Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, si kecil sering membantah orangtua? Bahkan, tidak jarang mereka mengelak ketika diberi nasihat oleh orangtua. Tentunya, perilaku anak yang seperti itu akan membuat orangtua menjadi khawatir dengan perilaku si kecil yang kurang sopan. Namun, si kecil yang sering tidak nurut dengan orangtua, bukan berarti mereka kesal atau marah.
Ternyata, dilansir dari psychologytoday.com, perilaku anak yang berbeda pada orangtua dibandingkan dengan orang lain karena mereka sudah merasa nyaman. Anak-anak tahu bahwa orangtua akan selalu memaklumi perilaku mereka, bahkan saat si kecil melakukan kesalahan.
Di hadapan orangtua, anak bisa merasa bebas menunjukkan perasaan dan kepribadian mereka yang sebenarnya karena yakin akan tetap dicintai. Menurut si kecil, rasa aman seperti tersebut tidak mudah didapatkan dari orang asing. Oleh sebab itu, Sahabat Fimela perlu mengetahui alasan kenapa anak-anak bisa berperilaku berbeda dengan orangtua dan oranglain.
Yuk simak pembahasan berikut agar Sahabat Fimela bisa lebih memahami si kecil ketika lebih nurut dengan orang lain dibandingkan orangtuanya sendiri.
Kenali Alasan Anak yang Berperilaku Berbeda dengan Orangtua
Dilansir dari goodhousekeeping.com, berikut pembahasan agar Sahabat Fimela bisa mengenali perilaku anak yang berbeda dengan orangtua dan orang lain.
1. Anak merasa lebih aman menunjukkan emosi pada orangtua
Tidak jarang seorang anak tampak lebih rewel, mudah menangis atau sering tantrum kepada salah satu orangtua. Meski melelahkan, kondisi ini justru bisa menjadi tanda bahwa anak merasa sangat aman secara emosional. Sahabat Fimela, mereka percaya bahwa orangtua akan tetap menerima dan membantu mereka mengelola perasaan yang sedang meluap. Selain itu, anak lebih berani menunjukkan sisi emosional yang mungkin tidak mereka tunjukkan kepada orang lain karena sudah merasa aman.
2. Anak sangat peka terhadap pola respons orang dewasa
Sahabat Fimela, anak-anak sebenarnya adalah pengamat yang ulung. Mereka memperhatikan siapa yang lebih tegas, siapa yang cenderung memberi kesempatan kedua, dan siapa yang lebih mudah diajak bernegosiasi. Dari pengamatan tersebut, anak bisa menyesuaikan perilakunya. Misalnya, mereka mungkin lebih patuh kepada orang yang konsisten dengan aturan, tetapi lebih sering menawar kepada orang yang biasanya memberi kelonggaran. Perilaku ini merupakan bagian normal dari proses belajar sosial anak.
3. Perbedaan gaya pengasuhan mempengaruhi respon anak
Meskipun kedua orangtua memberikan pesan atau aturan yang sama, anak bisa meresponsnya dengan cara yang berbeda. Hal ini terjadi karena setiap orangtua memiliki gaya komunikasi, ekspresi emosi, dan pendekatan pengasuhan yang berbeda. Kemudian, anak mengaitkan pengalaman tersebut dengan ekspektasi tertentu. Akibatnya, aturan yang sama bisa diterima dengan mudah dari satu orangtua, tetapi memunculkan penolakan ketika disampaikan oleh orangtua lainnya.
4. Anak bisa lebih nurut dengan orang lain yang jarang ditemui
Dalam beberapa keluarga, ada orangtua yang lebih banyak terlibat dalam rutinitas harian seperti makan, mandi atau tidur. Sementara itu, orangtua lain mungkin memiliki waktu bersama anak yang lebih terbatas. Kondisi ini terkadang membuat anak terlihat lebih “menurut” dengan sosok yang lebih jarang mereka temui karena kehadirannya terasa lebih spesial atau berbeda. Sebaliknya, kepada orangtua yang mendampingi keseharian mereka, anak cenderung lebih sering menguji batas dan aturan.
5. Jangan terlalu sering membandingkan anak-anak
Daripada membandingkan siapa yang lebih didengarkan anak, akan lebih bermanfaat jika orangtua membangun komunikasi dan aturan yang konsisten bersama. Melalui kesepakatan rutinitas, batasan, serta cara merespons perilaku anak, hal itu bisa membantu mereka merasa lebih aman dan memahami harapan yang diberikan. Dengan begitu, perbedaan perilaku yang muncul tidak menjadi sumber konflik, melainkan kesempatan untuk memahami kebutuhan emosional anak dengan lebih baik.
Sahabat Fimela, melihat anak lebih nurut kepada orang lain dibandingkan kepada orangtua memang bisa menimbulkan rasa heran bahkan frustrasi. Namun, perilaku tersebut sering kali bukan tanda bahwa anak tidak menghormati orangtua, melainkan karena mereka merasa paling aman dan nyaman untuk mengekspresikan emosi yang sebenarnya di rumah. Anak juga belajar menyesuaikan sikapnya berdasarkan pola respons orang dewasa, gaya pengasuhan, serta kedekatan yang mereka rasakan dengan setiap orang di sekitarnya. Itulah sebabnya, daripada terlalu sering membandingkan perilaku anak dengan orang lain, orangtua dapat fokus membangun komunikasi yang hangat, konsisten, dan penuh pengertian. Dengan memahami alasan di balik perilaku tersebut, Sahabat Fimela bisa lebih bijak dalam mendampingi tumbuh kembang si kecil sekaligus memperkuat hubungan emosional yang sehat dan penuh kasih sayang.