Fimela.com, Jakarta - Dalam kehidupan keluarga, ada kalanya orangtua memilih menyimpan informasi tertentu dari anak. Alasannya beragam, mulai dari ingin melindungi perasaan anak, menghindari pertanyaan sulit, hingga menganggap anak belum cukup dewasa untuk memahami persoalan keluarga. Namun, ketika informasi penting terus disembunyikan, keputusan tersebut berpotensi memengaruhi psikologis anak dan cara anak memandang orangtua.
Gambaran ini dapat dilihat melalui film The Parent Trap, yang menceritakan dua anak kembar yang terpisah sejak kecil akibat perceraian orangtua dan tumbuh tanpa mengetahui keberadaan satu sama lain. Meski dikemas sebagai film keluarga yang menghibur, ceritanya juga membuka diskusi mengenai bagaimana keputusan orangtua dapat memengaruhi pengalaman emosional anak.
Dilansir dari Journal of Family Theory & Review, praktik orangtua berbohong kepada anak dapat berkaitan dengan kualitas hubungan orangtua dan anak yang lebih rendah, termasuk berkurangnya kepercayaan dan komunikasi.
Dalam jangka panjang, kondisi psikologis anak dapat membuat anak merasa sulit memahami situasi keluarganya sendiri. Anak juga berpotensi mempertanyakan alasan orangtua menyembunyikan informasi yang sebenarnya berkaitan dengan kehidupan mereka. Hal ini menunjukkan bahwa niat melindungi anak tidak selalu menghilangkan kemungkinan dampak dari ketidakjujuran. Meski begitu, dampaknya dapat berbeda bergantung pada konteks, usia anak, serta jenis informasi yang disembunyikan.
Rahasia Keluarga Bisa Membuat Anak Bingung
Salah satu dampak yang mungkin muncul ketika anak mengetahui rahasia besar keluarga adalah kebingungan emosional. Anak bisa mempertanyakan berbagai hal yang sebelumnya dianggap benar, termasuk cerita masa lalu, hubungan antaranggota keluarga, hingga alasan orangtua mengambil keputusan tertentu. Situasi ini dapat membuat mereka merasa kehilangan pegangan karena informasi yang selama ini dipercaya ternyata tidak sepenuhnya sesuai dengan kenyataan.
Selain kebingungan, rasa kecewa dan kehilangan kepercayaan juga bisa muncul. Anak mungkin merasa tidak dilibatkan dalam hal penting yang berkaitan dengan kehidupannya sendiri. Bahkan, mereka dapat mempertanyakan apakah orangtua masih bisa dipercaya ketika menghadapi persoalan lainnya. Reaksi tersebut tidak selalu muncul secara langsung, tetapi bisa terlihat melalui perubahan perilaku, sikap lebih tertutup, atau kesulitan menyampaikan perasaan.
Pada beberapa anak, situasi ini juga dapat memunculkan perasaan bersalah atau menganggap dirinya menjadi penyebab konflik keluarga. Mereka mungkin kesulitan memahami alasan orangtua menyembunyikan sesuatu, terutama jika informasi tersebut berkaitan dengan identitas atau hubungan keluarga.
Oleh karena itu, penting bagi orangtua untuk memperhatikan perubahan emosi dan perilaku anak setelah suatu rahasia terungkap. Dukungan emosional dibutuhkan agar anak tidak merasa harus menghadapi kebingungan tersebut sendirian.
Cara Orangtua Membangun Kepercayaan Anak
Bukan berarti orangtua harus menceritakan seluruh persoalan pribadi kepada anak. Ada informasi yang memang bersifat pribadi dan belum perlu diketahui anak secara terperinci. Namun, ketika suatu hal berkaitan langsung dengan kehidupan, identitas, atau hubungan keluarga anak, memberikan penjelasan yang jujur dan sesuai usianya menjadi langkah penting.
Orangtua bisa memulainya dengan memilih waktu yang tepat untuk berbicara. Gunakan bahasa sederhana agar anak dapat memahami situasi tanpa harus menerima informasi yang terlalu rumit sekaligus. Misalnya, ketika menghadapi perceraian, orangtua dapat menjelaskan perubahan kondisi keluarga tanpa melibatkan anak dalam konflik atau saling menyalahkan pasangan. Pastikan juga anak memahami bahwa situasi tersebut bukan kesalahannya.
Selain itu, berikan kesempatan kepada anak untuk bertanya dan mengungkapkan perasaan tanpa takut dihakimi. Jika anak merasa sedih, marah, atau kecewa, dengarkan responsnya tanpa terburu-buru meminta mereka menerima keadaan. Orangtua juga perlu menunjukkan konsistensi antara perkataan dan tindakan agar kepercayaan dapat dibangun kembali.
Pada akhirnya, menjaga perasaan anak bukan berarti menyembunyikan semua kebenaran. Justru, komunikasi yang terbuka, penuh empati, dan disesuaikan dengan tahap perkembangan dapat membantu anak merasa aman dalam menghadapi perubahan keluarga.