Mengapa Perempuan Lebih Rentan Mengalami Penyakit Autoimun? Berikut Penjelasannya

Sarah ArsaliyanaDiterbitkan 17 Agustus 2026, 11:00 WIB

Fimela.com, Jakarta - Perempuan diketahui lebih sering mengalami penyakit autoimun dibandingkan laki-laki. Perbedaan ini telah lama menjadi perhatian para peneliti karena jumlah kasus yang ditemukan pada perempuan jauh lebih tinggi.

Sahabat Fimela, penyakit autoimun terjadi ketika sistem kekebalan tubuh salah mengenali jaringan sehat sebagai ancaman. Akibatnya, tubuh justru menyerang sel dan organ miliknya sendiri sehingga memicu peradangan yang dapat berlangsung dalam jangka panjang.

Kondisi ini dapat memengaruhi berbagai bagian tubuh mulai dari kulit, persendian, hingga organ-organ penting. Gejalanya juga sangat beragam sehingga beberapa penyakit autoimun sering membutuhkan waktu yang cukup lama untuk terdiagnosis.

Tingginya angka kasus pada perempuan membuat ilmuwan terus meneliti faktor-faktor yang mungkin berperan di balik kondisi tersebut. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa perbedaan biologis antara perempuan dan laki-laki memiliki pengaruh terhadap cara sistem kekebalan tubuh bekerja.

Dilansir dari Nature.com, terdapat sekitar 80% penderita penyakit autoimun merupakan perempuan. Temuan tersebut memperkuat dugaan bahwa faktor biologis tertentu dapat membuat perempuan memiliki risiko yang lebih besar untuk mengalami gangguan autoimun.

2 dari 3 halaman

Mengapa Respons Imun Perempuan Cenderung Lebih Aktif

Aktivitas sistem imun yang lebih tinggi juga membuat tubuh perempuan cenderung menghasilkan antibodi dalam jumlah lebih besar (Sumber: Pexels.com)

Sistem kekebalan tubuh perempuan umumnya memberikan respons yang lebih kuat ketika menghadapi infeksi. Kemampuan ini dapat membantu tubuh mengenali dan melawan berbagai ancaman seperti virus maupun bakteri dengan lebih cepat.

Aktivitas sistem imun yang lebih tinggi juga membuat tubuh perempuan cenderung menghasilkan antibodi dalam jumlah lebih besar. Antibodi berfungsi sebagai bagian penting dari pertahanan tubuh untuk mengenali zat asing yang berpotensi menimbulkan penyakit.

Sahabat Fimela, karakteristik tersebut sebenarnya memberikan keuntungan karena membantu tubuh mempertahankan diri dari berbagai infeksi. Beberapa penelitian bahkan menunjukkan bahwa perempuan sering memiliki respons imun yang lebih baik setelah menerima vaksin.

Namun, sistem imun yang sangat aktif memiliki sisi lain yang perlu diperhatikan. Ketika mekanisme pengenalan ancaman tidak berjalan sebagaimana mestinya, sel-sel imun dapat keliru mengenali jaringan sehat sebagai target serangan.

Kesalahan identifikasi tersebut dapat memicu munculnya penyakit autoimun. Karena sistem imun perempuan cenderung bekerja lebih aktif maka peluang terjadinya respons yang berlebihan juga dinilai lebih besar dibandingkan laki-laki.

3 dari 3 halaman

Bagaimana Hormon dan Kromosom Memengaruhi Risiko Autoimun

Perempuan memiliki dua kromosom X yang membawa berbagai gen penting yang terlibat dalam pengaturan sistem imun (Sumber: Pexels.com)

Selain sistem imun yang lebih aktif, hormon perempuan juga memiliki peran dalam mengatur cara tubuh merespons ancaman. Salah satu hormon yang paling sering dikaitkan dengan fungsi kekebalan tubuh adalah estrogen.

Estrogen dapat memengaruhi aktivitas berbagai jenis sel imun yang terlibat dalam proses pertahanan tubuh. Karena itu, perubahan kadar hormon yang terjadi sepanjang hidup perempuan dapat memengaruhi keseimbangan sistem kekebalan.

Sahabat Fimela, pengaruh tersebut sering terlihat pada masa pubertas, kehamilan, maupun menopause. Pada periode-periode tersebut, beberapa penyakit autoimun diketahui dapat mengalami perubahan gejala atau tingkat aktivitas penyakit.

Faktor genetik juga menjadi perhatian para peneliti terutama yang berkaitan dengan kromosom X. Perempuan memiliki dua kromosom X yang membawa berbagai gen penting yang terlibat dalam pengaturan sistem imun.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa sebagian gen pada kromosom X dapat berkontribusi terhadap tingginya risiko autoimun pada perempuan. Temuan ini membantu menjelaskan mengapa perbedaan biologis antara perempuan dan laki-laki dapat memengaruhi kemungkinan seseorang mengalami gangguan autoimun.