Menemukan Ketenangan di Atas Mat: Rahasia Pilates Mengatasi Burnout Kerja

Eastara VigaskaDiterbitkan 18 September 2026, 16:58 WIB

Fimela.com, Jakarta - Burnout kerja dapat membuat seseorang merasa lelah secara fisik maupun emosional setelah menghadapi tuntutan pekerjaan dalam waktu yang terus-menerus. Di tengah rutinitas tersebut, aktivitas fisik seperti Pilates dapat menjadi salah satu pilihan untuk membantu tubuh mendapatkan waktu beristirahat dari kesibukan. Pilates merupakan latihan yang menekankan gerakan terkontrol, pernapasan, keseimbangan, serta kesadaran terhadap posisi tubuh.

Saat melakukan Pilates, seseorang perlu memperhatikan gerakan dan ritme pernapasan sehingga perhatian dapat dialihkan sejenak dari pekerjaan maupun berbagai pikiran yang memenuhi kepala. Aktivitas ini juga dapat dilakukan dengan intensitas yang disesuaikan dengan kemampuan masing-masing.

Dilansir dari Cleveland Clinic, Pilates dapat membantu meningkatkan kekuatan, fleksibilitas, keseimbangan, serta kesadaran terhadap tubuh. Latihan yang dilakukan secara teratur juga dapat menjadi bagian dari gaya hidup aktif yang mendukung kesehatan secara menyeluruh.  Meski bukan pengganti penanganan profesional saat terjadi burnout, meluangkan waktu di atas mat dapat menjadi salah satu bentuk self-care sederhana setelah menjalani saat hari yang penuh tekanan.

2 dari 3 halaman

Gerakan Pilates yang Bikin Tubuh Lebih Rileks Setelah Seharian Kerja

Terlalu lama berada di depan laptop dapat membuat tubuh terasa kaku. Pilates membantu mengajak tubuh kembali bergerak dengan gerakan yang terkontrol. (Foto/Dok: Pexels)

Setelah berjam-jam duduk di depan laptop, tubuh bisa terasa kaku, terutama pada bagian punggung, bahu, leher, dan pinggul. Kondisi tersebut dapat membuat rasa lelah setelah bekerja semakin terasa. Pilates menawarkan berbagai gerakan yang berfokus pada kekuatan inti, fleksibilitas, keseimbangan, serta kontrol tubuh sehingga dapat menjadi pilihan aktivitas setelah menyelesaikan pekerjaan.

Dilansir dari Harvard Health Publishing, aktivitas fisik dapat membantu mengurangi stres dan memberikan manfaat bagi kesehatan mental. Pilates juga melibatkan koordinasi antara gerakan dan pernapasan, sehingga latihan dapat dilakukan dengan lebih sadar dan tidak terburu-buru. 

Beberapa gerakan dasar seperti pelvic curl, spine stretch, cat-cow, dan shoulder bridge dapat dilakukan untuk membantu tubuh kembali aktif setelah terlalu lama berada dalam posisi duduk. Namun, gerakan tetap perlu disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi tubuh masing-masing. 

Pilates tidak harus dilakukan dalam sesi panjang. Menyisihkan waktu sekitar 15–30 menit setelah bekerja dapat menjadi kesempatan untuk bergerak sekaligus memberikan jeda sebelum kembali menjalani aktivitas lainnya dengan tubuh yang lebih rileks dan segar.

3 dari 3 halaman

Bawa Pilates ke Rutinitas Harian untuk Membantu Mencegah Burnout

Sesi singkat di atas mat bisa menjadi ritual sederhana untuk menutup hari kerja dan kembali fokus pada diri sendiri. (Foto/Dok: Pexels)

Pilates tidak harus menjadi aktivitas yang dilakukan berjam-jam untuk bisa masuk ke dalam rutinitas harian. Justru, menentukan waktu latihan yang realistis dapat membuat kebiasaan ini lebih mudah dipertahankan. Setelah menyelesaikan pekerjaan, misalnya, luangkan waktu sekitar 15–30 menit untuk melakukan beberapa gerakan Pilates sebelum melanjutkan aktivitas pribadi.

Dilansir dari Better Health Channel, aktivitas fisik secara teratur dapat membantu mengelola stres dan mendukung kesehatan secara keseluruhan. Karena itu, konsistensi lebih penting daripada memaksakan durasi latihan yang panjang. Pilih waktu yang paling nyaman dan sesuaikan intensitas latihan dengan kondisi tubuh.

Rutinitas Pilates juga bisa menjadi batas sederhana antara waktu kerja dan waktu pribadi. Setelah seharian berkutat dengan laptop dan berbagai tugas, berpindah ke mat dapat menjadi tanda bahwa aktivitas pekerjaan telah selesai. Selama latihan, fokuskan perhatian pada gerakan dan pernapasan tanpa perlu memikirkan pekerjaan untuk sementara. 

Meski begitu, burnout membutuhkan perhatian lebih dari sekadar olahraga. Istirahat cukup, batasan jam kerja, pola hidup seimbang, serta dukungan profesional bila diperlukan tetap menjadi bagian penting dalam menjaganya.