Fimela.com, Jakarta - Gaya personal anak muda Indonesia hari ini tidak lagi mengikuti satu pakem yang seragam. Di Jakarta, gaya mix-and-match antara kasual dan mewah, memadukan hoodie dengan blazer, misalnya, jadi ciri khas yang mudah ditemui, sementara di kota lain gaya vintage, thrifted, hingga bohemian punya panggungnya sendiri. Personal style kini jadi bahasa ekspresi, cara anak muda menunjukkan siapa diri mereka tanpa harus terlihat sama dengan orang lain.
Pergeseran ini membuat ruang untuk bereksplorasi gaya personal jadi semakin penting. Bukan cuma soal produk apa yang dibeli, tapi juga soal tempat di mana seseorang bisa menemukan dan membentuk gaya khasnya sendiri—mencoba, memadukan, dan akhirnya menentukan pilihan yang benar-benar merepresentasikan karakter personal.
MCM Hadirkan Ruang Baru untuk Eksplorasi Gaya di Plaza Indonesia
Menjawab kebutuhan ini, MCM sebagai rumah mode asal Munich yang berdiri sejak 1976 resmi membuka kembali butiknya di Level 2 Plaza Indonesia, salah satu destinasi belanja premium paling bergengsi di Jakarta. Kehadiran ini menandai transformasi dari yang sebelumnya berupa pop-up store menjadi destinasi retail permanen, dengan layout yang lebih luas dan interior yang dirancang ulang untuk pengalaman berbelanja yang lebih elevated.
Ruang baru ini merefleksikan identitas khas MCM: memadukan warisan craftsmanship dengan ekspresi modern yang individual—filosofi yang selama ini dikenal sebagai "sophisticated rebellion" ala MCM, dan terasa relevan dengan semangat anak muda yang ingin tampil beda.
Cerita di Balik Koleksi Autumn/Winter 2026
Di usianya yang ke-50 tahun, MCM tidak sekadar merayakan momen ini lewat koleksi baru, tapi juga lewat storytelling yang lebih personal. Menjangkar campaign Autumn/Winter 2026 adalah Domestic Geometry, film pendek arahan Lucio Castro, sutradara asal Argentina yang karyanya pernah tampil di Cannes dan Berlinale. Berlatar dunia "MCM Haus", film ini mengikuti kisah keluarga yang berkumpul di bawah satu atap, dipimpin sosok ibu yang diperankan aktris Prancis Nathalie Richard, lengkap dengan momen seorang anak yang pulang dari luar negeri membawa hadiah-hadiah bermakna bagi keluarganya.
"Domestic Geometry dibayangkan sebagai kajian yang tenang dan intim tentang kehidupan keluarga, di mana gestur-gestur kecil dan ritual yang tak terucap mengungkap lapisan afeksi, memori, dan rasa memiliki yang lebih dalam. Saya tertarik pada gagasan bahwa objek adalah pembawa makna—tas dalam film ini bukan sekadar aksesori, tapi bagian dari bahasa cerita itu sendiri," ujar Lucio Castro.
Sisi visualnya turut dihidupkan lewat lensa fotografer Luna Conte, yang dikenal memadukan sensibilitas dokumenter dengan narasi imajinatif—cara pandang yang menegaskan bagaimana objek personal bisa jadi cerminan identitas seseorang.
Pina Line dan Ikon-Ikon MCM yang Diperbarui
Dalam koleksi ini, tas menjadi elemen emosional sekaligus pusat perhatian. Lini Pina—koleksi kulit heritage MCM—dihadirkan kembali dengan siluet yang ditrim detail stud terinspirasi diamond, sebagai bentuk dialog antara masa lalu dan masa depan brand di momen ulang tahun ke-50 ini. Bentuk-bentuk baru yang terinspirasi era 80-an turut hadir, termasuk Tambourine yang membulat, serta Dia shoulder bag yang debut dalam kulit quilted warna hitam dan gold yang mengilap. Ikon klasik MCM seperti Liz, Ella, dan Tracy pun diperbarui lewat material seperti Italian recycled nylon dan finishing Cinnamon Visetos.
Yang menarik, keseluruhan koleksi ini sengaja di-styling dengan pendekatan mismatched—menciptakan tampilan yang terasa personal, lived-in, dan sengaja tidak seragam. Pendekatan ini sejalan betul dengan semangat anak muda masa kini yang tidak ingin gayanya terlihat sama dengan orang lain.
Dengan wajah baru di Plaza Indonesia, MCM bukan sekadar membuka toko—tapi menghadirkan satu lagi ruang di Jakarta bagi anak muda untuk berhenti sejenak, bereksplorasi, dan akhirnya menemukan gaya yang benar-benar terasa seperti diri mereka sendiri.