Fimela.com, Jakarta - Istilah almond mom telah menjadi populer di berbagai platform media sosial, khususnya TikTok, untuk menggambarkan sosok ibu yang secara tidak langsung menanamkan kebiasaan makan yang tidak sehat serta ekspektasi yang merugikan terkait berat badan dan citra tubuh pada anak-anaknya, terutama anak perempuan. Namun, istilah ini juga bisa merujuk pada orang tua mana pun yang memiliki pola makan sangat ketat atau berpotensi berbahaya, yang kemudian ingin mereka terapkan pada buah hati mereka.
Fenomena ini menyoroti bagaimana pola asuh yang berfokus pada pembatasan diet dapat memengaruhi perkembangan anak, baik secara fisik maupun mental. Perilaku ini seringkali berakar pada budaya diet abad ke-20 yang mengagungkan kekurusan dan mengabaikan kesehatan holistik.
Asal mula istilah almond mom sendiri berasal dari sebuah klip viral tahun 2013 dari acara televisi realitas "The Real Housewives of Beverly Hills". Dalam klip tersebut, Yolanda Hadid, ibu dari supermodel Gigi Hadid, menyarankan putrinya untuk makan beberapa almond dan mengunyahnya dengan sangat baik, setelah Gigi mengungkapkan perasaannya yang lemas karena diet ketat yang dijalaninya. Klip ini kemudian menyebar luas di awal tahun 2020-an, dan pada musim gugur 2022, istilah almond mom menjadi viral sebagai bagian dari tren media sosial di mana para wanita muda menyindir perilaku berbahaya yang terkait dengan pola asuh semacam itu.
Asal Mula dan Ciri Khas Almond Mom'
Klip viral tahun 2013 yang menampilkan Yolanda Hadid dan putrinya, Gigi Hadid, menjadi titik awal munculnya istilah almond mom. Saat itu, Gigi menghubungi ibunya dan mengatakan bahwa ia merasa sangat lemas karena hanya makan setengah almond. Respons Yolanda yang menyuruhnya untuk mengonsumsi beberapa almond dan mengunyahnya dengan baik, meskipun terdengar sepele, memicu kritik karena dianggap mendorong kebiasaan makan yang tidak sehat.
Video tersebut kembali mencuat di media sosial pada awal 2020-an dan mencapai puncaknya pada musim gugur 2022, ketika istilah "almond mom" menjadi tren di TikTok. Banyak pengguna, terutama wanita muda, mulai berbagi pengalaman mereka dengan orang tua yang memiliki perilaku serupa, menyindir kebiasaan diet ketat dan obsesi terhadap citra tubuh. Fenomena ini membuka diskusi yang lebih luas tentang dampak merugikan dari pembatasan makan dan obsesi terhadap kekurusan pada kaum muda, khususnya wanita.
Seorang "almond mom" umumnya menunjukkan karakteristik pola makan yang sangat membatasi, seringkali hanya mengonsumsi makanan ringan dan camilan sepanjang hari seperti almond. Mereka cenderung terobsesi dengan kesehatan, diet, dan citra tubuh, yang seringkali diekspresikan secara ekstrem. Pola asuh ini mendorong anak-anak untuk mengadopsi kebiasaan makan yang restriktif, memprioritaskan makanan rendah kalori dan diet, serta secara terbuka menyatakan kekhawatiran mengenai berat badan dan penampilan fisik.
Selain itu, "almond mom" sering melabeli makanan sebagai "baik" atau "buruk" melalui komentar seperti "Apakah kamu yakin butuh porsi kedua?" atau "Ini adalah makanan curang." Perilaku ini menormalisasi gagasan bahwa makanan memiliki nilai moral, yang pada akhirnya dapat menimbulkan perasaan bersalah dan malu seputar makanan pada anak. Mereka juga mungkin mengkritik makanan tambahan di piring atau lingkar pinggang orang lain, dengan dalih ingin membantu anak-anak mereka menjadi sehat.
Perilaku ortoreksia, yaitu obsesi terhadap makan "sehat" yang disamarkan sebagai kesehatan, kebugaran, dan disiplin, juga sering terlihat pada "almond mom". Ini bisa mencakup diet ketat dan hanya mengonsumsi makanan yang dianggap "bersih" atau "sehat". Mereka juga sering terlibat dalam "diet talk" dengan siapa pun, termasuk anak-anak mereka, yang menunjukkan bahwa tipe tubuh tertentu itu salah dan mempromosikan moralisasi pilihan makanan.
