Kisah Dokter Rogusta di Lakon Rumah Sakit Jiwa, Kembali Dihadirkan Teater Koma

Afradhiya N. RDiterbitkan 01 Agustus 2026, 08:00 WIB

Fimela.com, Jakarta - Teater kerap menjadi cermin kehidupan yang memantulkan realitas sosial dan politik dari masa ke masa. Semangat itu kembali hadir lewat pementasan Rumah Sakit Jiwa dari Teater Koma. Lakon yang pertama kali dipentaskan pada 3 Desember 1991 tersebut, kini kembali dihadirkan.

Meski naskahnya lahir tiga dekade lalu, Rumah Sakit Jiwa tetap memikat berkat akting yang apik, seni artistik yang mendukung penceritaan, serta alur yang menarik. Bukan sekadar nostalgia, materi lakon ini terbukti tidak ketinggalan zaman dan tetap relevan hingga kini. Pembukaannya bahkan dirancang untuk langsung menggugah perasaan penonton.

Lakon ini dibuka dengan momen kala para pasien sakit jiwa mendeskripsikan ketakutan di depan para dokter termasuk dokter muda Rogusta (Lutfi Ardiansyah) dan Profesor Sidarita (Bayu Dharmawan Saleh).  Menurut Profesor Sidarita selaku pemimpin Rumah Sakit Jiwa (RSJ) itu, kegiatan pasien yang mendeskripsikan ketakutan adalah bagian dari metode pengobatan yang sudah dilakukan sejak bertahun-tahun lamanya walaupun belum ada hasil yang signifikan.

Namun, dokter Rogusta melihat sesuatu yang aneh dan ekstrem dari metode pengobatan ini. Ia memiliki banyak pertanyaan yang ia utarakan. Namun sebanyak apa pun ia bertanya, jawabannya nihil.

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

Perlawanan terhadap Dokter Rogusta

Para aktor Teater Koma menampilkan adegan dalam pementasan Rumah Sakit Jiwa di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Rabu (29/7/2026). Produksi ke-237 Teater Koma yang berkolaborasi dengan Bakti Budaya Djarum Foundation ini kembali menghadirkan karya almarhum N. Riantiarno dengan interpretasi artistik baru yang merefleksikan isu kemanusiaan, relasi kuasa, dan kesehatan mental yang tetap relevan di tengah perkembangan zaman. (KLY/ Budy Santoso)

Bertanya-tanya mengapa pengobatan yang asing ini bisa diterapkan bertahun-tahun lamanya di rumah sakit itu, Rogusta berupaya memperbaiki metode pengobatan pasien sakit jiwa itu.  Dalam perjuangannya memperbaiki metode penyembuhan, ia tentu saja harus bantahan dan tolakan dari para senior dan pimpinan RSJ.

Saat metode pengobatan Rogusta sudah setengah jalan dan menjanjikan titik cerah kesembuhan bagi para pasien, para senior dan pemimpin rumah sakit terguncang lantaran takut dilangkahi oleh dokter muda itu.  

Dapatkah Rogusta melanjutkan penyembuhan pasien sakit jiwa setelah para senior merasa tersaingi olehnya?

3 dari 3 halaman

Perjuangan Dokter Rogusta di Rumah Sakit Jiwa

Para aktor Teater Koma menampilkan adegan dalam pementasan Rumah Sakit Jiwa di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Rabu (29/7/2026). Produksi ke-237 Teater Koma yang berkolaborasi dengan Bakti Budaya Djarum Foundation ini kembali menghadirkan karya almarhum N. Riantiarno dengan interpretasi artistik baru yang merefleksikan isu kemanusiaan, relasi kuasa, dan kesehatan mental yang tetap relevan di tengah perkembangan zaman. (KLY/ Budy Santoso)

Selain akting, elemen artistik menjadi salah satu kekuatan dalam Rumah Sakit Jiwa. Dalam keterangan tertulis pertunjukan ini, untuk menampilkan jarak, kedudukan, dan kekuasaan antar tokoh di RSJ, dibuat struktur panggung level bertingkat. Tingkatan atas ini digunakan oleh para dokter sedangkan tingkat bawah lebih banyak digunakan para pasien. Kedua tingkatan itu dihubungkan dengan tangga yang berarti juga menghubungkan tokoh di dalamnya.

Lewat lakon Rumah Sakit Jiwa, penonton dapat melihat perumpamaan lain dari perubahan dan situasi dunia saat ini. Teater Rumah Sakit Jiwa yang dipentaskan oleh Teater Koma akan digelar mulai 30 Juli hingga 2 Agustus 2026 di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki.