Fimela.com, Jakarta - Punya anak tentu membuat prioritas keuangan ikut berubah. Ada kebutuhan sehari-hari, biaya rumah tangga, dana darurat, hingga dana pendidikan anak yang perlu dipikirkan sejak awal. Meski begitu, orangtua juga tetap membutuhkan waktu untuk menikmati hidup. Entah itu makan di restoran favorit, pergi liburan, atau sekadar mengambil waktu untuk healing setelah menjalani rutinitas yang padat.
Dilansir dari Fidelity, menentukan target dana pendidikan dan mulai menabung sedini mungkin dapat membantu orangtua mempersiapkan biaya pendidikan secara bertahap. Jumlahnya pun bisa disesuaikan dengan biaya yang ingin ditanggung dan kemampuan finansial masing-masing keluarga. Menabung secara rutin juga dapat membantu target terasa lebih ringan karena tidak perlu mengumpulkan semuanya dalam waktu singkat.
Meski begitu, menyiapkan dana pendidikan bukan berarti semua penghasilan harus masuk ke tabungan. Kalau seluruh pengeluaran untuk bersenang-senang langsung dihapus, mengatur keuangan justru bisa terasa seperti beban.
Yang penting adalah mengetahui batasnya. Dana pendidikan punya tujuan jangka panjang, sementara budget untuk healing bisa menjadi ruang untuk menikmati hidup saat ini. Keduanya tidak harus saling mengalahkan jika sejak awal sudah diberi porsi masing-masing.
Jadi, persoalannya bukan lagi “harus pilih dana pendidikan atau healing?”, tetapi bagaimana membuat keduanya bisa berjalan dalam kondisi keuangan yang sama.
Mulai dengan Menentukan Porsi yang Sesuai
Setelah tahu bahwa menabung dan menikmati hidup bisa berjalan bersamaan, langkah berikutnya adalah membuat pembagian yang lebih jelas. Tidak perlu langsung menggunakan angka yang rumit. Yang penting, setiap kebutuhan punya tempat dalam penghasilan bulanan.
1. Tentukan target dana pendidikan
Mulai dengan memperkirakan kebutuhan pendidikan yang ingin disiapkan. Tidak harus langsung mengejar nominal besar. Target tersebut bisa dibagi menjadi jumlah bulanan yang terasa lebih masuk akal.
Misalnya, daripada memikirkan angka puluhan atau ratusan juta sekaligus, fokus dulu pada berapa banyak yang bisa disisihkan secara rutin setiap bulan. Dengan begitu, menabung terasa seperti kebiasaan, bukan beban besar yang harus dipenuhi dalam waktu singkat.
2. Sisihkan budget khusus untuk healing
Setelah kebutuhan utama dan tabungan pendidikan ditentukan, sisakan ruang untuk menikmati hidup. Nominalnya tentu bisa berbeda untuk setiap keluarga.
Healing juga tidak selalu berarti liburan mahal. Makan di luar, pergi ke salon, menonton film, staycation singkat, atau sekadar ngopi bersama teman bisa masuk ke dalam budget ini.
Dengan adanya batas yang jelas, kita tetap bisa menikmati waktu tanpa merasa bersalah karena sudah mengeluarkan uang.
3. Gunakan penghasilan tambahan dengan bijak
Ketika mendapat bonus atau pemasukan tambahan, tidak harus semuanya masuk ke dana pendidikan. Sebagian bisa digunakan untuk memperkuat tabungan, sebagian lainnya bisa dipakai untuk kebutuhan keluarga atau hal yang memang sudah direncanakan.
Dengan cara ini, menikmati hasil kerja tetap terasa menyenangkan tanpa membuat target keuangan ikut berantakan.
Tidak Perlu Terlalu Ketat, yang Penting Konsisten
Beberapa kebiasaan sederhana berikut bisa membantu menjaga keseimbangan:
1. Cek kembali pengeluaran setiap bulan
Coba luangkan waktu untuk melihat ke mana saja uang pergi. Bukan untuk menyalahkan diri sendiri karena terlalu banyak mengeluarkan uang, tetapi untuk mengetahui apakah pembagian budget masih sesuai.
Kalau ternyata pengeluaran untuk makan di luar terlalu besar, misalnya, bulan berikutnya bisa sedikit dikurangi. Uang yang tersisa dapat dialihkan ke tabungan atau kebutuhan lain.
2. Jangan merasa bersalah saat healing
Menjadi orangtua memang membawa tanggung jawab baru, tetapi bukan berarti kebutuhan pribadi harus selalu berada di urutan terakhir. Selama kebutuhan utama dan target keuangan sudah diperhitungkan, menggunakan sebagian uang untuk menikmati hidup tetap bisa menjadi bagian dari rencana.
Sebab, istirahat dan menikmati waktu bersama orang tersayang juga memiliki nilai tersendiri.
3. Sesuaikan target ketika kondisi berubah
Penghasilan dan kebutuhan keluarga tidak selalu sama setiap bulan. Ketika ada pengeluaran tak terduga, target menabung bisa saja perlu disesuaikan untuk sementara. Begitu kondisi kembali stabil, jumlahnya bisa dinaikkan lagi.
4. Fokus pada konsistensi, bukan kesempurnaan
Tidak perlu memaksakan nominal besar jika memang belum mampu. Menabung secara rutin sesuai kemampuan bisa menjadi langkah yang lebih realistis daripada membuat target tinggi tetapi sulit dipertahankan.