Fimela.com, Jakarta - Kesehatan mental anak dan remaja di Indonesia menjadi persoalan yang semakin mengkhawatirkan. Berdasarkan data Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) 2022, satu dari tiga remaja alami masalah mental dalam 12 bulan terakhir atau sekitar 15,5 juta jiwa. Bahkan, satu dari dua puluh remaja memenuhi kriteria gangguan mental seperti kecemasan, depresi, dan gangguan perilaku.
Ketua Umum PP Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A., Subsp.Kardio.(K), mengatakan masih banyak masyarakat yang menganggap gangguan mental hanya dialami orang dewasa. Padahal, anak juga dapat mengalami kondisi serupa dengan gejala yang tidak selalu mudah dikenali sehingga sering kali terlambat mendapatkan penanganan. Karena itu, kesehatan mental anak dan remaja perlu mendapat perhatian yang sama besarnya dengan kesehatan fisik.
IDAI mengingatkan bahwa kepekaan orangtua terhadap perubahan emosi anak maupun perilaku anak menjadi langkah awal yang sangat penting untuk mendeteksi gangguan kesehatan mental sejak dini, sehingga anak bisa memperoleh dukungan, pendampingan, serta penanganan yang tepat sesuai kebutuhannya.
Pola Asuh yang Tepat Berperan Penting dalam Menjaga Kesehatan Mental Anak
Peran keluarga menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kesehatan mental anak. Menurut Ketua Umum PP IDAI, Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A., Subsp.Kardio.(K), pola asuh yang kurang tepat, terutama tekanan berlebihan terkait prestasi akademik, dapat memengaruhi kondisi psikologis anak. Harapan yang tidak sesuai dengan kemampuan anak dapat membuat mereka merasa tertekan, kehilangan rasa percaya diri, hingga mengalami gangguan emosional.
Karena itu, IDAI mengajak orangtua kembali menerapkan prinsip Asuh, Asih, dan Asah dalam pengasuhan. Anak membutuhkan kasih sayang, pendampingan, serta kesempatan untuk berkembang sesuai dengan kemampuan dan minatnya. Rumah juga perlu menjadi tempat yang aman dan nyaman agar anak merasa didengar ketika menghadapi masalah.
Selain lingkungan keluarga, tekanan teman temannya, cyberbullying, dan paparan konten negatif di internet juga menjadi faktor yang dapat memperburuk kesehatan mental remaja. Oleh sebab itu, orangtua dianjurkan membangun komunikasi yang terbuka, membatasi penggunaan media sosial, serta mendorong anak melakukan kegiatan positif agar kesehatan mentalnya tetap terjaga.
Kenali Tanda Gangguan Kesehatan Mental pada Anak Sejak Dini
Menurut Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial IDAI, dr. Angga Wirahmadi, Sp.A., Subsp.T.K.P.S.(K), gejala depresi dan kecemasan pada remaja sering kali sulit dikenali karena dianggap sebagai perubahan perilaku yang wajar saat pubertas. Padahal, tanda seperti kehilangan minat pada aktivitas yang disukai, penurunan nafsu makan, merasa tidak berharga, overthinking, gelisah, hingga keluhan fisik seperti sakit perut tanpa penyebab yang jelas perlu diwaspadai.
Orangtua juga perlu memperhatikan apabila anak tiba-tiba tidak mau sekolah, menarik diri dari lingkungan, menolak makan, atau enggan mandi. Jika perubahan emosi maupun perilaku mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, anak sebaiknya segera mendapatkan penanganan dari tenaga profesional. Untuk membantu deteksi dini gangguan mental pada anak, IDAI merekomendasikan penggunaan Strengths and Difficulties Questionnaire (SDQ) sebagai alat skrining masalah emosi, perilaku, dan hubungan sosial pada anak usia 3–18 tahun. Dengan mengenali gejala sejak awal serta membangun komunikasi yang terbuka tanpa menghakimi, orang tua dapat membantu menjaga kesehatan mental anak sekaligus mencegah kondisi yang lebih berat.