Sukses

Beauty

Dari Anti-Aging ke Skin Longevity, Mengapa Kolagen Makin Penting dalam Perawatan Kulit?

Fimela.com, Jakarta - Seiring bertambahnya usia, perubahan pada kulit perlahan menjadi bagian yang tidak bisa dihindari. Produksi kolagen yang menurun berkontribusi pada elastisitas mulai berkurang, tekstur terasa berbeda, dan garis-garis halus perlahan muncul. Namun, cara perempuan memandang proses tersebut kini ikut berubah.

Jika sebelumnya perawatan estetika banyak berfokus pada bagaimana mengoreksi tanda-tanda penuaan yang sudah terlihat, kini perhatian mulai bergeser pada bagaimana menjaga kualitas kulit dalam jangka panjang. Bukan semata-mata membuat kulit terlihat lebih muda, tetapi mempertahankan struktur, elastisitas, dan tampilan alaminya seiring waktu.

Perubahan perspektif ini turut mendorong berkembangnya pendekatan perawatan yang berfokus pada kolagen. Kolagen merupakan salah satu komponen utama dalam struktur kulit, terutama pada dermis. Protein ini berperan dalam memberikan kekuatan dan membantu mempertahankan elastisitas jaringan kulit.

Seiring proses penuaan, struktur kolagen pada kulit mengalami perubahan. Penelitian terbaru pada kulit manusia menunjukkan bahwa penuaan berkaitan dengan perubahan pada matriks ekstraseluler yang kaya kolagen, termasuk perubahan pada susunan serat dan fungsi sel fibroblas yang berperan dalam menjaga keseimbangan jaringan tersebut.

Karena itu, tidak mengherankan jika kolagen kemudian menjadi salah satu perhatian dalam perkembangan perawatan estetika modern.

Namun, menjaga kolagen kulit tidak berarti sekadar mencari cara untuk “mengisi kembali” kolagen yang berkurang. Pendekatan estetika saat ini semakin mengarah pada pemahaman bahwa kondisi kulit setiap orang berbeda, sehingga perawatan idealnya disesuaikan dengan kebutuhan, kondisi, dan tujuan masing-masing.

 

 

Dari Mengejar Hasil Instan ke Skin Quality

Perubahan cara pandang ini sejalan dengan berkembangnya konsep longevity aesthetics, yaitu pendekatan yang tidak hanya mengejar perubahan tampilan, tetapi juga memperhatikan ketahanan dan kualitas jaringan dalam jangka panjang.

Sebuah kajian terbaru mengenai longevity aesthetics menggambarkan pergeseran dari paradigma koreksi tanda penuaan menuju upaya mempertahankan fungsi dan integritas jaringan. Meski sejumlah pendekatan telah digunakan dalam praktik estetika, peneliti juga menekankan bahwa bukti klinis jangka panjang untuk beberapa konsep yang lebih baru masih terus berkembang.

Bagi pasien, perubahan ini dapat diterjemahkan secara sederhana: perawatan bukan lagi hanya tentang ingin terlihat berbeda setelah menjalani prosedur, tetapi bagaimana kulit tetap terlihat sehat, natural, dan terawat seiring waktu. Perkembangan tersebut turut terlihat dari hadirnya berbagai inovasi berbasis kolagen dalam dunia estetika. Salah satunya diperkenalkan oleh Natasha Skin Clinic melalui klinik premiumnya, Natasha Luxe, yang menghadirkan Nithya Native Collagen.

Menurut informasi dari Natasha, Nithya merupakan brand native collagen yang menggunakan sumber kolagen dari tendon kuda dan diperkenalkan sebagai pendekatan untuk collagen replacement dan regeneration. Dermatologist dr. Armansjah Dara Sjahruddin, Sp.DVE, menjelaskan bahwa pendekatan tersebut berfokus pada kualitas kulit.

“Keunggulan Nithya Native Collagen terletak pada pendekatannya terhadap kualitas kulit. Kandungan kolagen tipe I dalam bentuk native digunakan untuk membantu mendukung struktur kulit serta merangsang pembentukan kolagen baru. Di Natasha Luxe, perawatan ini dapat menjadi pilihan yang disesuaikan dengan kondisi kulit dan kebutuhan setiap pasien.”

Pernyataan tersebut merupakan penjelasan dari pihak klinik mengenai mekanisme dan manfaat yang ditawarkan Nithya. Karena merupakan prosedur estetika, pemilihan treatment tetap perlu dilakukan berdasarkan evaluasi tenaga medis dan kondisi masing-masing pasien.

 

Memasuki Usia 30-an, Perawatan Kulit Makin Personal

Perubahan kualitas kulit juga tidak berlangsung dengan pola yang sama pada setiap perempuan. Faktor usia, genetik, paparan sinar ultraviolet, gaya hidup, kondisi hormonal, hingga kebiasaan perawatan kulit dapat memengaruhi bagaimana tanda penuaan muncul.

Hal inilah yang membuat pendekatan personal menjadi semakin penting.

“Memasuki usia 30-an, perubahan kolagen dan kualitas kulit mulai terasa berbeda pada setiap orang. Karena itu, perawatan estetika perlu direncanakan secara personal,” ujar dr. Armansjah Dara Sjahruddin.

Menurutnya, perawatan sebaiknya tidak semata-mata dilakukan untuk mengejar hasil instan, tetapi menjadi bagian dari self-care dan investasi jangka panjang dalam menjaga kualitas kulit.

Perspektif tersebut juga sejalan dengan perkembangan estetika nonbedah yang kini semakin menekankan pemilihan treatment berdasarkan kondisi kulit, tujuan pasien, jenis kulit, serta toleransi terhadap downtime, bukan menggunakan satu pendekatan yang sama untuk semua orang.

Menariknya, perhatian terhadap kolagen tidak hanya hadir melalui prosedur estetika. Kolagen juga banyak dipelajari dalam konteks perawatan kulit dari berbagai sisi, termasuk suplementasi. Namun, bukti ilmiah untuk berbagai bentuk penggunaan kolagen tidak selalu sama dan masih terus berkembang. Tinjauan sistematis terbaru, misalnya, menemukan sejumlah hasil positif pada hidrasi, elastisitas, dan parameter kerutan dari suplementasi kolagen hidrolisat, tetapi juga menekankan perlunya penelitian berkualitas lebih tinggi dan jangka panjang.

Artinya, perawatan kolagen sebaiknya tidak dipandang sebagai satu solusi tunggal untuk menghentikan proses penuaan. Ia merupakan bagian dari pendekatan yang lebih luas dalam menjaga kesehatan dan kualitas kulit.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading