Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, demo menentang kenaikan biaya hidup di Paris pada Sabtu, 17 Oktober 2026, berujung pada kerusuhan yang menyasar deretan butik mewah. Dior, Louis Vuitton, dan Burberry termasuk di antara gerai yang dijarah dan dirusak saat massa yang terdiri dari mahasiswa dan pendukung Yellow Vests turun ke jalan.
Aksi ini meluas ke berbagai kota di Prancis, meninggalkan jejak kerusakan di sejumlah kawasan belanja utama. Mengutip Vogue, Senin (19/10/2026), kekerasan dan penjarahan menimpa sejumlah gerai fashion. Pierre-François Le Louët, wakil ketua Union Française des Industries Mode-Habillement (UFIMH), menyampaikan keprihatinan atas sasaran yang diarahkan pada sektor pakaian.
"Hari ini kita menyaksikan aksi penjarahan yang secara menyakitkan menyasar banyak merek pakaian," tulis Le Louët di akun LinkedIn-nya.
Di Paris, insiden terjadi di Rue Saint-Honoré, dengan laporan penjarahan, perusakan, hingga percobaan penjarahan yang menargetkan Burberry, Christian Dior Parfums, dan Louis Vuitton. Kerusakan juga dicatat di Boulevard de la Madeleine, Boulevard des Capucines, dan Avenue Montaigne, dengan merek terdampak mencakup Kenzo, Salomon, Arc’teryx, Lacoste, dan Celine.
Tingkat kerusakan berbeda-beda, mulai dari bagian depan toko yang hancur hingga barang dagangan yang diangkut massa. Fédération du commerce et de la distribution (FCD) mencatat sekitar 1.500 toko dan peritel terdampak, meliputi beragam jenis usaha, tidak hanya butik fashion mewah menurut Vogue. Sejumlah toko kembali beroperasi pada Minggu, 18 Oktober 2026, sementara gerai yang dijarah masih tutup untuk penanganan lanjutan.
Penutupan Gerai dan Perbaikan Kerusakan
Setelah kerusuhan, pekerja terlihat memasang papan pelindung pada fasad dan memperbaiki kerusakan bangunan. Sephora menutup hampir seluruh jaringan tokonya di Prancis menyusul kerusakan yang dialami beberapa gerai. Langkah ini diambil bersamaan dengan upaya memperkuat pengamanan di lokasi-lokasi yang dinilai rentan.
Catherine Spindler, Presiden Sephora untuk kawasan Eropa dan Timur Tengah, menjelaskan keputusan tersebut melalui LinkedIn. "Tidak ada pertimbangan komersial yang boleh mengalahkan keselamatan tim dan pelanggan kami," tulisnya.
Perusahaan menegaskan penutupan dilakukan setelah karyawan menghadapi situasi yang melibatkan kekerasan dan ketegangan. Nicolas Houzé, Executive Chairman Galeries Lafayette Group, turut melaporkan dampak kerusuhan terhadap jaringan tokonya yang tersebar di berbagai kota.
Ia menyebut kerusakan berat terjadi di Bordeaux, Nantes, Rennes, Tours, Perpignan, dan Chambéry. "Di luar kerusakan dan kerugian ekonomi signifikan yang dialami seluruh pelaku usaha retail, citra negara kita, daya tariknya, dan kemampuannya menyambut pengunjung dalam kondisi terbaik juga mengalami kerusakan mendalam," kata Houzé.
Dampak Demo Meluas ke Milan
Gelombang dampak juga dirasakan brand lain. Thierry Guibert, CEO Maus Frères yang menaungi Lacoste, menyoroti penjarahan terhadap gerai Lacoste dan Aigle. Ia menekankan bahwa insiden tersebut bukan hanya merusak toko dan mengganggu kegiatan bisnis, tetapi juga mengancam keberlangsungan pekerjaan para karyawan dan keahlian yang telah dibangun selama bertahun-tahun.
Pada Sabtu, 17 Oktober 2026, kerusuhan terjadi di Milan, Italia. AP melaporkan terjadinya bentrokan antara perusuh dan polisi, penjarahan toko, serta pembakaran properti di pusat kota. Akibatnya, Piazza del Duomo dan sebuah kompleks pertokoan mewah yang biasanya ramai menjadi kosong.
Demonstrasi di kota itu awalnya berlangsung damai, dengan membawa tuntutan terkait perang dan kenaikan biaya hidup. Situasi berbalik tegang ketika sejumlah demonstran bertopeng melempar batu, pecahan paving, dan benda lain ke arah polisi antihuru-hara, serta membakar barikade yang dibuat dari meja kafe.