TANGAN Privé Annual Show 2026, Merayakan Warisan Budaya Indonesia dalam Interpretasi Modern

Adinda Tri WardhaniDiterbitkan 06 November 2026, 13:55 WIB

Fimela.com, Jakarta - Warisan budaya Indonesia selalu memiliki ruang untuk berkembang, termasuk dalam dunia fashion. Tradisi tidak harus berhenti pada bentuk aslinya, melainkan dapat diterjemahkan melalui perspektif baru tanpa kehilangan nilai historis yang melekat di dalamnya. Semangat inilah yang dihadirkan TANGAN Privé melalui Annual Show 2026 — Part 2 yang berlangsung pada 5 November 2026 di The Dharmawangsa Jakarta. Pergelaran ini sekaligus menandai debut runway show independen TANGAN Privé dan babak baru perjalanan kreatif brand.

Menghadirkan total 30 looks yang terdiri dari 27 womenswear dan 3 menswear, koleksi ini mengeksplorasi seni berbusana untuk berbagai kesempatan seremonial. Mulai dari acara intim pada siang hari hingga perayaan malam, setiap rancangan menawarkan interpretasi kontemporer terhadap busana tradisional Indonesia.

Permainan siluet menjadi salah satu daya tarik utama koleksi. Sculpted bustier, kebaya-jacket hybrids, hingga fluid layered silhouettes memperlihatkan pertemuan antara konstruksi yang tegas dan karakter busana yang lebih lembut. Teknik draping dan asimetri memberikan pergerakan baru pada bentuk-bentuk yang telah dikenal, sementara lapisan transparansi menciptakan permainan antara sesuatu yang terlihat dan tersembunyi.

Mengambil inspirasi dari suasana senjakala, yaitu peralihan antara siang dan malam, koleksi TANGAN Privé kali ini menggambarkan momen transisi ketika berbagai kesempatan dan karakter busana bertemu dalam satu bahasa desain. Tradisi tetap menjadi fondasi, tetapi diberikan ruang untuk berkembang melalui ekspresi yang lebih personal.

2 dari 3 halaman

Kekayaan Wastra dan Detail Artistik

Ketika Tradisi bertemu modernitas, TANGAN Privé esplorasi keindahan busana dalam Annual Show 2026. / Foto: TANGAN Privé

Kekayaan wastra Indonesia menjadi salah satu fondasi utama dalam koleksi TANGAN Privé Annual Show 2026. Melalui dukungan Bakti Budaya Djarum Foundation, brand ini menghadirkan tiga tekstil batik yang dikembangkan secara khusus dengan dua arah motif berbeda. Terinspirasi dari Batik Kudus dan referensi historis Jawa, eksplorasi ini menampilkan ornamentasi subtil dengan ruang kosong atau negative space yang luas.

Dua pendekatan yang dihadirkan adalah Deconstructed Batik dan Batik Kampuh. Deconstructed Batik menggabungkan elemen batik lawas ke dalam komposisi terbuka dan terfragmentasi. Sementara itu, Batik Kampuh menginterpretasikan kembali bidang kosong berbentuk persegi panjang yang menjadi ciri khas kain dodotan tradisional.

Selain batik, tekstil tradisional Makassar turut mendapatkan ruang melalui dukungan Bosowa Peduli. Kain Makassar dihadirkan dalam tiga looks, salah satunya melalui interpretasi kontemporer Baju Bodo yang dipadukan dengan rok hasil konstruksi enam hingga delapan potong kain Makassar.

Eksplorasi material semakin menarik melalui penggunaan engraved velvet, laser cut, dan layered transparencies dengan variasi bentuk serta kedalaman. Salah satu detail yang mencuri perhatian adalah kehadiran Mamuli, ornamen khas Sumba yang dibuat oleh para perajin lokal. Elemen ini diterjemahkan dalam dua bentuk, yakni deretan pendant edgings dan interpretasi ulang chatelaine.

Untuk melengkapi tampilan, TANGAN Privé berkolaborasi dengan Rajnik dalam pengembangan sepatu khusus busana malam. Terinspirasi dari historical evening footwear, desainnya menampilkan draped fabrics, sculptural lines, serta delicate embellishments. Sementara itu, aksesori koleksi turut melibatkan Rinaldy Yunardi.

3 dari 3 halaman

Pengalaman Runway dan Seni Custom Dressing

Ketika tradisi bertemu modernitas, TANGAN Privé eksplorasi keindahan busana dalam Annual Show 2026. / Foto: TANGAN Privé.

Tidak hanya berfokus pada busana, TANGAN Privé juga memperluas narasi koleksi melalui pengalaman ruang. Berkolaborasi dengan praktik arsitektur FFFAAARRR dan ENCSolidWood, presentasi ini mengeksplorasi kontras antara refined finishes dan raw textures. Kayu Merbau dan Siberian Larch dihadirkan melalui beragam finishing serta pola lantai yang terinspirasi dari desain klasik. Elemen arsitektural tersebut menciptakan latar bertekstur yang melengkapi karakter koleksi.

Lebih dari sekadar presentasi runway, TANGAN Privé juga menempatkan custom dressing sebagai bagian penting dari pendekatannya. Setiap rancangan yang ditampilkan menjadi titik awal bagi proses pembuatan busana berdasarkan pesanan individual, khususnya untuk pernikahan dan berbagai kesempatan istimewa.

Melalui pendekatan ini, setiap busana dikembangkan berdasarkan ukuran tubuh dan kebutuhan personal pemakainya. Siluet, material, warna, hingga detail tertentu dapat disesuaikan untuk mencerminkan karakter individu. Dengan demikian, setiap rancangan tidak hanya menjadi representasi estetika brand, tetapi juga memiliki cerita dan makna tersendiri bagi pemakainya.

Pada akhirnya, TANGAN Privé Annual Show 2026 menjadi refleksi tentang bagaimana warisan budaya dapat terus hidup melalui kreativitas dan inovasi. Dengan mempertemukan kekayaan tekstil Indonesia, eksplorasi material, konstruksi modern, serta pendekatan personal dalam berbusana, TANGAN Privé menghadirkan perspektif bahwa tradisi bukan sesuatu yang statis, melainkan warisan yang selalu memiliki kemungkinan untuk berkembang.

Tag Terkait