Fimela.com, Jakarta - Dalam dinamika mode yang terus berkembang, sebuah tren gaya hidup bernama Old Money Aesthetic kembali menarik perhatian, terutama di kalangan generasi milenial dan Gen Z. Lebih dari sekadar tren busana, estetika ini merupakan filosofi gaya yang mengutamakan keanggunan yang bersahaja, kualitas abadi, serta apresiasi mendalam terhadap tradisi. Pendekatan ini menjauhkan diri dari kemewahan yang mencolok dan penggunaan logo merek yang terang-terangan.
Estetika Old Money adalah sebuah gaya hidup yang memancarkan keanggunan bersahaja, keindahan abadi, dan penghargaan yang kuat terhadap tradisi, demikian menurut Sumissura.
Akar Sejarah dan Filosofi di Balik Gaya Klasik Ini
Asal-usul estetika old money dapat ditelusuri jauh ke belakang, yakni pada aristokrasi Eropa, khususnya di kalangan elit Inggris dan Prancis pada abad ke-18 dan ke-19. Selain itu, gaya ini juga berkembang di keluarga-keluarga kaya Amerika Serikat selama era Gilded Age, seperti keluarga Rockefeller dan Kennedy.
Keluarga-keluarga ini, yang kekayaannya diperoleh secara turun-temurun, dikenal karena menghargai kebijaksanaan dan kehalusan dalam berpenampilan. Hal ini berbeda dengan gaya new money yang cenderung lebih sering memamerkan kekayaan mereka secara terang-terangan.
Gaya berbusana ini kemudian berkembang menjadi simbol kualitas dan selera yang tinggi, bukan sebagai bentuk pamer kekayaan. Ini adalah tentang keanggunan yang tersembunyi, di mana nilai terletak pada esensi dan bukan pada tampilan yang mencolok.
Pilar Utama Estetika "Old Money": Kualitas dan Kehalusan
Estetika “old money” dibangun di atas beberapa prinsip inti yang menjadikannya tak lekang oleh waktu dan tetap relevan hingga kini. Prinsip-prinsip ini berfokus pada kualitas di atas kuantitas, menciptakan gaya yang berkelas tanpa perlu berteriak.
Elegansi Abadi, Bukan Tren Sesekali
Gaya “old money” menekankan investasi pada pakaian klasik berkualitas tinggi yang tidak akan pernah ketinggalan zaman. Ini merupakan bentuk penolakan terhadap mode cepat (fast fashion) dan lebih mengutamakan potongan busana yang dirancang untuk bertahan lama.
Kain Berkualitas dan Jahitan Sempurna
Pemilihan kain menjadi inti dari gaya ini, dengan fokus pada material mewah namun tidak mencolok seperti tweed, wol, sutra, kasmir, linen, dan katun berkualitas tinggi. Pakaian harus memiliki potongan yang pas di badan dengan jahitan yang rapi dan garis yang bersih, menunjukkan keahlian pengerjaan yang luar biasa.
Palet Warna Netral dan Pola Halus
Dominasi warna-warna kalem seperti krem, abu-abu, biru tua, hitam, putih, unta, gading, arang, dan hijau hutan menjadi ciri khas. Pola-pola seperti houndstooth, plaid, dan pinstripes digunakan secara halus untuk menambah kesan mewah tanpa terlihat mencolok.
Tanpa Logo atau Branding yang Mencolok
Salah satu pilar terpenting dari estetika ini adalah menghindari logo yang mencolok dan branding yang terang-terangan. Hal ini menunjukkan kemewahan yang bersahaja, kebijaksanaan, dan kehalusan dalam berpenampilan.
Menurut Emma, seorang ahli pemasaran B2B, pendekatan tanpa logo secara diam-diam mengisyaratkan pemahaman akan pengekangan, proporsi, dan kualitas, yang terasa lebih abadi dibandingkan monograf tradisional. Menghindari logo juga menunjukkan tingkat kepercayaan diri dan identitas yang kuat, tanpa memerlukan validasi eksternal dari merek, serta mencerminkan nilai-nilai anti-konsumerisme dan fokus pada kualitas intrinsik pakaian.
Aksesori yang Dipilih dengan Cermat
Aksesori memainkan peran penting, namun dipilih dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan kesan berlebihan. Pilihan yang umum meliputi tas kulit klasik, anting mutiara, jam tangan sederhana, dan perhiasan minimalis.
Mengapa Old Money Aesthetic Kembali Menarik Perhatian?
Kebangkitan estetika “old money” bukan sekadar tren mode sesaat, melainkan cerminan dari pergeseran nilai-nilai yang lebih mendalam di masyarakat. Ada beberapa faktor yang mendorong popularitas kembali gaya klasik ini.
Reaksi Terhadap Konsumsi Mencolok
Banyak yang melihat kembalinya gaya ini sebagai penolakan terhadap tren “new money” yang didominasi logo pada tahun 2010-an. Richard Thompson Ford, seorang profesor hukum Stanford dan sejarawan mode, mengamati bahwa gaya ini adalah “penolakan yang diperhitungkan terhadap etos mode dekade sebelumnya.” Estetika “old money” kembali populer di dekade baru ini, membalikkan tren “new money” tahun 2010.
Kerinduan akan Keaslian dan Stabilitas
Di tengah ketidakpastian ekonomi, krisis perumahan, dan pandemi global, gaya yang terkait dengan stabilitas generasi menjadi sangat menarik. Estetika ini menawarkan pelarian dari trauma dan kerinduan akan masa lalu yang lebih sederhana. Penelitian menunjukkan bahwa di saat-saat ketidakstabilan, manusia lebih cenderung merasakan nostalgia.
Kesadaran Lingkungan dan Keberlanjutan
Fokus pada kualitas dan umur panjang pakaian sangat selaras dengan meningkatnya kesadaran akan keberlanjutan. Konsumen, terutama Gen Z, semakin memilih pendekatan “lebih sedikit, lebih baik” daripada mode cepat yang boros. Dalam konteks resesi ekonomi dan penurunan daya beli konsumen, kebangkitan estetika “old money” menandakan pergeseran menuju pilihan mode klasik dan berkelanjutan.
Konsep "Quiet Luxury" atau Kemewahan Senyap
Gaya ini juga dikenal sebagai “stealth wealth,” yang menekankan kemewahan melalui pengerjaan dan eksklusivitas, bukan dengan logo yang mencolok. Ini adalah cara untuk memberi sinyal kekayaan secara halus, bukan secara terang-terangan. Kemewahan senyap adalah gaya mode yang ditandai oleh keanggunan bersahaja, kesederhanaan yang halus, dan bahan berkualitas tinggi.
Merek-Merek Unggulan dalam "Quiet Luxury"
Beberapa merek telah menjadi identik dengan estetika “quiet luxury” berkat komitmen mereka terhadap kualitas, desain abadi, dan minimnya penggunaan logo. Merek-merek ini mewujudkan esensi dari kemewahan yang bersahaja.
Di antara merek-merek tersebut adalah The Row, Loro Piana, Brunello Cucinelli, Bottega Veneta, Loewe, Zegna, Hermès, Brioni, Canali, Cesare Attolini, Valextra, dan Celine (khususnya di bawah arahan Phoebe Philo). Selain itu, desainer seperti Jil Sander dan Giorgio Armani juga dikenal sebagai pelopor estetika ini melalui desain minimalis mereka di era 80-an dan 90-an.
Pada intinya, “old money aesthetic” adalah tentang memancarkan kepercayaan diri tanpa memerlukan validasi eksternal. Ini adalah gaya yang menghargai kualitas, tradisi, dan kehalusan di atas pamer kekayaan yang mencolok, menjadikannya pilihan yang menarik bagi mereka yang mencari keanggunan abadi dalam dunia yang serba cepat.