Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, Adrie Basuki telah menunjukkan bahwa limbah tekstil bukanlah akhir dari sebuah material, melainkan awal dari berbagai kemungkinan baru. Dalam beberapa tahun terakhir, ia mengembangkan inovasi yang mengubah cara pandang terhadap limbah industri fashion yang kian mengkhawatirkan.
Setiap tahun, jutaan ton pakaian dan sisa produksi berakhir di tempat pembuangan akhir, sementara material seperti polyester dan blended fabric masih sulit didaur ulang dengan teknologi konvensional.
Melalui inovasi terbarunya, Adrie memperkenalkan kain marmer, sebuah material yang mentransformasikan pakaian bekas dan limbah tekstil menjadi lembaran baru dengan karakter visual yang menyerupai marmer alami.
Kain marmer ini mampu mengolah berbagai jenis limbah tekstil, mulai dari katun, polyester, hingga blended fabric yang menggabungkan serat alami dan sintetis. Proses ini tidak hanya mengurangi limbah, tapi juga menciptakan produk yang unik dan menarik.
Adrie menjelaskan bahwa banyak pendekatan daur ulang tekstil lainnya masih berfokus pada katun yang relatif mudah diproses kembali menjadi benang. Namun, kain marmer mengolah material tersebut tanpa harus mengembalikannya menjadi benang.
"Bagi saya, circular fashion bukan sekadar menggunakan material daur ulang. Circular fashion adalah tentang memberi kesempatan kedua pada material, pada manusia, dan pada cerita yang pernah ada. Ketika sebuah kain memperoleh kehidupan baru, harapan juga ikut lahir bersama proses itu," ungkapnya dalam keterangan resmi pada Rabu (26/8/2026).
Proses pembuatan kain marmer melibatkan pemilahan, pencacahan, pemadatan, dan pembentukan kembali limbah tekstil menjadi lembaran material baru. Hasil dari proses yang dikembangkan selama bertahun-tahun ini adalah permukaan bertekstur dan berpola khas yang menyerupai karakter visual marmer.
Setiap lembar kain marmer memiliki komposisi dan pola yang berbeda, sehingga tidak ada dua lembar yang benar-benar sama. Keunikan ini menjadikan kain marmer bukan hanya produk daur ulang, tetapi juga medium eksplorasi antara desain, seni, dan inovasi material.
Transformasi Limbah Menjadi Karya Seni
Sejak mulai dikembangkan pada tahun 2020, kain marmer telah tumbuh dari eksperimen material menjadi sebuah platform inovasi.
Hingga tahun 2025, Adrie bersama timnya telah mentransformasikan 6.689 potong pakaian bekas, mengolah 949 kilogram limbah tekstil, menghasilkan 779 meter kain marmer, serta menciptakan 906 produk fashion yang mencakup busana siap pakai, couture, aksesori, karya seni, dan berbagai eksplorasi desain lainnya.
Perjalanan Adrie sebagai desainer mendapat momentum ketika ia meraih gelar Pemenang Lomba Perancang Mode 2021, yang menjadikan circular fashion sebagai identitas utama dalam praktik kreatifnya.
Koleksi-koleksinya, seperti "Transforma" yang menjadi penghormatan bagi penyintas kanker, dan "Benang Jiwa" yang dipresentasikan bersama Prisia Nasution, mengangkat kisah ketangguhan penyintas kanker. Koleksi terbaru, "Jantung Nadi", mengeksplorasi kesehatan jantung lewat interpretasi batik kontemporer.
Kolaborasi dan Dampak Sosial
Konsistensi Adrie dalam mengangkat tema keberlanjutan membuka ruang kolaborasi lintas industri. Ia bekerja sama dengan UNIQLO pada tahun 2022 dalam program bertema keberlanjutan, menghadirkan karya bersama Sofitel pada tahun 2023, serta menjalin kolaborasi dengan Mazda Indonesia pada tahun 2026.
Kolaborasi-kolaborasi ini menunjukkan potensi kain marmer untuk berkembang melampaui fashion, mencakup ranah aksesori, seni, dan interior.
Dampak sosial juga menjadi bagian penting dari perjalanan kain marmer. Melalui workshop, pelatihan, dan berbagai program kolaborasi, Adrie bekerja sama dengan Cancer Information & Support Center, Love Pink Indonesia, Make-A-Wish Indonesia, dan Yayasan Jantung Indonesia.
Program-program ini melibatkan penyintas kanker, perempuan dari komunitas rentan, ibu rumah tangga dengan keterbatasan akses ekonomi, seniman neurodivergent, dan perajin lokal, menjadikan fashion sebagai sarana untuk membangun keterampilan sekaligus membuka akses ekonomi kreatif.
Bagi Adrie, setiap orang memiliki cerita yang layak dihargai, sebagaimana setiap potongan kain memiliki kesempatan untuk memperoleh kehidupan baru.