Dampak Mendalam Pola Asuh 'Almond Mom' pada Anak
Komentar dan perilaku dari seorang "almond mom" dapat mengubah makanan menjadi pemicu emosional bagi anak-anak. Dengan menormalisasi gagasan bahwa makanan itu "buruk" atau "baik", hal ini dapat menimbulkan perasaan bersalah dan malu yang mendalam seputar makanan. Akibatnya, anak-anak mungkin mengembangkan hubungan yang buruk dan penuh stres dengan makanan, yang mengarah pada pola makan tidak teratur seperti diet ketat, makan berlebihan, atau ortoreksia.
Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang terpapar budaya diet sejak usia dini lebih mungkin mengembangkan masalah citra tubuh, perilaku makan yang tidak teratur, dan bahkan gangguan makan. Masalah-masalah ini tidak hanya merugikan anak secara mental dan fisik, tetapi juga seringkali bertahan hingga dewasa. Lingkungan yang terus-menerus menekankan standar diet yang kaku dan pengawasan ketat terhadap penampilan dapat menciptakan kondisi yang kondusif bagi perkembangan anoreksia, gangguan makan, atau masalah kesehatan mental lainnya.
Ketika orangtua terlalu menekankan kekurusan atau penampilan fisik tertentu, seorang anak dapat merasa bahwa nilai diri mereka terikat pada penampilan. Hal ini dapat memengaruhi kepercayaan diri mereka dan berkontribusi pada pembentukan pembicaraan diri negatif. Perasaan tidak mampu dan hubungan yang tidak sehat dengan makanan dapat menyebabkan penderitaan dan kesulitan dalam membuat keputusan sederhana tentang apa yang harus dimakan setiap hari.
Pola asuh "almond mom" secara tidak langsung mengabadikan siklus gangguan makan dan citra tubuh negatif melalui sikap dan perilaku yang mereka wariskan kepada anak-anak mereka. Anak-anak yang dibesarkan dalam lingkungan fatfobia, di mana kekurusan dikaitkan dengan harga diri, lebih mungkin mengembangkan gangguan makan. Mereka juga dapat menginternalisasi sikap citra tubuh yang buruk, mulai memandang tubuh mereka sendiri secara negatif, yang pada akhirnya meningkatkan kemungkinan mengembangkan gangguan makan atau terlibat dalam perilaku kontrol berat badan yang tidak sehat.
Selain itu, semakin seorang "almond mom" membatasi anak-anak mereka dari jenis makanan tertentu, semakin tinggi kemungkinan anak tersebut makan berlebihan pada makanan yang dibatasi ketika tersedia bagi mereka. Ini adalah konsekuensi umum dari diet ketat, di mana tubuh dan pikiran beradaptasi dengan mode bertahan hidup, sehingga memicu keinginan untuk mengonsumsi makanan yang dilarang secara berlebihan.
Memutus Rantai 'Almond Mom': Langkah Menuju Hubungan Sehat dengan Makanan
Orangtua memiliki peran krusial dalam membentuk hubungan sehat anak dengan makanan dan pandangan positif terhadap diri sendiri. Mereka dapat menggeser penekanan dari rasa bersalah terhadap makanan menjadi nutrisi, dari pembatasan menjadi keseimbangan, dan dari pembicaraan diri negatif menjadi kepercayaan diri. Ini berarti menunjukkan kepada anak-anak bahwa makanan adalah sumber energi dan kenikmatan, bukan sesuatu yang harus ditakuti, serta menghindari pelabelan makanan sebagai "baik" atau "buruk".
Penting untuk menekankan pilihan makanan yang sehat dan tidak terlalu membatasi jenis makanan yang dikonsumsi. Tidak ada kelompok makanan yang "buruk"; lebih baik mengonsumsi semua kelompok makanan dalam jumlah sedang daripada menghindarinya sama sekali. Orang tua juga perlu mendengarkan isyarat lapar dan kenyang anak, serta mengajarkan mereka untuk menghargai apa yang bisa dilakukan tubuh mereka daripada fokus pada penampilan.
Bekerja sama dengan terapis atau ahli gizi yang mempraktikkan pendekatan inklusif berat badan dapat sangat membantu dalam membongkar dan menghilangkan pikiran serta perilaku negatif ini sebelum diturunkan ke generasi berikutnya. Profesional ini dapat membantu individu dan keluarga mengembangkan hubungan yang lebih sehat dengan makanan dan citra tubuh.
Selain itu, penting untuk membatasi informasi yang dikonsumsi dengan memblokir atau berhenti mengikuti konten yang memicu dan tidak mendukung kesehatan serta kesejahteraan. Mencari komunitas yang mendukung, baik secara daring maupun langsung, juga dapat menjadi langkah penting dalam proses ini, memberikan lingkungan yang positif dan saling menguatkan.