Mengenal Shift-Parenting, Cara Pasangan Berbagi Tanggung Jawab dalam Mengasuh Anak

Devita AdyaDiterbitkan 17 Oktober 2026, 11:10 WIB

Fimela.com, Jakarta - Mengurus anak sering kali menjadi tantangan tersendiri bagi pasangan, terutama ketika keduanya harus membagi waktu antara pekerjaan, urusan rumah tangga, dan kebutuhan keluarga. Jika tanggung jawab pengasuhan hanya bertumpu pada satu pihak, kelelahan fisik dan emosional dapat menumpuk hingga memicu perselisihan. Salah satu pendekatan yang bisa dicoba adalah shift-parenting, yaitu mengatur giliran pengasuhan agar kedua orangtua memiliki tanggung jawab sekaligus waktu untuk beristirahat.

Konsep ini berkaitan dengan pengasuhan bersama atau co-parenting, ketika orangtua bekerja sama dalam memenuhi kebutuhan dan mendukung tumbuh kembang anak. Dilansir dari UNICEF, pembagian pekerjaan rumah tangga dan mengurus anak secara adil, termasuk membuat jadwal waktu bertugas dan beristirahat, dapat membantu meringankan beban keluarga.

Dalam penerapannya, shift-parenting tidak harus menggunakan pembagian waktu yang kaku. Pasangan dapat menyesuaikan jadwal berdasarkan jam kerja, kondisi anak, dan kebutuhan masing-masing. Misalnya, satu orangtua bertugas menyiapkan anak pada pagi hari, sementara pasangannya mengambil giliran saat malam.

Hal terpenting bukan menghitung siapa yang melakukan lebih banyak pekerjaan, melainkan memastikan kebutuhan anak terpenuhi tanpa mengabaikan kesejahteraan kedua orangtua. Dengan kesepakatan yang jelas, pengasuhan dapat terasa lebih teratur dan hubungan pasangan tetap terjaga.

2 dari 3 halaman

Strategi Membagi Jadwal Pengasuhan

Pembagian jadwal pengasuhan dapat membantu pasangan menjalani rutinitas keluarga dengan lebih teratur. (Foto/Dok: Magnific)

Menerapkan shift-parenting dapat dimulai dengan mengenali rutinitas harian keluarga. Pasangan perlu mendiskusikan aktivitas yang paling banyak menyita waktu, mulai dari menyiapkan kebutuhan anak, mengantar ke sekolah, menemani bermain, hingga menidurkannya. Setelah itu, tentukan pembagian tugas yang realistis berdasarkan jadwal dan kemampuan masing-masing.

Sebagai contoh, orangtua yang bekerja pada pagi hari dapat mengambil tanggung jawab menyiapkan kebutuhan anak pada malam sebelumnya. Sementara itu, pasangan yang memiliki waktu lebih fleksibel pada pagi hari dapat membantu menyiapkan sarapan atau mengantar anak ke sekolah. Pada malam hari, keduanya bisa bergantian menemani anak belajar, bermain, atau bersiap tidur.

Agar pembagian ini berjalan lancar, buat jadwal sederhana yang mudah dipahami bersama. Jadwal tersebut tidak harus selalu sama setiap hari karena kondisi pekerjaan, kesehatan, dan kebutuhan anak bisa berubah. Berikan ruang untuk bertukar giliran ketika salah satu pihak sedang kelelahan atau memiliki pekerjaan mendesak.

Selain membagi tugas, tentukan pula waktu istirahat untuk masing-masing orangtua. Saat satu pihak bertugas mengasuh anak, pihak lainnya dapat menggunakan waktu tersebut untuk tidur, menyelesaikan pekerjaan, atau melakukan aktivitas pribadi. Dengan komunikasi terbuka dan pembagian yang fleksibel, pasangan dapat bekerja sebagai tim tanpa merasa harus menghadapi seluruh tanggung jawab sendirian.

3 dari 3 halaman

Menjaga Komunikasi agar Tidak Memicu Konflik

Komunikasi terbuka, evaluasi rutin, dan sikap saling menghargai dapat membantu menjaga kerja sama agar shift-parenting tetap berjalan tanpa menambah konflik dalam hubungan. (Foto/Dok: Pexels)

Membagi giliran mengasuh anak bukan berarti seluruh persoalan rumah tangga akan langsung selesai. Perbedaan cara mendidik, jadwal pekerjaan yang berubah, atau rasa lelah yang menumpuk tetap bisa memicu perselisihan. Karena itu, keberhasilan shift-parenting tidak hanya bergantung pada jadwal, tetapi juga pada kemampuan pasangan berkomunikasi dan menyesuaikan diri.

Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah membicarakan pembagian tugas ketika suasana sedang tenang. Hindari menyampaikan keluhan dalam bentuk tuduhan, seperti merasa pasangan tidak pernah membantu. Sebaliknya, jelaskan kebutuhan secara spesifik, misalnya meminta pasangan mengambil giliran menidurkan anak ketika tubuh terasa lelah setelah bekerja seharian.

Pasangan juga perlu memahami bahwa pembagian yang adil tidak selalu berarti tugas harus terbagi tepat sama setiap hari. Ada kalanya salah satu pihak perlu mengambil tanggung jawab lebih besar karena kondisi tertentu. Namun, hal tersebut sebaiknya dibicarakan agar tidak menjadi kebiasaan yang membuat satu pihak terus terbebani.

Luangkan waktu secara berkala untuk mengevaluasi jadwal yang sudah dibuat. Tanyakan apakah pembagian tugas terasa nyaman, apakah waktu istirahat sudah cukup, dan bagian mana yang perlu diperbaiki. Jangan lupa mengapresiasi kontribusi satu sama lain, termasuk hal-hal kecil yang sering terlewatkan.

Pada akhirnya, shift-parenting merupakan bentuk kerja sama yang perlu terus disesuaikan. Ketika kedua orangtua merasa didengar dan dihargai, pengasuhan dapat menjadi tanggung jawab bersama yang lebih sehat bagi keluarga.