Kembali ke Dompet Fisik, Tren Cash Stuffing Bantu Kendalikan Belanja Online

Devita AdyaDiterbitkan 08 Oktober 2026, 18:52 WIB

Fimela.com, Jakarta - Belanja online memang menawarkan kemudahan. Hanya dengan beberapa kali klik, barang yang diinginkan bisa langsung masuk keranjang dan dibayar. Namun, kemudahan tersebut juga dapat membuat seseorang kurang menyadari seberapa banyak uang yang telah dikeluarkan. Salah satu cara yang kembali populer untuk mengatasinya adalah cash stuffing, yaitu metode mengatur anggaran menggunakan uang tunai yang dibagi ke dalam beberapa kategori.

Dilansir dari Consumer Financial Protection Bureau (CFPB), metode amplop dapat digunakan untuk membagi uang berdasarkan kategori pengeluaran sehingga anggaran lebih mudah dipantau.

Konsepnya sederhana. Uang yang sudah dialokasikan untuk kebutuhan tertentu dipisahkan ke dalam dompet, amplop, atau wadah berbeda. Misalnya, ada bagian khusus untuk kebutuhan harian, transportasi, hiburan, belanja pribadi, dan tabungan. Ketika uang pada satu kategori habis, pengeluaran untuk kebutuhan tersebut perlu dihentikan atau ditunda hingga periode anggaran berikutnya.

Dengan melihat uang secara fisik, batas pengeluaran terasa lebih nyata. Metode ini juga dapat membantu seseorang lebih sadar sebelum melakukan pembelian yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan. Selain itu, cash stuffing membuat proses mengatur keuangan menjadi lebih terstruktur karena setiap pengeluaran memiliki batas yang jelas. Dengan begitu, kebiasaan belanja impulsif dapat ditekan dan pengelolaan keuangan menjadi lebih terkontrol.

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

Cara Menerapkan Cash Stuffing agar Belanja Lebih Terkontrol

Tidak harus dilakukan secara rumit, cash stuffing bisa dimulai dengan menentukan kategori pengeluaran dan menetapkan batas uang yang realistis. (Foto/Dok: Magnific)

Menerapkan cash stuffing tidak berarti seluruh transaksi harus kembali menggunakan uang tunai. Metode ini dapat disesuaikan dengan kebiasaan dan kebutuhan masing-masing. Hal terpenting adalah membuat batas pengeluaran yang mudah dipahami dan dipantau.

Langkah pertama, catat pemasukan dan kebutuhan rutin setiap bulan. Setelah itu, tentukan berapa jumlah uang yang dapat digunakan untuk pengeluaran fleksibel. Bagian tersebut kemudian dibagi ke dalam beberapa kategori, seperti makan di luar, transportasi, hiburan, belanja pribadi, hingga kebutuhan rumah.

Selanjutnya, tentukan nominal untuk setiap kategori. Hindari menetapkan angka hanya berdasarkan keinginan. Perhatikan pengeluaran pada bulan sebelumnya agar jumlahnya tetap realistis. Jika biasanya menghabiskan Rp500 ribu untuk hiburan, misalnya, jumlah tersebut dapat dijadikan titik awal sebelum menentukan batas baru.

Bagi pengguna yang lebih sering melakukan transaksi digital, sistem ini juga bisa dibuat dalam bentuk kombinasi. Uang untuk kebutuhan tertentu dapat disimpan secara tunai, sedangkan kategori lainnya dicatat dalam aplikasi atau spreadsheet.

Hal terpenting adalah konsisten memeriksa sisa anggaran sebelum membeli sesuatu. Dengan begitu, cash stuffing bukan sekadar tren, tetapi menjadi kebiasaan untuk lebih sadar terhadap setiap pengeluaran.

3 dari 3 halaman

Cash Stuffing Bantu Lebih Sadar Saat Belanja

Cash stuffing dapat menjadi pengingat sederhana untuk membedakan kebutuhan dan keinginan, terutama ketika godaan belanja online hadir setiap saat. (Foto/Dok: Pexels)

Daya tarik cash stuffing bukan hanya karena penggunaan uang tunai, tetapi juga karena metode ini membuat seseorang lebih sadar terhadap batas pengeluarannya. Ketika anggaran sudah ditentukan sejak awal, keputusan untuk membeli sesuatu menjadi lebih terukur. Sebelum checkout, seseorang dapat melihat kembali apakah pembelian tersebut masih sesuai dengan dana yang tersedia.

Agar lebih efektif, buat kategori berdasarkan kebiasaan belanja yang memang sering dilakukan. Jangan terlalu banyak membuat kategori karena justru dapat membuat sistem terasa merepotkan. Pilih beberapa kebutuhan utama dan evaluasi penggunaannya setiap akhir minggu atau akhir bulan.

Jika masih sering tergoda promo, tambahkan kategori khusus untuk belanja impulsif. Bukan berarti pengeluaran tersebut harus dihilangkan sepenuhnya. Menyediakan batas tertentu justru dapat membantu menikmati keinginan tanpa mengganggu kebutuhan lain.

Selain itu, manfaatkan fitur pengingat pada aplikasi perbankan atau catatan keuangan untuk memantau transaksi digital. Dengan begitu, konsep cash stuffing tetap bisa diterapkan meski sebagian besar pembayaran dilakukan secara online.

Pada akhirnya, tujuan metode ini bukan membuat seseorang berhenti berbelanja, melainkan membantu menciptakan batas yang lebih jelas. Ketika setiap pengeluaran memiliki tempat dalam anggaran, kebiasaan belanja dapat menjadi lebih terencana dan tidak mudah terbawa keinginan sesaat.