Tips Mengajarkan Anak Bijak Menggunakan Uang Saku

Devita AdyaDiterbitkan 23 September 2026, 12:00 WIB

Fimela.com, Jakarta - Mengajarkan anak mengelola uang saku dapat dimulai dari hal sederhana, yaitu mengenalkan perbedaan antara kebutuhan dan keinginan. Anak perlu memahami bahwa tidak semua hal yang menarik harus langsung dibeli begitu ia melihatnya. Sebagai contoh, uang saku dapat digunakan untuk membeli makanan bergizi atau keperluan sekolah seperti alat tulis, yang memang termasuk kebutuhan. Sementara itu, mainan baru atau jajanan tambahan lebih tepat dikategorikan sebagai keinginan yang bisa ditunda atau dipertimbangkan lebih matang.

Dilansir dari Consumer Financial Protection Bureau (CFPB), anak-anak dapat mulai mempelajari konsep menabung dan menggunakan uang sejak usia dini. Orang tua dianjurkan membimbing anak memahami pilihan keuangan, termasuk cara merencanakan penggunaan uang dan menentukan prioritas sesuai kebutuhan.

Salah satu cara efektif adalah mengajak anak berdiskusi sebelum uang saku digunakan. Orang tua dapat bertanya apa yang ingin dibeli dan mengapa barang tersebut dianggap penting. Melalui percakapan sederhana ini, anak belajar mempertimbangkan pilihan secara matang sebelum mengeluarkan uang.

Kebiasaan kecil semacam ini, jika dilakukan secara konsisten, akan membantu anak memahami bahwa memiliki uang berarti juga memiliki tanggung jawab untuk menentukan cara terbaik dalam menggunakannya, sekaligus membentuk pola pikir finansial yang sehat sejak dini.

2 dari 3 halaman

Ajarkan Anak Membagi Uang Saku

Membagi uang saku ke dalam beberapa kebutuhan dapat menjadi cara sederhana untuk mengenalkan konsep pengeluaran, menabung, dan membuat perencanaan keuangan. (Foto/Dok: Pexels)

Setelah memahami perbedaan antara kebutuhan dan keinginan, anak dapat mulai belajar membagi uang sakunya. Orang tua tidak perlu mengenalkan perhitungan keuangan yang rumit. Cukup ajarkan pembagian sederhana berdasarkan tujuan, misalnya sebagian untuk digunakan sehari-hari, sebagian untuk ditabung, dan sebagian lainnya untuk keperluan tertentu yang sudah direncanakan.

Orang tua dapat menggunakan beberapa wadah atau celengan berbeda untuk membantu anak memahami pembagian tersebut secara nyata. Satu wadah dapat digunakan untuk uang yang boleh dibelanjakan, sedangkan wadah lainnya khusus untuk tabungan. Anak juga dapat memiliki tabungan tersendiri untuk membeli sesuatu yang sudah lama diinginkan.

Cara ini membantu anak memahami bahwa uang saku tidak harus langsung dihabiskan begitu diterima. Mereka juga belajar bahwa mendapatkan sesuatu yang diinginkan terkadang membutuhkan proses menabung dan kesabaran dalam menunggu.

Jumlah uang yang dialokasikan pada tiap wadah tidak harus sama setiap kali. Orang tua dapat menyesuaikannya dengan kebutuhan dan jumlah uang saku anak saat itu. Yang terpenting adalah memberikan kesempatan kepada anak untuk berlatih mengambil keputusan sendiri dan memahami konsekuensi dari setiap pilihan penggunaan uangnya, sehingga kebiasaan finansial yang baik terbentuk sejak dini.

3 dari 3 halaman

Berikan Kesempatan Anak Belajar dari Kesalahan

Kesalahan dalam menggunakan uang saku dapat menjadi pengalaman bagi anak untuk belajar mengambil keputusan dan mengelola uang dengan lebih bertanggung jawab. (Foto/Dok: Pexels)

Dalam proses belajar mengelola uang, anak mungkin pernah menghabiskan uang sakunya terlalu cepat atau membeli sesuatu yang ternyata tidak terlalu dibutuhkan. Situasi tersebut dapat menjadi kesempatan bagi orang tua untuk mengajarkan tanggung jawab, bukan sekadar memarahi atau menyalahkan anak.

Ketika uang saku habis sebelum waktunya, orang tua dapat mengajak anak membicarakan penyebabnya. Tanyakan apa yang dibeli, mengapa anak memilih membelinya, dan apakah keputusan tersebut masih dianggap tepat. Dari percakapan ini, anak dapat belajar mengevaluasi pilihan yang telah dibuat.

Orang tua juga dapat mengajak anak membuat rencana sederhana untuk penggunaan uang saku berikutnya. Misalnya, menentukan jumlah yang ingin ditabung atau membuat daftar barang yang memang ingin dibeli. Dengan begitu, anak memiliki tujuan yang lebih jelas sebelum menggunakan uangnya.

Selain memberikan kesempatan untuk belajar, orang tua sebaiknya memberikan contoh melalui kebiasaan sehari-hari. Saat berbelanja, orang tua dapat menunjukkan cara membandingkan harga, mempertimbangkan kebutuhan, dan menunda pembelian yang belum diperlukan. Kebiasaan tersebut perlahan dapat membantu anak membangun sikap bijak terhadap uang sejak dini.