Kulit Sensitif Makin Banyak Dialami Masyarakat Indonesia, Apa Penyebabnya?

Vinsensia DianawantiDiterbitkan 20 Juni 2026, 17:00 WIB

Fimela.com, Jakarta - Pernah merasa kulit tiba-tiba mudah kemerahan, perih setelah mencuci wajah, atau terasa gatal ketika berganti produk skincare? Jika iya, Anda tidak sendirian. Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak masyarakat Indonesia mengeluhkan kondisi kulit sensitif yang dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari polusi udara hingga paparan sinar matahari.

Para ahli dermatologi menilai fenomena ini berkaitan erat dengan menurunnya fungsi skin barrier, lapisan pelindung terluar kulit yang berperan menjaga kelembapan sekaligus melindungi kulit dari iritan, bakteri, dan polutan. Berbagai penelitian dermatologi internasional menunjukkan bahwa peningkatan urbanisasi, kualitas udara yang memburuk, serta perubahan gaya hidup membuat gangguan skin barrier semakin sering ditemukan di berbagai negara.

Sebuah tinjauan ilmiah yang dipublikasikan dalam Journal of the European Academy of Dermatology and Venereology menyebutkan bahwa polusi udara, terutama partikel halus (PM2.5), ozon, dan logam berat, mampu memicu stres oksidatif pada kulit. Akibatnya, lapisan pelindung kulit melemah sehingga kulit menjadi lebih mudah mengalami iritasi, dehidrasi, hingga peradangan.

Tak hanya itu, paparan sinar ultraviolet (UV) secara terus-menerus juga diketahui merusak lipid alami penyusun skin barrier. Kerusakan ini membuat kulit kehilangan kemampuan mempertahankan kadar air sehingga terasa kering, kasar, bahkan lebih reaktif terhadap produk perawatan kulit. Faktor lain seperti perubahan suhu ekstrem, penggunaan skincare yang terlalu banyak (over-exfoliation), stres psikologis, hingga kurang tidur juga turut berkontribusi terhadap terganggunya fungsi pelindung kulit dan berujung pada kulit sensitif.

 

2 dari 3 halaman

Dermatitis Atopik Masih Menjadi Tantangan

Ilustrasi kulit gatal. (dok. Romina Farías/Unsplash)

Di Indonesia, gangguan skin barrier juga berkaitan erat dengan meningkatnya kasus dermatitis atopik atau eksim. Data yang dipaparkan dalam berbagai publikasi dermatologi menunjukkan prevalensi dermatitis atopik di Indonesia berkisar 10–20 persen pada bayi dan anak-anak, serta 1–3 persen pada orang dewasa. Bahkan, Kelompok Studi Dermatologi Anak Indonesia (KSDAI) menyebut dermatitis atopik menjadi salah satu penyakit kulit yang paling sering dijumpai pada layanan dermatologi anak.

Kondisi ini ditandai dengan kulit sangat kering, gatal, mudah meradang, dan sering kambuh ketika skin barrier mengalami gangguan. Karena itu, pendekatan dermatologi modern kini tidak lagi hanya berfokus mengatasi gejala saat kambuh, tetapi juga memperkuat fungsi skin barrier agar kulit mampu mempertahankan perlindungan alaminya dalam jangka panjang.

 

3 dari 3 halaman

Skin Barrier Jadi Fokus Baru Perawatan Kulit

Intip alasan di balik meningkatnya masyarakat yang mengalami kulit sensitif (Regenesis Indonesia)

Kesadaran mengenai pentingnya skin barrier juga mendorong berkembangnya inovasi di industri dermatologi. Kini, banyak produk perawatan kulit dikembangkan untuk membantu memulihkan lapisan pelindung kulit melalui kandungan seperti ceramide, lipid biomimetik, glycerin, hingga bahan pelembap yang bekerja menyerupai komponen alami kulit.

Pendekatan ini dinilai mampu membantu menjaga keseimbangan mikrobioma kulit sekaligus mengurangi risiko iritasi berulang pada pemilik kulit sensitif maupun penderita dermatitis atopik. Uriage Perkuat Edukasi Mengenai Pentingnya Skin BarrierSejalan dengan meningkatnya perhatian terhadap kesehatan skin barrier, Uriage Indonesia menggelar Uriage Indonesia 1st Anniversary Gathering yang menjadi momentum satu tahun perjalanan brand tersebut di Indonesia sekaligus forum ilmiah bersama komunitas dermatologi.

President Director PT Regenesis Indonesia, Emmy Noviawati, mengatakan kolaborasi bersama para dokter menjadi bagian penting dalam menghadirkan layanan kesehatan kulit yang berbasis sains.

"Perjalanan satu tahun ini tidak terlepas dari dukungan dan kolaborasi yang terjalin bersama komunitas medis di Indonesia. Kami percaya bahwa pertukaran pengetahuan dan kolaborasi yang berkelanjutan memiliki peran penting dalam mendukung perkembangan praktik dermatologi yang berbasis sains," ujarnya.

Dalam rangkaian Scientific Anniversary Symposium, salah satu sesi ilmiah bertajuk "Uriage Triple Barrier Science" menghadirkan Thibault Aardewijn, Derma Regional Business Medical Coordinator, yang membahas pentingnya skin barrier sebagai fondasi utama kesehatan kulit.

Ia menjelaskan bahwa perkembangan riset dermatologi saat ini semakin berfokus pada upaya menjaga keseimbangan kulit, memperkuat fungsi proteksi alami, serta membantu memenuhi kebutuhan pasien dengan berbagai kondisi kulit sensitif.

Pada kesempatan tersebut, Uriage juga memperkenalkan inovasi terbaru melalui Xémose C8+, lini perawatan yang dikembangkan untuk membantu merawat kulit kering, sensitif, dan atopik. Produk ini memanfaatkan teknologi Biomimetic Ceramides, yaitu komponen yang dirancang menyerupai ceramide alami kulit guna membantu memperkuat skin barrier sekaligus menjaga kelembapan kulit.

Sejumlah dokter yang hadir turut membagikan pengalaman klinis mereka menggunakan produk Uriage, khususnya sebagai perawatan pendamping setelah tindakan dermatologi seperti laser, peeling, maupun terapi injeksi. Melalui penyelenggaraan symposium ilmiah tersebut, Uriage Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus mendukung edukasi berbasis bukti ilmiah bagi tenaga kesehatan sekaligus menghadirkan inovasi yang berfokus pada pemeliharaan skin barrier sebagai fondasi kulit yang sehat.