Fimela.com, Jakarta - BKGN 2026 kembali hadir dengan membawa perhatian pada pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut secara menyeluruh. Memasuki penyelenggaraan ke-17, program yang digelar Unilever Indonesia melalui Pepsodent bersama sejumlah organisasi kesehatan gigi ini mengangkat topik keseimbangan microbiome mulut sebagai bagian dari edukasi kepada masyarakat.
Menurut Prof. drg. Suryono, S.H., M.M., Ph.D., rongga mulut merupakan komunitas mikroba terbesar kedua dalam tubuh manusia dan dihuni lebih dari 700 spesies mikroorganisme. Microbiome tersebut terdiri dari bakteri baik dan bakteri yang berpotensi merugikan. Ketika keseimbangannya terganggu atau saat mengalami dysbiosis, bakteri yang merugikan dapat berkembang lebih dominan dan memicu berbagai masalah kesehatan gigi.
Gangguan keseimbangan microbiome dapat berkaitan dengan pembentukan plak, gigi berlubang, radang gusi, hingga bau mulut. Karena itu, perawatan kesehatan gigi tidak hanya bertujuan membersihkan bakteri, tetapi juga menjaga kondisi rongga mulut tetap seimbang. Melalui BKGN 2026, pemahaman mengenai microbiome mulut diperkenalkan sebagai bagian dari langkah preventif untuk mendukung kesehatan gigi dan mulut dalam jangka panjang.
Kebiasaan Sehari-hari Bisa Memengaruhi Keseimbangan Microbiome Mulut
Kebiasaan sehari-hari turut berperan dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut. Dalam data yang disampaikan BKGN 2026, sebanyak 47,5 persen masyarakat Indonesia tercatat mengonsumsi minuman manis lebih dari sekali dalam sehari. Konsumsi gula yang terlalu sering dapat membuat bakteri menghasilkan asam secara berulang, sehingga lingkungan rongga mulut menjadi lebih asam dan meningkatkan risiko demineralisasi enamel hingga terbentuk karies.
Di sisi lain, meskipun 95,6 persen masyarakat menyikat gigi setiap hari, hanya 6,2 persen yang melakukannya pada waktu yang tepat. Kebiasaan memeriksakan kondisi gigi juga masih perlu diperhatikan. Saat mengalami masalah gigi dan mulut, hanya 11,2 persen masyarakat yang mencari tenaga medis gigi dalam satu tahun.
Berbagai kebiasaan tersebut menjadi perhatian karena 57 persen penduduk Indonesia usia tiga tahun ke atas masih mengalami masalah kesehatan gigi dan mulut. Untuk membantu menjaga keseimbangan microbiome mulut, BKGN 2026 mendorong perawatan yang tepat, membatasi konsumsi gula, mengonsumsi makanan bergizi dan kaya serat, serta mencukupi kebutuhan cairan.
Menghindari rokok, mengelola stres, mencukupi waktu tidur, dan rutin berkonsultasi dengan dokter gigi setidaknya setiap enam bulan juga menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan rongga mulut.
BKGN 2026 Perluas Akses Edukasi dan Pelayanan Kesehatan Gigi di Indonesia
BKGN 2026 memperluas edukasi dan pelayanan kesehatan gigi serta mulut ke berbagai wilayah Indonesia. Setelah diresmikan melalui kegiatan edukasi dan pemeriksaan bagi siswa SDN Menteng 01 Jakarta, rangkaian program ini akan berlangsung selama Oktober hingga Desember 2026 di 29 Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) dan Rumah Sakit Gigi dan Mulut Pendidikan (RSGMP) yang tersebar di berbagai daerah.
Bersama PB PDGI, BKGN 2026 juga akan memberikan edukasi di enam kota dan kabupaten di Jawa Barat serta sejumlah daerah terdampak bencana, yaitu Nusa Tenggara Timur dan Papua. Perluasan ini menjadi bagian dari upaya mendekatkan akses tenaga profesional kepada masyarakat yang masih menghadapi berbagai tantangan dalam mendapatkan pemeriksaan gigi.
Selain itu, BKGN 2026 menjangkau pesantren dan komunitas ibu sebagai penggerak kebiasaan baik di lingkungan masing-masing. Sebagai langkah awal, sebanyak 384 siswa SDN Menteng 01 telah mengikuti edukasi serta mendapatkan pelayanan kesehatan gigi dan mulut dari tenaga medis gigi.
Melalui rangkaian tersebut, BKGN 2026 tidak hanya menghadirkan pemeriksaan, tetapi juga mendorong tindakan preventif dan pemahaman mengenai pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut secara berkelanjutan.