Sukses

Beauty

Sudah Pakai Skincare Mahal tapi Wajah Tetap Terlihat Lelah? Ternyata Ini Penyebabnya

Fimela.com, Jakarta - Pernah merasa wajah tampak lebih lelah, kurang segar, atau kehilangan "glow" meski rutinitas skincare sudah dilakukan dengan disiplin? Bagi banyak perempuan yang memasuki usia 30-an, perubahan ini sering kali menjadi tanda pertama bahwa proses penuaan alami kulit mulai berlangsung.

Bukan hanya soal munculnya garis halus atau kerutan. Banyak perempuan justru mulai menyadari perubahan yang lebih subtil. Mulai pipi terasa kurang penuh, kontur wajah tak lagi setegas dulu, area bawah mata tampak lebih cekung, hingga kulit yang terlihat lebih kendur meski berat badan tidak berubah.

Menurut para ahli, salah satu penyebab utama perubahan tersebut adalah menurunnya produksi kolagen alami tubuh. Kolagen merupakan protein paling melimpah dalam tubuh manusia dan berperan penting dalam menjaga struktur, kekencangan, serta elastisitas kulit. Namun, produksi kolagen tidak berlangsung selamanya dalam jumlah yang sama.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa produksi kolagen mulai mengalami penurunan sejak pertengahan hingga akhir usia 20-an, dengan laju sekitar 1% per tahun. Proses ini kemudian dapat berlangsung lebih cepat akibat paparan sinar matahari, polusi, stres, kurang tidur, hingga gaya hidup yang kurang sehat.

Tak heran jika seseorang yang memasuki usia 30-an mulai merasakan perubahan pada kualitas kulit dan struktur wajah, meski telah menggunakan berbagai skincare.

 

Mengapa Skincare Saja Kadang Tidak Lagi Cukup?

Banyak dermatolog menjelaskan bahwa penuaan kulit bukan hanya terjadi di permukaan, melainkan juga pada lapisan yang lebih dalam. Salah satu perubahan terpenting terjadi pada fibroblas, yaitu sel yang bertugas memproduksi kolagen. Seiring bertambahnya usia, jumlah dan fungsi fibroblas mengalami penurunan. Pada saat yang sama, kolagen yang sudah ada di dalam kulit mengalami fragmentasi atau kerusakan, sehingga kulit kehilangan kemampuan alaminya untuk mempertahankan kekencangan dan elastisitas.

Inilah alasan mengapa banyak orang merasa skincare yang selama ini digunakan tampak tidak lagi memberikan hasil yang sama seperti beberapa tahun sebelumnya.

"Masalahnya bukan semata-mata kurangnya skincare, tetapi karena struktur pendukung kulit dari dalam juga mengalami perubahan," demikian yang banyak diungkapkan dalam berbagai publikasi ilmiah mengenai penuaan kulit modern.

 

Tren Perawatan Kini Beralih ke Regenerasi Kolagen

Perubahan pemahaman tentang proses penuaan juga mengubah tren dalam dunia estetika. Jika sebelumnya banyak orang mencari prosedur yang memberikan hasil instan, kini semakin banyak masyarakat yang menginginkan hasil yang lebih natural, bertahap, dan mempertahankan karakter asli wajah. Pendekatan ini dikenal sebagai regenerative aesthetics, yaitu konsep perawatan yang berfokus pada kemampuan tubuh untuk meregenerasi dan memperbaiki dirinya sendiri.

Berbagai studi menunjukkan bahwa stimulasi pembentukan kolagen baru menjadi salah satu pendekatan yang menjanjikan untuk membantu memperbaiki struktur kulit yang mengalami penuaan. Dengan terbentuknya kolagen baru, fungsi fibroblas dapat kembali didukung sehingga kualitas kulit pun berpotensi membaik secara bertahap.

Perkembangan tersebut juga menjadi perhatian di dunia estetika Indonesia. Melalui lini bisnis estetikanya, PYFAESTHETIC, PT Pyridam Farma Tbk (PYFA) baru-baru ini menggelar Xpert Meet 3.0: Collagen Mastery Session dan Certified Collagen Training Workshop yang diikuti oleh lebih dari 50 dokter spesialis kulit dan dokter estetika dari berbagai wilayah Indonesia.

Kegiatan ini berfokus pada pengembangan kompetensi dokter dalam memahami terapi berbasis kolagen, termasuk pengenalan Collost, produk native collagen type I yang dirancang dengan mempertahankan struktur triple helix yang identik secara biologis dengan kolagen manusia.

 

Native Collagen Therapy Mulai Menarik Perhatian

Untuk mendukung transfer pengetahuan secara komprehensif, PYFAESTHETIC menghadirkan langsung pakar estetika internasional asal Rusia, Dr. Olga Borzykh, MD, yang memberikan edukasi mengenai konsep native collagen replacement therapy dan penerapannya dalam praktik estetika modern.

Head of Marketing PYFAESTHETIC, Wila Lesthia Kharisma, menjelaskan bahwa perkembangan teknologi estetika harus berjalan seiring dengan edukasi berbasis bukti ilmiah.

"Kami percaya bahwa praktisi estetika terbaik lahir dari pemahaman keilmuan yang kuat dan berbasis bukti ilmiah. Karena itu, setiap inovasi yang kami hadirkan harus diimbangi dengan edukasi klinis yang komprehensif," ujarnya.

Di tengah tren healthy aging dan skin longevity, semakin banyak perempuan yang mulai melihat perawatan estetika bukan sebagai cara untuk mengubah wajah, melainkan sebagai upaya mempertahankan kualitas kulit dan tampil sebagai versi terbaik dari diri mereka sendiri.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading