Fimela.com, Jakarta - Kolaborasi lintas negara membuka peluang untuk memperkenalkan kekayaan tekstil lokal melalui pendekatan yang lebih modern. Dalam perkembangan fashion Indonesia, sutra Eri dan batik menjadi dua elemen yang diangkat melalui program Australian Alumni Grant 2026.
Inisiatif ini mempertemukan akademisi fashion dari Indonesia dan Australia untuk mengeksplorasi warisan tekstil sekaligus mendorong inovasi yang memperhatikan aspek keberlanjutan. Pameran bertajuk Fashion Diplomacy of Peace Silk and Botanical Batik from East Java digelar pada Jumat, 23 Oktober 2026, pukul 13.30–16.00 WIB di Jakarta Fashion Hub, Jakarta Pusat.
Program ini melibatkan Janet Teowarang, yang kembali terpilih setelah mengikuti pameran fashion dan presentasi dalam Australian Alumni Grant pada 2024 di Brisbane. Kolaborasi tahun ini turut melibatkan University of Technology Sydney (UTS) serta Universitas Ciputra Jakarta dan Surabaya.
Salah satu fokus program adalah sutra Eri Indonesia, yang menggunakan metode produksi cruelty-free di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali. Serat buatan juga dipadukan dalam pembuatan tekstil sutra untuk meningkatkan kenyamanan saat dikenakan.
Material tersebut dikembangkan menggunakan pewarna alami berbahan tumbuhan dan batik buatan tangan dengan teknik kontemporer, sebagai bagian dari upaya membawa warisan tekstil Indonesia ke dalam fashion berkelanjutan. Pameran ini menampilkan delapan tampilan karya mahasiswa desain fashion dan tekstil UTS, mahasiswa Universitas Ciputra Surabaya, serta Janet Teowarang. Eksplorasi ini memperlihatkan bagaimana fashion Indonesia dapat menjadi ruang pertemuan antara warisan tekstil, kreativitas, dan kolaborasi lintas negara.
Dari Sutra Eri hingga Motif Batik Pasuruan, Intip Eksplorasi Tekstil dalam Delapan Look
Pameran Fashion Diplomacy of Peace Silk and Botanical Batik from East Java menghadirkan delapan look yang melibatkan mahasiswa desain fashion dan tekstil dari University of Technology Sydney (UTS), mahasiswa Fashion Design and Business Universitas Ciputra Surabaya, serta Janet Teowarang.
Karya-karya tersebut menjadi bagian dari kolaborasi Indonesia dan Australia dalam mengeksplorasi tekstil serta pengembangan fashion berkelanjutan.Dari UTS, tiga mahasiswa program Bachelor of Design (Honours) yang berpartisipasi adalah Jada Bondoc, Mia McFall, dan Myles Lambert.
Sementara itu, Universitas Ciputra Surabaya diwakili oleh Karen Patricia Sutikno dan Silfany Apritalia Chandra. Dalam proses perancangan, Jada, Mia, dan Myles mengambil inspirasi dari warisan budaya masing-masing. Karen dan Silfany menghadirkan motif batik dari Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, termasuk bunga sedap malam dan krisan, yang diolah ke dalam rancangan dengan pendekatan modern.
Eksplorasi ini menjadi bagian dari upaya mengembangkan warisan tekstil Indonesia melalui kolaborasi akademisi dan mahasiswa lintas negara. Tekstil yang digunakan dalam koleksi tersebut terdiri dari sutra Eri tenun tangan dan viscose rayon dari Asia Pacific Rayon. Kain dibuat oleh KaIND menggunakan pewarna alami yang bersumber dari bahan lokal serta batik buatan tangan dengan teknik kontemporer.
AUID Silk Connect Hub Perkuat Kolaborasi Fashion Indonesia dan Australia
Pengembangan kerja sama antara Indonesia dan Australia menjadi salah satu fokus dalam program Fashion Diplomacy of Peace Silk and Botanical Batik from East Java. Selain menghadirkan pameran fashion, program yang didukung Australian Alumni Grant 2026 ini juga meluncurkan Australia + Indonesia Silk Connect Hub (AUID Silk Connect Hub) sebagai platform untuk mendukung kolaborasi kedua negara.
AUID Silk Connect Hub dirancang untuk mendukung industri fashion Australia dalam menjalin kerja sama lebih lanjut dengan produsen sutra Indonesia. Platform ini juga bertujuan memfasilitasi mobilitas pendidikan dan inovasi bersama, sehingga hubungan yang terbangun dapat terus berkembang setelah program berakhir.
Melalui inisiatif ini, kolaborasi tidak hanya berfokus pada pengenalan sutra Eri Indonesia kepada khalayak yang lebih luas, tetapi juga mendorong pertukaran pengetahuan dan pengembangan tekstil berkelanjutan. Program ini turut membuka ruang dialog bagi perwakilan pemerintah, desainer dan brand fashion, media fashion, pendidik, serta profesional industri yang tertarik pada inovasi tekstil dan kolaborasi lintas budaya.
Australian Alumni Grant ini didanai oleh Australian Alumni Grants yang dikelola Australia Awards in Indonesia. Program tersebut melibatkan Universitas Ciputra Jakarta, Universitas Ciputra Surabaya, University of Technology Sydney (UTS), dan Jakarta Fashion Hub sebagai mitra.