Warisan Karya Yayoi Kusama: Pola, Ruang Cermin, dan Kisah Tanpa Batas

Nurri Indah KholillahDiterbitkan 27 Agustus 2026, 16:21 WIB

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, kabar duka datang dari dunia seni kontemporer. Yayoi Kusama, seniman avant-garde asal Jepang, meninggal dunia pada 14 Agustus 2026 di sebuah rumah sakit di Tokyo pada usia 97 tahun. Kabar tersebut diumumkan oleh studio sang seniman pada Kamis (27/8/2026).

Sejak mengawali karier pada akhir 1950-an, Yayoi Kusama berkembang menjadi salah satu seniman Jepang paling dikenal di dunia. Namanya lekat dengan polka dot, seri lukisan berulang Infinity Nets, motif labu, serta instalasi Infinity Mirror Rooms yang menawarkan pengalaman visual imersif berbasis repetisi.

Daya tarik karyanya melampaui tampilan warna dan pola. Di balik repetisi yang menjadi ciri khas, Kusama menggarap gagasan tentang kehidupan, alam semesta, pengalaman personal, serta hubungan manusia dengan ruang di sekitarnya. Warisan inilah yang terus hidup di benak publik lintas generasi dan budaya.

Melansir MyArtBroker, Kamis (27/8/2026), polka dot dalam karya Yayoi Kusama merepresentasikan bagian-bagian kecil dari alam semesta yang tidak memiliki batas. Gagasan tentang ketidakterbatasan itu kemudian berkembang melalui instalasi bercermin seperti Infinity Mirror Rooms. Sementara itu, Obliteration Room mengeksplorasi hilangnya batas antara individu dan lingkungan di sekitarnya.

Pola dan pengulangan menjadi bahasa visual yang konsisten dalam perjalanan kreatif Kusama. Selain polka dot, ia juga dikenal melalui Infinity Nets yang menegaskan obsesi pada ritme, repetisi, dan keluasan permukaan. Melalui pendekatan ini, konsep ruang dan tanpa batas menjadi narasi yang terus hadir.

Dengan bingkai gagasan tersebut, karya-karya Kusama terasa dekat dengan pengalaman manusia. Pengunjung tidak hanya ditempatkan sebagai penonton, melainkan diajak masuk dan berinteraksi langsung dengan instalasi. Dalam proses itulah batas antara karya dan penikmat seni menjadi kian samar, membuka ruang bagi pengalaman yang bersifat personal.

2 dari 4 halaman

Ruang Cermin dan Ketidakterbatasan

Datang dan ramaikan pameran di Museum MACAN dengan melihat kembali karya fenomenal dari Yayoi Kusama. (Foto dok: Museum MACAN).

Eksplorasi Kusama terhadap konsep tanpa batas mulai menonjol pada 1965 melalui Infinity Mirror Room—Phalli’s Field. Instalasi ini mengembangkan pola khasnya menjadi pengalaman imersif dengan memanfaatkan cermin dan cahaya untuk menciptakan pantulan berulang serta ilusi ruang yang tidak bertepi.

Di dalam ruang-ruang ini, pengunjung tidak sekadar menyaksikan instalasi, tetapi turut menjadi bagian dari karya. Di balik sensasi visual, Infinity Mirror Rooms memuat gagasan tentang kehidupan, kefanaan, dan kematian yang berkelindan dengan pengalaman masa kecil Kusama.

Pemikiran tersebut beririsan dengan konsep self-obliteration, yakni meleburkan diri ke dalam lingkungan yang berulang kali muncul dalam karyanya. Popularitas pendekatan ini terlihat jelas saat pameran Infinity Mirrors di Hirshhorn berlangsung selama tiga bulan, menghadirkan hampir 160.000 pengunjung yang datang untuk mengalami langsung karya-karya Kusama.

3 dari 4 halaman

Keterlibatan Publik Lewat Obliteration Room

The Obliteration Room (Liputan6/Vinsensia Dianawanti)

Obliteration Room mengajak publik terlibat langsung dalam proses penciptaan. Instalasi ini dimulai sebagai sebuah ruangan serba putih, lengkap dengan furnitur berwarna senada. Setiap pengunjung menerima stiker berbentuk titik dalam beragam warna untuk ditempelkan secara bebas di dinding, furnitur, dan berbagai permukaan di dalamnya.

Dipresentasikan pertama kali di Queensland Art Gallery pada 2002, ruangan tersebut perlahan bertransformasi. Dari lingkungan putih yang kosong, permukaan ruang berubah menjadi hamparan penuh titik warna-warni. Setiap stiker yang ditempel menjadi bagian dari perubahan itu, sehingga hasil akhir terbentuk melalui partisipasi pengunjung, bukan semata-mata keputusan Kusama.

Seiring meningkatnya popularitas, konsep Obliteration Room hadir di berbagai institusi seni dunia, termasuk Tate Modern dan Hirshhorn Museum. Melalui karya ini, Kusama menghadirkan pengalaman seni yang partisipatif sekaligus mengaburkan batas antara seniman, karya, ruang, dan penikmatnya.

4 dari 4 halaman

Motif Labu yang Menghadirkan Nostalgia

Salah satu Labu Raksasa karya Yayoi Kusama di pulau Naoshima | unsplash.com/@rena07

Labu menjadi salah satu motif paling ikonik dalam karya Yayoi Kusama. Ketertarikannya pada objek ini tumbuh sejak masa kecil dan kemudian berkembang menjadi bagian penting dari bahasa visualnya. Baginya, bentuk labu menjadi medium untuk menuangkan sekaligus mengendalikan gambaran yang muncul dalam pikirannya.

Lebih dari sekadar objek, labu merepresentasikan kenyamanan, nostalgia, pertumbuhan, dan kegembiraan dalam kehidupan. Bentuknya yang sederhana, dipadukan dengan warna cerah dan tekstur khas, membuat motif ini mudah dikenali di berbagai karya sang seniman.

Motif labu hadir dalam beragam bentuk, dari patung hingga instalasi berskala besar. Pada 1991, Kusama menciptakan Mirror Room (Pumpkin), yang memadukan labu dengan ruang bercermin untuk menghasilkan ilusi pengulangan tanpa batas. Sementara itu, patung Pumpkin yang dibuat pada 1994 menampilkan labu berukuran besar berwarna kuning dengan pola titik hitam yang menjadi ciri khasnya.