Sukses

Beauty

Perlukah Suplemen Kolagen untuk Kesehatan Kulit? Ini Kata Riset

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, minat terhadap produk kecantikan yang menjanjikan kulit kenyal, cerah, dan tampak awet muda terus tumbuh, terutama pada suplemen kolagen. Proyeksi pasar bahkan menunjukkan nilai global suplemen kolagen akan melampaui 16 miliar dolar AS pada akhir dekade ini, menegaskan besarnya perhatian pada “eliksir” anti-penuaan yang diklaim bekerja dari dalam tubuh.

Kolagen adalah protein paling melimpah di tubuh manusia, membentuk sekitar sepertiga dari total protein. Protein esensial ini tersebar di berbagai jaringan, mulai dari kulit, tendon, tulang rawan, tulang, hingga jaringan ikat. Pada kulit, kolagen bertindak sebagai perancah struktural yang mendukung kekencangan, elastisitas, serta ketahanan. Kolagen tipe I, yang menyumbang lebih dari 90 persen kolagen dalam tubuh, menjadi pendorong utama struktur kulit.

Seiring bertambahnya usia, produksi kolagen alami melambat sekitar satu persen per tahun sejak awal masa dewasa. Penurunan ini bisa lebih tajam pada kondisi tertentu; misalnya, perempuan dapat kehilangan hingga 30 persen kolagen kulit dalam lima tahun pertama menopause. Dampaknya, kulit berangsur kehilangan elastisitas, terasa lebih kering dan menipis, serta muncul kerutan dan garis halus sebagai penanda penuaan.

Apa Kata Riset tentang Kolagen untuk Kulit

Pertanyaan tentang efektivitas suplemen kolagen oral bagi tampilan kulit menjadi fokus banyak penelitian. Secara umum, tinjauan studi dan pendapat ahli menghadirkan gambaran yang beragam, namun cenderung positif pada beberapa aspek, terutama untuk kolagen terhidrolisis atau peptida kolagen. Sejumlah kajian, termasuk tinjauan sistematis dan meta-analisis, menunjukkan peningkatan yang bermakna pada kelembapan serta elastisitas kulit.

Sebuah umbrella review pada 2026 yang mencakup 113 uji klinis menemukan bukti sederhana adanya peningkatan elastisitas dan hidrasi kulit dengan suplementasi oral yang konsisten. Meta-analisis pada 2025 juga menyimpulkan bahwa suplemen kolagen secara statistik efektif dalam meningkatkan hidrasi dan elastisitas kulit. Tinjauan pada 2023 terhadap 26 uji coba terkontrol acak (RCT) melaporkan temuan serupa, yakni peningkatan signifikan pada hidrasi dan elastisitas. Publikasi di jurnal Dermatology Practical & Conceptual turut menyebutkan kolagen, baik oral maupun topikal, mampu meningkatkan kelembapan, elastisitas, dan hidrasi kulit.

Di sisi lain, bukti pengurangan kerutan dan kekasaran kulit lebih lemah. Beberapa studi awal memberi sinyal potensi penurunan kedalaman kerutan, namun temuan tersebut kerap dipengaruhi pendanaan industri. Meta-analisis 2025 mencatat, meski ada perbaikan pada kedalaman kerutan, efeknya cenderung lebih lemah atau tidak signifikan secara statistik pada studi berkualitas tinggi yang tidak didanai industri. Dr. Farah Moustafa, seorang dermatolog dari Tufts University School of Medicine, menyatakan, “suplemen kolagen oral saat ini tidak secara resmi direkomendasikan untuk mengatasi penuaan kulit, meskipun dapat dipertimbangkan bersama intervensi lain yang lebih efektif dan teruji.”

Temuan lain menunjukkan suplemen kolagen oral dapat meningkatkan kepadatan kolagen di lapisan dermis. Setelah dikonsumsi, kolagen dipecah oleh sistem pencernaan menjadi peptida dan asam amino. Peptida kolagen terhidrolisis—yang berukuran lebih kecil—lebih mudah diserap dan dapat merangsang tubuh memproduksi kolagen sendiri. Beberapa fragmen kolagen seperti Prolyl-hydroxyproline bahkan dapat memicu sel kulit untuk memproduksi asam hialuronat, yang berperan penting dalam meningkatkan kadar air kulit.

