Yosafat Dwi Kurniawan Menerjemahkan Revolusi dalam Bahasa Mode di The Langham Fashion Soiree

Asnida RianiDiterbitkan 15 Agustus 2026, 10:35 WIB

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, Yosafat Dwi Kurniawan memperkenalkan koleksi terbarunya, Après la Révolution, dalam The Langham Fashion Soiree pada Kamis, 13 Agustus 2026. Koleksi ini berangkat dari pertanyaan sederhana: apa yang terjadi setelah sebuah revolusi berakhir?

Bagi Yosafat, perubahan dapat datang sebagai gelegar yang mengguncang tatanan. Batas lama runtuh, perang meninggalkan jejak panjang, sementara manusia harus menemukan cara baru untuk melanjutkan hidup. Gagasan tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa mode yang berbicara tentang kebebasan, adaptasi, dan keberanian meninggalkan sesuatu yang telah dikenal.

"Untuk saya, ini adalah revolusi. Evolusi itu pelan, ini revolusi, saya harus beradaptasi dan berubah dengan cepat," ujar Yosafat saat memperkenalkan koleksinya dalam acara kolaborasi The Langham Jakarta dan Indonesia Fashion Designer Council (IFDC) tersebut.

Yosafat Dwi Kurniawan memperkenalkan koleksi Après la Révolution dalam The Langham Fashion Soiree, kolaborasi The Langham Jakarta dengan Indonesia Fashion Designer Council (IFDC), 13 Agustus 2026. (dok. PR)

Après la Révolution, yang berarti pascarevolusi, mengambil inspirasi dari perubahan sosial dan pergeseran mode setelah momentum besar dalam sejarah. Yosafat melihat pakaian sebagai bagian dari perjalanan manusia ketika tatanan dunia berubah. Mode tidak hanya merekam zaman, tetapi juga memperlihatkan bagaimana manusia beradaptasi dengan keadaan baru.

Setelah 15 tahun berkarya dengan garis rancang yang telah dikenal, Yosafat memilih mengeksplorasi arah berbeda. Koleksi ini menjadi ruang baginya untuk mengolah perubahan secara personal sekaligus menghadirkan perspektif baru tentang kebebasan.

Melalui Après la Révolution, sejarah tidak hadir sebagai sesuatu yang beku. Ia bergerak bersama manusia, menjelma siluet, material, dan gagasan yang terus mencari bentuk setelah sebuah dunia mengalami perubahan besar.

2 dari 3 halaman

Jejak Sejarah: Dari Prancis Pascarevolusi ke Era 1970-an

Yosafat Dwi Kurniawan memperkenalkan koleksi Après la Révolution dalam The Langham Fashion Soiree, kolaborasi The Langham Jakarta dengan Indonesia Fashion Designer Council (IFDC), 13 Agustus 2026. (dok. PR)

Koleksi Après la Révolution merujuk pada babak pascarevolusi Prancis ketika jatuhnya Raja Louis XVI, Ratu Marie Antoinette, dan kalangan bangsawan membuka tatanan baru. Perubahan sosial turut menggeser gaya berpakaian. Kemewahan yang sebelumnya menjadi simbol kelas mulai berganti dengan busana yang lebih ringan dan sederhana, terinspirasi dari estetika Yunani yang merepresentasikan kebebasan dan demokrasi.

Yosafat melihat gema serupa setelah Perang Vietnam. Busana era 1970-an bergerak menuju karakter yang lebih praktis, sederhana, dan membebaskan, menunjukkan bagaimana perubahan sosial dapat memengaruhi cara manusia berpakaian.

Yosafat Dwi Kurniawan memperkenalkan koleksi Après la Révolution dalam The Langham Fashion Soiree, kolaborasi The Langham Jakarta dengan Indonesia Fashion Designer Council (IFDC), 13 Agustus 2026. (dok. PR)

Presentasi koleksi dimulai dengan atmosfer imperial Baroque-Rococo yang kaya kemegahan dan dekorasi. Perlahan, elemen tersebut berubah menjadi garis yang lebih bersih dan lapang. Nuansa perak menyerupai pantulan zirah perang, sebelum beralih menuju warna serta energi khas era 1970-an yang membawa semangat perdamaian dan kebebasan.

3 dari 3 halaman

Perjalanan Visual di Panggung: Siluet, Warna, dan Detail

Yosafat Dwi Kurniawan memperkenalkan koleksi Après la Révolution dalam The Langham Fashion Soiree, kolaborasi The Langham Jakarta dengan Indonesia Fashion Designer Council (IFDC), 13 Agustus 2026. (dok. PR)

Perubahan paling terasa pada siluet. Yosafat yang dikenal dengan potongan pinggang tegas dan struktur kuat kini menghadirkan bentuk yang lebih longgar dan melayang. Feminitas tetap menjadi bagian penting, tetapi hadir dengan ruang gerak yang lebih leluasa.

Pendekatan kreatifnya pun bergeser. Jika sebelumnya film dan karya perancang adi busana Eropa menjadi rujukan, kali ini Yosafat menelusuri sejarah melalui emosi yang ditinggalkan sebuah peristiwa. "Tak hanya menarik, tapi juga romantis dan melankolis," sebutnya.

Yosafat Dwi Kurniawan memperkenalkan koleksi Après la Révolution dalam The Langham Fashion Soiree, kolaborasi The Langham Jakarta dengan Indonesia Fashion Designer Council (IFDC), 13 Agustus 2026. (dok. PR)

Sebanyak 30 tampilan hadir dalam palet putih tulang, krem, biru pirus, hijau sage, biru denim, merah, hitam, perak, dan emas. Teknik drapery menjadi eksplorasi baru, sementara payet digantikan teknologi bordir NOMATEX dengan potongan laser. Material jersey, voile, tweed, viscose rayon, dan lyocell turut memperkuat karakter koleksi.

Serat viscose rayon dan lyocell dari Asia Pacific Rayon (APR) mendukung rancangan yang lembut dan fleksibel. "Melalui kolaborasi dengan Yosafat, kami menunjukkan bagaimana serat viscose rayon dan lyocell dapat mendukung ekspresi kreatif dalam industri mode," ujar Direktur Asia Pacific Rayon, Aryo Oetomo.