuhkan ungkapan singkat seperti “Ibu di sini” atau “Kamu sedih, ya?”
Anak usia sekolah dapat diajak merefleksikan perasaannya melalui pertanyaan seperti “Bagaimana perasaanmu?” atau “Menurutmu, apa yang bisa kita lakukan?”
Sementara itu, anak yang lebih besar dan remaja mungkin membutuhkan kalimat yang memberikan ruang lebih luas, seperti “Itu terdengar sulit. Terima kasih sudah cerita kepada Ayah.”
CNBC membagi contoh validasi berdasarkan kelompok usia dan menekankan bahwa anak yang lebih besar membutuhkan ruang untuk memproses emosinya tanpa langsung mendapatkan solusi. Pada usia remaja, pengakuan terhadap pengalaman mereka sekaligus penghargaan atas kepercayaan yang diberikan dapat membantu mempertahankan hubungan yang aman.
Yang Terpenting adalah Konsistensi
Tidak ada satu kalimat ajaib yang otomatis membuat anak terbuka kepada orang tua. Komunikasi yang baik terbentuk dari kebiasaan kecil yang dilakukan berulang kali.
Orang tua mungkin tetap akan kehilangan kesabaran pada hari-hari tertentu. Ada kalanya respons yang keluar bukan kalimat terbaik. Hal tersebut tidak berarti hubungan dengan anak menjadi rusak selamanya.
Motherly bahkan menempatkan permintaan maaf sebagai salah satu ungkapan penting dalam pengasuhan. Ketika orang tua mampu mengatakan “Ibu minta maaf tadi terlalu keras,” anak belajar bahwa orang dewasa juga dapat mengakui kesalahan dan memperbaiki hubungan.
Pada akhirnya, kalimat sederhana yang bisa membuat anak merasa didengarkan bukan sekadar kumpulan kata-kata yang harus dihafalkan. Yang lebih penting adalah pesan di baliknya: ceritamu penting, perasaanmu boleh ada, dan kamu tidak harus menghadapi semuanya sendirian.
Pertanyaan Seputar Mendengarkan anak
1. Apa kalimat sederhana yang paling efektif agar anak merasa didengarkan?
Beberapa pilihan yang dapat digunakan adalah “Ceritakan sama Ibu,” “Ibu dengar, kok,” “Bagaimana perasaanmu?” dan “Bantu Ayah memahami.” Pilih kalimat sesuai situasi dan usia anak, lalu berikan perhatian penuh ketika anak berbicara.
2. Apakah mendengarkan anak berarti orang tua harus selalu menuruti keinginannya?
Tidak. Mendengarkan berarti memahami cerita dan perasaan anak, bukan selalu menyetujui keinginannya. Orang tua tetap dapat memberikan batasan sambil mengakui emosi anak.
3. Mengapa validasi emosi penting bagi anak?
Validasi membantu anak merasa pengalaman dan emosinya diakui. Menurut Kelsey Mora dalam CNBC, rasa aman yang muncul dari validasi dapat mendukung regulasi emosi, komunikasi, dan hubungan dengan orang lain.
4. Bagaimana jika anak tidak mau bercerita?
Jangan langsung memaksa. Orang tua dapat menunjukkan kehadiran dengan mengatakan, “Ibu ada di sini kalau kamu mau cerita.” Memberikan waktu, menjaga sikap tidak menghakimi, dan membangun kebiasaan quality time dapat membantu anak merasa lebih aman untuk terbuka.
5. Apakah anak perlu langsung diberi solusi setelah bercerita?
Tidak selalu. Dalam banyak situasi, anak terlebih dahulu membutuhkan kesempatan untuk didengar dan memahami emosinya. Setelah perasaannya diakui, orang tua dapat mengajaknya memikirkan solusi bersama, terutama ketika anak sudah siap.

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262137/original/091584100_1781772312-pexels-ketut-subiyanto-4473879.jpg)
![Alyssa Daguise buktikan bahwa dirinya tak hanya sekadar bumil glowing tapi juga fashionable mama [@alyssadaguise]](https://cdn1-production-images-kly.akamaized.net/3unXmjBHzsgf6tbkHdT7tylJAUg=/0x23:1080x1103/200x200/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5554685/original/000301200_1776091833-SnapInsta.to_670688104_18581626381057164_3767344184430632019_n.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9336247/original/092056100_1788149665-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9336230/original/015676800_1788148400-40f04edf-a67e-45d1-a523-83810a62c613.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9336159/original/099879900_1788141510-serious-unshaved-dark-haired-man-sitting-cafeteria-with-client-talking-gesticulating-with-hands-trying-make-clear-some-details-commission-he-received.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5357756/original/035604000_1758540831-2149430273__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4984091/original/066941400_1730181985-pexels-ekaterina-bolovtsova-4051137.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5564262/original/049314900_1776931762-flat-lay-hands-holding-notebook-cash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5572111/original/028475500_1777774433-pexels-cottonbro-7118214.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7826343/original/031913400_1780645907-pexels-cottonbro-6181839.jpg)
![Bikin anak makin sehat, ini rahasia trik stimulasi grounding. [Dok/Pexels.com/Ron Lach].](https://cdn1-production-images-kly.akamaized.net/cgstAcTvTYUIV7GNtQsuPEOVcXU=/320x217/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7955671/original/027065700_1780791938-pexels-ron-lach-10033218.jpg)
![Jadwal screen time anak perlu dijadwalkan oleh orangtua. [Dok/Pexels.com/Jessica Lewis 🦋 thepaintedsquare].](https://cdn0-production-images-kly.akamaized.net/LK86RnhAWzlG7K1ijIgo3wL9INw=/320x217/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8051043/original/064727300_1780894473-pexels-thepaintedsquare-4200824.jpg)
![Sahabat Fimela, foto keluarga yang terlihat spontan justru sering terasa lebih natural dan penuh cerita dibanding pose yang terlalu formal. f[Dok/freepik.com/pchvector]](https://cdn0-production-images-kly.akamaized.net/dvcaFlLD52L-XiJszSMZSwrQzQY=/320x217/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5631062/original/040957100_1778229336-12873.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9324526/original/017892800_1786715976-WhatsApp_Image_2026-08-14_at_20.34.49.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5691408/original/040891300_1778567403-pexels-denisenys-14824327.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9317739/original/021174400_1786068843-SukkhaCitta_Plaza_Indonesia_Opening_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5261782/original/054643400_1750688856-portrait-woman-cooking-home-kitchen-holding-tomatoes-preparing-delicious-fresh-meal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5934075/original/055087900_1778831527-pexels-maksgelatin-4775196.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9293366/original/017821600_1783695315-DSC09836.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5183320/original/007994800_1744178860-Depositphotos_543464536_S.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5125290/original/051027900_1738924822-portrait-young-mindful-woman-practice-yoga-exercising-inhale-exhale-fresh-air-park-sitt.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5154770/original/056213600_1741416037-OOTD_Sabrina_Chairunnisa.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5428478/original/091892000_1764510239-jam_tangan_1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4496554/original/003697800_1688957184-syahrul-alamsyah-wahid-h0KrcWloXsE-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5420028/original/017091900_1763718438-Sediakan_Tempat_Sampah_Terpisah_dengan_Label_Jelas.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5932615/original/009181300_1778830171-little-boy-outdoor-crying.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5570303/original/045253200_1777521902-mom-daughter-making-high-five_1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5457158/original/075801100_1766989393-senivpetro.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5542574/original/034170700_1774946838-medium-shot-people-yoga-mat.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5436169/original/033702700_1765164894-medium-shot-woman-working-from-home.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5294924/original/059949500_1753424920-aditya-romansa-5zp0jym2w9M-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9326200/original/073461400_1786965125-gem2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9326201/original/003720900_1786965126-gem3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335646/original/011346500_1788009959-IMG-20260829-WA0049.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335626/original/080018000_1788008067-1000118220.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5292222/original/022875000_1753247405-efee62e2-84c3-4d97-89c6-32bf7b5f099d.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335594/original/051360000_1788001267-f88a50f6-f3e5-4260-8d0d-80e85f511f82.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9336401/original/086744900_1788159827-Depositphotos_83115232_L.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5488589/original/000791000_1769757751-mom-comforting-her-upset-daughter.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9336297/original/064971000_1788153141-IMG_2545.jpeg)
![Terlalu sering mengonsumsi makanan yang sangat diproses dan tinggi gula bukan hanya berdampak pada kesehatan dari dalam, tetapi juga bisa terlihat dari luar. [Dok/Freepik.com/Jane T D.].](https://cdn0-production-images-kly.akamaized.net/8hBPaJpxr51Geut5BN_vZwWFYpg=/80x80/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5515714/original/067262900_1772186483-pexels-janetrangdoan-793759.jpg)