Berapa Lama dan Berapa Banyak? Plus Catatan Keamanan

Untuk mendapatkan hasil yang bermakna, sebagian besar penelitian mensyaratkan konsumsi minimal 90 hari atau tiga bulan. Dosis yang umum digunakan berada pada rentang 1 hingga 10 gram per hari, dengan meta-analisis 2025 mengindikasikan 4 gram per hari sebagai dosis yang lazim dan efektif. Pada bentuk kapsul, anjuran pemakaian umumnya 1–2 kali sehari. Waktu terbaik mengonsumsi kolagen adalah saat perut kosong—misalnya pagi sebelum sarapan atau malam sebelum tidur—agar penyerapannya optimal. Jika menggunakan bubuk, campurkan dengan air dingin atau suhu ruang, karena air panas dapat merusak struktur protein kolagen.

Meski menjanjikan, ada sejumlah batasan yang perlu dicatat. Banyak studi memiliki ukuran sampel kecil, formulasi yang heterogen (sering mengandung bahan aktif tambahan), serta potensi bias akibat pendanaan dari produsen kolagen. Di dalam tubuh, kolagen yang diminum diurai menjadi asam amino dan didistribusikan sesuai kebutuhan organ, tidak selalu langsung menuju kulit. Artinya, tidak ada jaminan bahwa dengan menyediakan “bahan bangunan” kolagen, kolagen kulit otomatis meningkat. Diperlukan studi jangka panjang dengan kualitas metodologi tinggi untuk mengonfirmasi temuan-temuan ini secara lebih definitif.

Dari sisi keamanan, suplemen kolagen umumnya dinilai aman jika digunakan sesuai aturan pakai atau anjuran dokter. Efek samping yang dilaporkan biasanya ringan, seperti kembung, kram perut, mual, diare, atau sembelit. Beberapa orang juga mengalami sakit kepala, pusing, mudah lelah, jantung berdebar, perubahan rasa atau bau mulut yang tidak sedap, hingga bau mulut. Reaksi alergi—batuk, gatal-gatal, atau sulit bernapas—dapat terjadi terutama pada individu yang alergi terhadap bahan sumber kolagen. Kekhawatiran lain mencakup potensi kontaminasi metilmerkuri dari sumber laut atau tingginya kadar kadmium pada sebagian produk. Konsumsi berlebihan, khususnya kolagen tipe-1, berpotensi meningkatkan risiko fibrosis hati atau kerusakan ginjal jangka panjang, serta dapat memicu batu ginjal pada individu berisiko. Konsultasikan dengan dokter atau ahli gizi sebelum memulai suplemen baru, terutama bila memiliki kondisi kesehatan tertentu atau riwayat alergi.

Cara Non-Suplemen untuk Menjaga Kolagen

Bagi yang masih ragu dengan suplemen, dukungan produksi kolagen dapat dilakukan lewat asupan nutrisi harian. Penuhi kebutuhan asam amino seperti prolin dan glisin, serta nutrisi pendukung sintesis kolagen. Vitamin C adalah kunci; sumbernya meliputi buah jeruk, lemon, stroberi, pepaya, brokoli, dan sayuran hijau seperti bayam serta kale. Asam hialuronat—komponen krusial pada kolagen kulit—dapat diperoleh dari makanan kaya asam amino, seperti kacang-kacangan, sayuran akar, dan kedelai. Kaldu tulang yang dimasak dari tulang dan jaringan ikat hewan menjadi sumber kolagen alami kaya gelatin, kalsium, magnesium, dan fosfor.

Ikan, terutama bagian kulit dan tulangnya, menyediakan kolagen tipe I sekaligus asam lemak omega-3—misalnya pada salmon dan sarden. Daging sapi, ayam, dan unggas menyumbang jaringan ikat yang kaya kolagen, sementara putih telur mengandung prolin yang berperan membentuk kolagen di kulit. Lindungi kolagen yang sudah ada dengan antioksidan dari buah beri, anggur, kacang merah, dan ginseng. Jangan lupakan mineral penting seperti seng, selenium, dan tembaga untuk menjaga struktur kolagen, serta vitamin A dari tomat, wortel, sayuran hijau, ikan, dan susu.

Selain nutrisi, gaya hidup sehat juga esensial. Gunakan tabir surya secara teratur untuk melindungi kulit dari kerusakan sinar UV—salah satu pemicu utama degradasi kolagen. Perawatan topikal retinoid memiliki efek terbukti pada kolagen dermal. Olahraga rutin membantu sirkulasi, mendukung regenerasi, dan memperlancar distribusi nutrisi yang diperlukan kulit untuk memproduksi kolagen, sekaligus menurunkan stres oksidatif. Jaga hidrasi dengan minum air yang cukup dan batasi konsumsi makanan manis. Hindari kebiasaan merokok, karena kandungan kimianya dapat merusak kolagen dan elastin. Penggunaan gel lidah buaya secara topikal juga dapat merangsang pembentukan kolagen.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading