Ketika Tenun Indonesia Menjadi Bahasa Couture Wilsen Willim

Nurri Indah KholillahDiterbitkan 22 Agustus 2026, 17:35 WIB

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, perjalanan kreatif Wilsen Willim menempatkan wastra Indonesia di panggung adibusana. Momen ini dipresentasikan melalui film seri dokumenter berjudul Reinventing Tenun: Journey to Algorithm yang diputar di Jakarta pada 21 Agustus 2026.

Penayangan tersebut menjadi bagian dari perayaan satu dekade kiprah sang desainer di industri fesyen dan rangkaian kampanye "I Love Indonesia 2026" dari Plaza Indonesia. Kisah dalam dokumenter ini merangkum proses lahirnya koleksi couture perdana Wilsen, "Algorithm: Universal Language."

Eksplorasi empat wastra dilakukan langsung dari sumbernya: songket jembrana dari Bali, tenun sutera Garut dari Bandung Selatan, Jawa Barat, tenun dayak iban dari Kapuas Hulu-Putussibau, Kalimantan Barat, serta songket Minang dari Halaban, Sumatera Barat.

"Dengan wastra Indonesia, aku merasa menjadi lebih utuh. Aku adalah desainer Indonesia yang mengangkat kultur Indonesia yang sungguh luar biasa kaya," ujar Wilsen dalam keterangan film dokumenter tersebut.

Melalui Reinventing Tenun: Journey to Algorithm, publik diajak mengikuti bagaimana kekayaan wastra Nusantara diterjemahkan ke busana couture dengan pendekatan modern, namun tetap memelihara nilai budaya yang melekat pada setiap helai kain.

Di setiap daerah, Wilsen bertemu langsung dengan para perajin yang mewariskan tradisi menenun lintas generasi. Ia mengamati proses pembuatan dari dekat, meraba tekstur, dan mempelajari konstruksi serta karakter material yang kemudian menyatu dalam proses kreatif koleksinya.

Pengalaman lapangan itu memperkaya perspektifnya tentang asal-usul bahan, sekaligus menegaskan jati dirinya di kancah fesyen. "Buat aku tuh it's a very strong identity," ujar Wilsen.

2 dari 4 halaman

Kolaborasi Perajin Lokal dan Jejak Keberlanjutan

10 tahun berkarya, Wilsen Willim merilis Algorithm: Universal Language—60 tampilan memadukan wastra Nusantara, benang denim daur ulang, dan nuansa punk. (dok. Wilsen Willim)

Kerja bersama para perajin membuat kolaborasi tak berhenti pada karya akhir, tetapi menyentuh keberlanjutan produksi di lapangan. Salah satu contohnya adalah kolaborasi dengan Eva Muzdalifah dari Eva Oemah Batik melalui penggunaan motif asli Ciwaringin dalam karya Wilsen.

"Motif asli Ciwaringin yang beberapa kali Wilsen ambil itu ada yang minta repeat order gitu," ujar Eva.

Pesanan yang terus berjalan menjaga roda produksi dan memastikan para perajin tetap memiliki pekerjaan. Eva juga menyebut kolaborasi tersebut mendorong rencana pembangunan gudang batik baru sebagai penopang aktivitas yang meningkat.

Di sisi lain, pengembangan songket Minang dilakukan dengan pendekatan material yang lebih eksperimental. Penggunaan benang daur ulang membuka ruang untuk mencoba teknik baru. Material tersebut kemudian dipadukan dengan motif tradisional, melibatkan lebih banyak perajin dengan keterampilan yang beragam.

3 dari 4 halaman

Menjawab Tantangan Teknis di Ranah Couture

Wilsen Willim X ASTHA District 8 mempersembahkan pameran "Heritage Reimagined" yang berlangsung pada 6–30 Agustus 2026. (Liputan6.com/Asnida Riani)

Mengolah beragam jenis tenun ke format couture menghadirkan tantangan teknis. Tenun sutera Garut, misalnya, memiliki karakter yang tipis sehingga memerlukan perlakuan khusus. "Jadi harus dilapis kain dulu (karena tipis)," ujar dia.

Selain karakter material, Wilsen juga memperhatikan motif yang sudah terbentuk pada kain agar dapat diterjemahkan ke desain busana. "Kalau pattern sih masih oke-oke aja ya. I think yang lebih tricky is like memanfaatkan patterns yang ditenun," katanya.

Eksplorasi material berlanjut pada penggunaan benang daur ulang untuk songket Minang. Para perajin mendapati benang tersebut cenderung lebih mudah putus dan berbulu ketika ditenun. Kondisi itu membuat mereka perlu memadukannya dengan jenis benang lain agar material tetap bisa digunakan, sekaligus menghasilkan tekstur yang sesuai dengan kebutuhan koleksi.

4 dari 4 halaman

Penayangan dan Harapan Dampak Ekonomi

Desainer Wilsen Willim (kedua dari kanan belakang) di acara penayangan perdana film seri dokumenter Reinventing Tenun: Journey to Algorithm di XXI Plaza Indonesia, Jakarta, 21 Agustus 2026. ((Liputan6.com/Nurri Indah)

Bagi Wilsen, kolaborasi dengan perajin adalah proses yang melampaui pembuatan satu koleksi. Ia menaruh harapan pada dampak jangka panjang yang berkelanjutan bagi para mitra di daerah.

"Mungkin kita lihat 10 tahun lagi apa yang akan terjadi, semoga semua mitra aku juga ikut maju. Karena ternyata satisfaction membawa impact tuh membuat hatiku hangat," tutur Wilsen.

Ke depan, ia ingin batik dan tenun Indonesia menjangkau pasar yang lebih luas. Harapannya, semakin banyak masyarakat mengenal dan menggunakan wastra, sehingga permintaan terhadap karya para perajin terus bertumbuh. "Pengin memperbanyak konsumen supaya (menenun) menjadi pekerjaan tetap di sini dan bisa menjadi sesuatu yang membawa economic impact ke Indonesia," harapnya.

Setelah penayangan di Plaza Indonesia pada 21 Agustus 2026, dokumenter berdurasi 56 menit dan 57 detik ini dijadwalkan tayang secara terbatas di ASTHA DISTRIC 8 pada 24 Agustus 2026.