Fimela.com, Jakarta - Gelaran MotoGP Mandalika menjadi salah satu momentum penting bagi pengembangan pariwisata Indonesia. Namun, di balik persaingan para pembalap di lintasan, terdapat dampak lain yang tak kalah berarti, yakni terbukanya peluang ekonomi bagi masyarakat lokal, termasuk perempuan.
Direktur Utama InJourney, Maya Watono, menyoroti bagaimana penyelenggaraan ajang internasional ini memberikan ruang bagi masyarakat untuk terlibat secara langsung dalam aktivitas pariwisata. Salah satu bentuknya adalah keterlibatan ibu rumah tangga yang bekerja sebagai marshal selama penyelenggaraan MotoGP.
“Di Mandalika ini kemarin banyak sekali marshal yang ibu rumah tangga yang bekerja sebagai marshal. Ini adalah salah satu upaya kami juga untuk peningkatan pemberdayaan perempuan,” tutur Maya.
Keterlibatan tersebut menjadi gambaran bahwa peluang kerja di sektor pariwisata dapat menjangkau lebih banyak kelompok masyarakat. Perempuan yang sebelumnya memiliki aktivitas utama di rumah kini berkesempatan mengambil peran dalam penyelenggaraan acara berskala internasional sekaligus memperoleh penghasilan tambahan.
Bagi Maya, pemberdayaan perempuan tidak berhenti pada penyediaan kesempatan kerja. Pengembangan keterampilan dan peningkatan kapasitas masyarakat juga menjadi bagian penting agar mereka mampu memanfaatkan peluang ekonomi yang hadir seiring pertumbuhan destinasi wisata.
Pelatihan Jadi Kunci untuk Berkembang
Mandalika menunjukkan bagaimana penyelenggaraan acara internasional dapat menciptakan efek berantai bagi perekonomian daerah. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh sektor perhotelan dan transportasi, tetapi juga restoran, pedagang, serta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
InJourney mencatat dampak ekonomi MotoGP Mandalika mencapai Rp5,2 triliun. Angka tersebut dihitung melalui kajian bersama Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Institut Teknologi Bandung (LPPM ITB), dengan dukungan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bank Indonesia.
Di tengah perputaran ekonomi tersebut, keterlibatan masyarakat menjadi aspek penting agar manfaat pariwisata dapat dirasakan secara lebih luas. Maya menegaskan bahwa InJourney turut mendorong pengembangan UMKM melalui pelatihan, peningkatan keterampilan, serta penguatan kualitas produk dan kerajinan.
“Lalu juga tidak hanya di Mandalika, tapi di berbagai aset kami pastinya kami ingin agar juga ada keterlibatan perempuannya, UMKM juga ini kami melakukan banyak elevation, craftsmanship, pelatihan,” ucapnya.
Menurut Maya, masyarakat Indonesia memiliki kemampuan untuk berkembang dengan cepat ketika mendapatkan pelatihan yang sesuai. Karena itu, peningkatan keterampilan menjadi salah satu fondasi agar perempuan dan pelaku usaha lokal dapat mengambil bagian dalam ekosistem pariwisata yang terus bertumbuh.
Upaya tersebut juga memperlihatkan bahwa pemberdayaan bukan semata-mata tentang memberikan akses, melainkan memastikan masyarakat memiliki bekal untuk berkembang. Dengan keterampilan yang semakin baik, perempuan memiliki kesempatan lebih luas untuk berkontribusi, baik melalui pekerjaan di sektor pariwisata maupun melalui usaha yang mereka jalankan.
Membangun Dampak yang Bertahan Lama
Bagi Maya Watono, pengembangan destinasi seperti Mandalika perlu memiliki tujuan jangka panjang. Kesuksesan tidak cukup hanya terlihat saat ajang internasional berlangsung, tetapi juga dari fondasi yang dibangun untuk mendukung kesejahteraan masyarakat setelah acara berakhir.
Selain MotoGP, Mandalika dikembangkan sebagai destinasi olahraga dan hiburan melalui berbagai kegiatan lain sepanjang tahun. Aktivitas tersebut diharapkan dapat menjaga kunjungan wisatawan sekaligus membuka peluang usaha yang lebih konsisten bagi masyarakat sekitar.
Dalam konteks ini, pemberdayaan perempuan dan pengembangan UMKM menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem pariwisata yang inklusif. Semakin banyak masyarakat yang memiliki keterampilan dan kesempatan untuk terlibat, semakin besar pula peluang manfaat ekonomi menjangkau berbagai lapisan.
Maya berharap transformasi yang sedang berlangsung di Mandalika dapat terus memberikan dampak positif meskipun kepemimpinan perusahaan kelak berganti.
“Pastinya saya berharap apa yang fondasi yang kami bangun sekarang di InJourney saat saya tidak ada pun ini akan terus bahwa memang MotoGP ini saat kami membangun, mentransformasi daerah Mandalika, membangun SDM di NTB, ini pasti akan lasting,” pungkasnya.
Pada akhirnya, cerita MotoGP Mandalika bukan hanya tentang kecepatan, kompetisi, atau sorotan dunia terhadap Indonesia. Ada harapan yang lebih besar ketika pertumbuhan pariwisata berjalan beriringan dengan peningkatan keterampilan dan kesempatan kerja bagi masyarakat lokal.
Bagi perempuan di Mandalika, kesempatan menjadi marshal ataupun mengembangkan UMKM dapat menjadi langkah untuk memperluas peran mereka dalam perekonomian. Dan bagi Maya Watono, warisan terpenting dari sebuah ajang internasional adalah manfaat yang tetap terasa bagi masyarakat jauh setelah sorotan kamera berpindah dari sirkuit.