Sukses

Entertainment

8 Film Penggugah Semangat di Hari Pendidikan Nasional

Fimela.com, Jakarta Tanggal 2 Mei setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Hari spesial di mana jasa dan dedikasi para pelaku dunia pendidikan diagungkan. Dipilihnya tanggah 2 Mei karena bertepatan dengan hari ulang tahun Ki Hadjar Dewantara, pahlawan nasional yang dihormati sebagai bapak pendidikan nasional di Indonesia.

Sementara itu, di dunia perfilman, tema pendidikan sudah sangat sering diangkat. Bukan cuma dari sisi guru saja, tapi juga dari kisah para murid dalam memperjuangkan pendidikannya. Beberapa dari film-film tersebut bahkan diangkat dari kisah nyata. Berikut Bintang.com rangkumkan delapan film penggugah semangat untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional.

Laskar Pelangi. Diangkat dari novel laris karya Andrea Hirata, film ini berkisah tentang anak-anak yang memiliki semangat belajar tinggi di desa pesisir Gantong, Belitong. Sekolah tempat mereka mengenyam pendidikan sangat lah mengenaskan. Selain nyaris roboh, jumlah siswa di sekolah ini juga sangat sedikit.

Namun, hal itu tak sama sekali menghalangi Ikal dkk untu mengejar cita-citanya. Tanpa seragam formal, mereka berusaha menyetarakan diri dengan siswa-siswa lainnya di Belitong. Laskar Pelangi berhasil menjadi film Indonesia Terlaris pertama 2008 dengan perolehan 4.631.841 penonton.

Film 'Kantata Takwa' dan 'Laskar Pelangi' akan diputar untuk meramaikan HUT Institut Kesenian Jakarta (IKJ) yang ke-45.

Sokola Rimba. Setelah Laskar Pelangi, Riri Riza kembali menggarap sebuah film bertemakan pendidikan. Dibintangi Prisia Nasution, film ini menceritakan tentang perjuangan Butet Manurung dalam mengajarkan baca dan tulis kepada anak-anak masyarakat Suku Anak Dalam, yang dikenal sebagai Orang Rimba, yang tinggal di hulu sungai Makekal di hutan bukit Duabelas, Jambi.

Di tengah usahanya tersebut, Butet harus dihadapkan pada sebuah mitos yang membelenggu salah satu anak didiknya, Bungo. Bahwa, belajar baca tulis bisa membawa malapetaka bagi mereka. Film Sokola Rimba dibintangi oleh anak-anak Suku Anak Dalam langsung.

Film Sokola Rimba. Foto:Youtube

Denias, Senandung di Atas Awan. Dari Barat Indonesia, mari kita bergeser ke kisah perjuangan pendidikan di Timur Indonesia. Adalah Denias (Albert Fakdawer), seorang anak laki-laki yang tinggal di kaki pegunungan Jayawijaya. Demi memenuhi permintaan terakhir mendiang ibunda, Denias rela bertualang dalam mengenyam pendidikan layak.

Di atas bukit, Denias mendapat banyak pelajaran berharga dari Pak Guru (Mathias Muchus) yang berasal dari tanah Jawa. Hingga suatu ketika seorang tentara meyakini Denias untuk pergi melintasi gunung karena ada sekolah yang lebih bagus. Ternyata, sekolah yang dimaksud milik PT Freeport dan dikhususkan untuk anak kepala suku atau suku terdekat saja.

Poster Denias: Senandung Diatas Awan. Foto: via indonesianfilmcenter.com

Sepatu Dahlan. Dahlan Iskan menjadi sosok inspirator dari film besutan Benni Setiawan ini. Berkisah tentang perjuangan anak desa terpencil di Magetan bernama Dahlan untuk mengenyam pendidikan. Tanpa alas kaki, Dahlan tetap semangat menempuh perjalanan ke sekolahnya yang jauh.

Semangat yang tak pernah putus itu menghantarkannya sebagai tokoh ternama di negeri ini. Dahlan Iskan pernah menjabat sebagai Menteri Badan Usaha Milik Negara Indonesia periode 2011-2014. Film Sepatu Dahlan dibintangi oleh Aji Santosa, Donny Damara dan Kinaryosih.

Film Sepatu Dahlan. Foto: via annisareswara.wordpress.com

Negeri 5 Menara. Diadaptasi dari novel dengan judul yang sama, film ini menceritakan tentang enam pemuda dari sebuah pondok pesantren yang memiliki mimpi besar untuk pergi ke luar negeri. Meski awalnya tak menerima bersekolah di tempat yang dibilang 'kampungan', namun akhirnya gerbang kesuksesan terbuka dari sana.

Negeri 5 Menara. Foto: via nyonyakim.wordpress.com

Guru Bangsa: Tjokroaminoto. Oemar Said Tjokroaminoto (Tjokro) yang lahir dari kaum bangsawan Jawa dengan latar belakang keislaman yang kuat. Ia merupakan pendiri dari organisasi Serekat Islam yang memperjuangkan hak-hak masyarakat bumiputera. Kecerdikkan yang dimiliki Tjokro rupanya sangat mengancam pemerintah Hindia Belanda saat itu.

Tjokro membangun sebuah rumah yang dijadikannya tempat untuk bertemu dengan tokoh-tokoh bangsa dan tempat belajar bagi murid-murid muda. Nantinya, mereka akan meneruskan cita-cita Tjokro untuk membentuk bangsa bermartabat, terdidik, dan sejahtera. Salah satu muridnya di Peneleh adalah sang proklamator kemerdekaan Indonesia, Soekarno.

Guru Bangsa, Tjokroaminoto. Foto: Twitter

Mars. Dibintangi Acga Septriasa, film ini ditargetkan rilis pada 4 Mei 2016 mendatang. Berkisah tentang gadis lugu asal desa terpencil di Gunung Kidul, Yogyakarta, bernama Sekar Palupi. Keterbatasan ekonomi tak pernah menghalangi sang ibunda dari Sekar untuk menyekolahkan anaknya.

Hingga suatu ketika, Sekar Palupi berhasil membawa harum nama Indonesia dengan menjadi salah satu mahasiswa berprestasi di Oxford University, Inggris. Selain Acha Septriasa, film Mars juga dibintangi oleh Kinaryosih, Chelsea Riansy, Teuku Rifnu Wikana, Cholidi Asadil Alam, Jajang C. Noer, Yati Surachman dan Ence Bagus.

Acha saat syuting film Mars di London. Foto: Film Mars

Aisyah Biarkan Kami Bersaudara. Sama seperti Mars, film ini juga baru akan tayang di bioskop, tepatnya pada 19 Mei 2016. Adalah Aisyah, gadis asal tanah Jawa yang memiliki semangat tinggi dalam mengajarkan anak-anak di Atambua, Nusa Tenggara Timur.

Konflik muncul ketika keberadaan Aisyah yang Muslim menuai pertentangan dari penduduk yang umumnya beragama Katolik. Semangat pruralisme yang dicetuskan oleh Gus Dur telah menjadi titik awal pembuatan film yang diangkat dari kisah nyata tersebut.

Laudya Cynthia Bella di lokasi syuting film Aisyah Biarkan Kami Bersaudara. Foto: Instagram (@hamdhanikoestoro)

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading