Sukses

FimelaMom

Dampak Orangtua Perfeksionis pada Kesehatan Mental Anak dan Cara Mengatasinya

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, menjadi seorang ibu di era modern seperti sekarang ini sering kali mendatangkan tekanan yang luar biasa besar dari lingkungan sekitar kita. Kita seolah dituntut untuk bisa melakukan segala hal dengan sempurna tanpa celah sedikit pun dalam mengasuh anak.  Mulai dari buku dan siniar hingga ucapan berniat baik namun sering kali kurang tepat dari teman serta keluarga, orang tua seolah dibombardir dengan berbagai ide tentang cara membesarkan anak. 

Melansir dari North Star the Therapy Collective, hal yang tidak bisa dihindari adalah saran yang terus-menerus datang dan kritik yang tiada henti ini akhirnya membuat orang tua merasa cemas. Kita takut jika satu kesalahan kecil saja dilakukan, hal itu akan merusak kesehatan mental anak atau bahkan lebih buruk lagi, merusak ikatan batin dengan buah hati kita selamanya. 

Melepaskan ekspektasi tinggi untuk menjadi sempurna adalah langkah awal yang sangat bijaksana untuk menyelamatkan kesehatan mental Anda dan juga masa depan anak. Psikologi perkembangan dunia kini lebih menyarankan konsep good enough parent atau menjadi orangtua yang cukup baik bagi anak. 

1. Batasi Paparan Konten Pengasuhan di Media Sosial

Melihat unggahan ibu lain yang tampak selalu bahagia dengan anak yang tenang di media sosial sering kali memicu sindrom membandingkan diri yang beracun. Ingatlah bahwa apa yang ditampilkan di layar digital hanyalah potongan momen terbaik yang sudah melewati proses penyuntingan estetika. Batasi waktu berselancar di dunia maya dan fokuslah pada keunikan perkembangan nyata yang ditunjukkan oleh buah hati Anda sendiri di rumah setiap harinya tanpa perlu validasi dari orang luar.

2. Izinkan Anak Melihat Anda Melakukan Kesalahan Kecil 

Jangan pernah takut untuk meminta maaf di depan anak saat Anda melakukan kekeliruan kecil, misalnya saat tidak sengaja menumpahkan segelas susu di meja makan. Katakan dengan tenang, "Wah, Mama kurang hati-hati, yuk kita bersihkan bersama-sama". Tindakan jujur ini memberikan pelajaran moral yang sangat berharga bagi anak bahwa berbuat salah adalah hal kemanusiaan yang wajar, dan yang terpenting adalah bagaimana cara kita memperbaikinya dengan penuh tanggung jawab.

3. Pujilah Proses Usaha Anak Bukan Hasil Akhirnya

Saat anak pulang membawa hasil tugas sekolah, alihkan fokus kalimat pujian Anda dari angka nilai menuju kerja keras yang sudah mereka lakukan. Gunakan kalimat hangat seperti "Mama bangga sekali melihat kamu begitu tekun belajar untuk ujian ini kemarin". Pujian yang tulus pada proses usaha akan membentuk growth mindset pada anak, sehingga mereka tidak akan merasa cemas atau takut gagal saat menghadapi tantangan baru yang lebih sulit di sekolah.

4. Sediakan Waktu Khusus untuk Bermain Tanpa Agenda

Sering kali orangtua mengatur jadwal harian anak dengan sangat ketat, mulai dari sekolah, les musik, hingga olahraga tanpa memberikan waktu luang yang bebas. Sediakan waktu minimal lima belas menit sehari untuk duduk bersama anak dan biarkan mereka yang memimpin permainan tanpa ada arahan atau aturan kaku dari Anda. Kehadiran fisik dan pikiran Anda yang sepenuhnya fokus tanpa gangguan gawai adalah bentuk validasi cinta tertinggi yang dibutuhkan oleh jiwa anak.

5. Terapkan Self Compassion dan Evaluasi Harian yang Positif

Setiap malam sebelum memejamkan mata, gantilah kebiasaan menghitung kesalahan Anda hari itu dengan mencatat tiga hal baik yang sudah berhasil Anda lakukan dengan baik. Katakan pada diri sendiri bahwa Anda sudah berjuang dengan luar biasa dan tidak apa-apa jika hari ini ada target rumah tangga yang tidak tercapai. Memberikan kasih sayang dan toleransi yang besar pada diri sendiri akan membuat energi Anda kembali penuh untuk menyambut hari esok dengan senyuman hangat.

6. Bangun Sistem Pendukung yang Sehat 

Carilah lingkungan pertemanan atau sesama orang tua yang memiliki pandangan hidup yang realistis dan bersikap jujur tentang kesulitan mengasuh anak. Hindari lingkaran sosial yang gemar memamerkan kesempurnaan semu atau hobi melayangkan kritik tanpa solusi yang hanya akan membuat Anda merasa tidak berharga. Memiliki tempat curahan hati yang aman dan suportif akan membantu Anda menyadari bahwa Anda tidak sendirian dalam menghadapi masa-masa sulit ini.

Ketika Anda berhenti menjadi orangtua yang serba mengatur dan mengontrol segala hal, Anda sedang memberikan kesempatan bagi si kecil untuk melatih kemampuan menyelesaikan masalahnya sendiri. Anak yang dibiarkan merasakan kegagalan kecil dalam lingkungan rumah yang penuh kasih sayang akan tumbuh menjadi pribadi yang memiliki daya juang tinggi atau regulasi emosi yang tangguh.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading