Secure Attachment: Cara Membangun Ikatan Emosional agar Anak Merasa Dicintai

Eastara VigaskaDiterbitkan 30 Oktober 2026, 14:00 WIB

Fimela.com, Jakarta - Membangun ikatan emosional yang kuat dengan anak bukan hanya tentang menghabiskan waktu bersama, tetapi juga memastikan mereka merasa aman, didengar, dan dicintai. Salah satu hal yang berperan dalam hubungan tersebut adalah secure attachment, yaitu ikatan emosional yang aman antara anak dan pengasuh utamanya.

Hubungan ini membantu anak memiliki kepercayaan bahwa orangtua akan hadir ketika mereka membutuhkan dukungan. Dilansir dari Center on the Developing Child, Harvard University, interaksi yang responsif antara anak dan orang dewasa berperan penting dalam membentuk perkembangan otak serta kemampuan sosial dan emosional.

Respons sederhana seperti memberikan pelukan, menanggapi tangisan, atau mendengarkan saat anak berbicara dapat memperkuat hubungan tersebut. Ikatan emosional yang terjalin dengan baik juga membantu anak merasa lebih nyaman untuk mengeksplorasi lingkungan sekitarnya.

Mereka mengetahui bahwa orangtua merupakan tempat yang aman untuk kembali ketika merasa takut atau membutuhkan bantuan. Hal ini menjadi salah satu fondasi bagi perkembangan hubungan sosial anak di kemudian hari, termasuk dalam membangun kepercayaan dan menjalin kedekatan dengan orang lain di lingkungan sekitarnya.

2 dari 3 halaman

Cara Membangun Secure Attachment agar Anak Tumbuh dengan Rasa Aman

Konsistensi dalam memberikan perhatian, memahami emosi, dan merespons kebutuhan anak menjadi bagian penting dalam membangun hubungan yang sehat. (Foto/Dok: Pexels)

Membangun secure attachment tidak harus dilakukan melalui hal-hal besar. Justru, interaksi sederhana yang dilakukan secara konsisten dapat membantu anak merasa diperhatikan, dipahami, dan dicintai. Orangtua dapat mulai membangun kedekatan emosional melalui beberapa kebiasaan berikut: 

  • Merespons kebutuhan anak: Ketika anak menangis, takut, atau membutuhkan bantuan, berikan respons yang tenang agar mereka merasa tidak sendirian.
  • Mendengarkan tanpa menghakimi: Berikan kesempatan kepada anak untuk menceritakan pengalaman dan perasaannya tanpa langsung menyalahkan atau meremehkan.
  • Memberikan kasih sayang secara konsisten: Pelukan, sentuhan hangat, dan ungkapan sayang membantu anak merasa diterima dan dihargai.
  • Meluangkan waktu berkualitas: Ajak anak bermain, membaca buku, atau mengobrol tanpa terdistraksi oleh ponsel agar mereka merasa mendapatkan perhatian penuh.
  • Menghargai perasaan anak: Bantu mereka mengenali emosinya dengan memberikan ruang untuk merasa sedih, kecewa, maupun marah tanpa takut dihakimi.

Dilansir dari Harvard Center on the Developing Child, interaksi dua arah yang responsif atau dikenal sebagai serve and return membantu membangun koneksi otak yang mendukung perkembangan sosial dan emosional anak. Kebiasaan ini juga membantu anak belajar berkomunikasi, mengenali perasaan, serta membangun kepercayaan terhadap orang-orang di sekitarnya.

3 dari 3 halaman

Peran Orangtua dalam Membangun Secure Attachment untuk Masa Depan Anak

Kehadiran orangtua sebagai tempat berlindung secara emosional membantu anak menghadapi pengalaman baru dengan lebih percaya diri. (Foto/Dok: Pexels)

Hubungan yang aman dengan orangtua bukan berarti anak harus selalu berada di dekat mereka. Sebaliknya, secure attachment membantu anak merasa cukup aman untuk mencoba hal baru, mengambil keputusan sesuai usianya, dan mengenali lingkungan sekitar.

Mereka mengetahui bahwa orangtua tetap menjadi tempat untuk mencari kenyamanan ketika menghadapi kesulitan. Dilansir dari NSPCC Learning, anak yang memiliki ikatan aman dengan pengasuhnya cenderung menggunakan orangtua sebagai secure base atau tempat aman untuk kembali ketika merasa takut maupun membutuhkan dukungan.

Hal ini juga mendukung keberanian mereka dalam mengeksplorasi dunia di sekitarnya. Untuk mempertahankan hubungan tersebut, orangtua dapat melakukan beberapa hal berikut:

  • Memberikan kesempatan untuk mandiri: Biarkan anak mencoba aktivitas baru sesuai tahap perkembangannya tanpa selalu mengambil alih.
  • Tidak menarik kasih sayang sebagai hukuman: Tetap tunjukkan bahwa anak dicintai meskipun mereka melakukan kesalahan.
  • Meminta maaf ketika melakukan kesalahan: Tunjukkan bahwa orangtua juga bisa keliru dan bertanggung jawab memperbaikinya.
  • Menetapkan batasan dengan penuh kasih: Berikan aturan yang jelas tanpa menggunakan ancaman atau rasa takut.

Pada akhirnya, anak tidak membutuhkan orangtua yang selalu sempurna, melainkan sosok yang konsisten hadir, mau memahami, dan memberikan rasa aman.