Sukses

Entertainment

Eksklusif, Bisma Karisma Menyeimbangkan Karir Film dan Musik

Fimela.com, Jakarta Jejak langkah karir solo Bisma Karisma semakin cemerlang. Pemuda kelahiran Bandung, 27 November 1990 ini baru saja merilis film baru berjudul Silariang, Cinta yang (Tak) Direstui. Peran yang dibawakan Bisma menuntut kematangan aktingnya.

*********

Dibesarkan oleh boy band SM*SH, Bisma tak serta merta meninggalkan musik ketika bergelut dengan akting. Film ini juga memberinya ruang untuk memasukkan musik karyanya sendiri berjudul Rumah sebagai salah satu original soundtrack.

Eksklusif Bisma Karisma (Foto: Febio Hernanto, Digital Imaging: Muhammad Nurfajri/Bintang.com)

"Saya bersyukur bisa berpartisipasi di film ini, dipercaya bisa dapat peran Yusuf di film Makassar. Saya jadi mengenal budaya selain Sunda," kata Bisma Karisma di kantor Bintang.com, 19 Januari 2018.

Sebelum bergabung dengan SM*SH, Bisma adalah seorang penari breakdance nasional dan juga tergabung dalam beberapa band sebagai drummer, perkusi, dan vokalis. Bakat dan kemampuan yang dimiliki membuatnya terus berkembang. Karena itu, Bisma tak bisa memilih antara musik dan film.

	Eksklusif Bisma Karisma (Foto: Febio Hernanto, Digital Imaging: Muhammad Nurfajri/Bintang.com)

Filmografinya sendiri memberikan banyak kejutan dengan tercatat sebagai nominator di beberapa festival. Tahun 2016 ia akhirnya menjadi pemeran utama dalam film Juara yang bergenre drama-aksi. Kerja kerasnya di film itu membuahkan hasil. Bisma memenangkan piala Aktor Pendatang Baru Terpilih di ajang Piala Maya 2016.

Bagaimana Bisma berusaha menyeimbangkan karir musik dan film? Mimpi apa yang masih bergelayut dalam benaknya? Simak obrolan Eksklusif Bisma Karisma dengan Puput Puji Lestari dan Hasan Mukti Iskandar berikut ini.

 

 

Peran di Film Silariang

Dalam film Silariang, Cinta yang (Tak) Direstui, Bisma Karisma berperan sebagai Yusuf. Yusuf merupakan cerminan anak muda asal Makassar yang hidup di zaman millenial. Bagaimana ia menjalani hidupnya dengan keluarganya, hubungan cinta kasihnya di tengah tergerusnya nilai-nilai norma atas kemajuan zaman.

Ceritain peran kamu di film ini?

Saya berperan sebagai Yusuf, orang Makassar, bukan bangsawan. Tapi orang kaya. Anaknya seorang jurnalis yg kaya raya.

Silariang ini film pop yg dikemas dalam adat makassar yang sangat banyak.

Bagaimana dengan kisahnya?

Perjalanan kisah cinta yusuf dan kekasihnya nggak direstui orangtuanya, terbentur strata dan adat, jadinya kita kawin lari.Konfliknya membangun antara ortu dan anak serta suami istri.

Tantangan kamu disini?

Kesulitan pasti temuin karena basic kita bukan orang makassar. Namun kita terbantu dengan proses reading, pembentukan karakter. Ada coach act dari sana juga.

Eksklusif Bisma Karisma (Foto: Febio Hernanto, Digital Imaging: Muhammad Nurfajri/Bintang.com)

Alasan kamu terima peran ini?

Pertimbangan, yang pertama karena ini film yang berbudaya. Ada tradisi dan adat yang cukup kental. Saya senang dengan sesuatu berbau budaya. Disini jadi tahu perasaannya malam pertama, jadi ayah seperti apa. Ya memang belum pernah, dan emang sesulit ini ya. Maka kalian cowok yang mau jadi lelaki sejati, nonton Silariang.

Scene yang paling diingat?

Paling diinget, scene dimana saya akhirnya minta satu hal, ribut besar ama suli. Lumayan membingungkan sih. Adegannya pun menurut saya penting. Saya nggak bisa membayangin sih bisa sekasar itu sama wanita. Sepertinya kalo inget kok sakit banget ya. Kita ngeliat scene itu, nih cowok brengsek banget. Tapi take-nya hanya dua kali doang.

Harapan untuk film ini?

Buat anak muda, sebelumnya mungkin jangan underestemed dari judulnya. Kalau penonton jeli banyak yg tersirat pesan moralnya. Untuk anak dan orangtua juga. Ini pilem pop, kesannya berat tapi dibawainnya ringan.

 

	Eksklusif Bisma Karisma (Foto: Febio Hernanto, Digital Imaging: Muhammad Nurfajri/Bintang.com)

 

Pesan moral di film ini?

Ada dua sudut pandang, ada dari ortu dan dari anak. Bahwa kita harus ngerti kenapa ortu cerewet. Tapi cara kita memberikan pengertian ke ortu itu juga solusi. Itu mungkin yang bisa dibangun ya.

Kawin lari itu negatif, sebaik apapun kalau mindset kita negatif ya tetap negatif. Restu orangtua itu kunci surga. Namanya anak pasti butuh proses untuk pencapaian dewasa.

Jadi bukan kawin lari, case closed, jadi ada dampak, ada sebelum dan setelahnya. Ada yg salah nih. Gimana kita nggak melakukan itu.Silariang adalah penyelesaian namun bukan satu-satunya penyelesaian.

Bisma Karisma Ciptakan Lagu untuk Silariang

Menurut Bisma Karisma, dalam film ini ada pembelajaran yang ingin disampaikan untuk orangtua maupun anak dalam membina hubungan. Syutingnya juga dilakukan di Makassar. Keindahan lokasi syuting membuatnya terinspirasi menciptakan lagu berjudul Rumah.

Bagaimana kamu belajar bahasa Makassar?

Bisa bahasa Makassar, dari proses reading, belajar. Dan chemistry kita udah kenal duluan. Dan reading banyak ngobrol. Adegan seperti apa, dibangun chemistry-nya lumayan lama. Gak dadakan ya. Hampir sebulan. Ada pemetaan masing-masing karakter.

Syutingnya dimana saja?

Kita ke Bukit Carlson, pemandangannya indah banget. Cuman ada dua di dunia seperti itu. Dua jam perjalanan darat dari Makassar ditambah setengah jam perahu. Pas syuting aku terispirasi membuat lagu Rumah yang akhirnya menjadi salah satu soundtrack di film ini.

	Eksklusif Bisma Karisma (Foto: Febio Hernanto, Digital Imaging: Muhammad Nurfajri/Bintang.com)

Bagaimana kamu bisa berkembang di luar Sm*sh?

Pasti ada orang yang tutup mata sebelah saay boy band punya stigma berbeda. Tapi balik lagi apa yang saya lakukan dan bicarakan itu kejujuran saya. Saya ingin mereka menilai sendiri.

Mimpi kamu?

Pengin jadi seniman. Artis dalam arti yang sebenarnya. Saya bisa menggambar, nulis lagu, akting pokoknya ingin membuat karya yang bisa diterima masyarakat.

Katanya pengin main biopik tokoh musik?

Iya benr, karena jarang ya tokoh musik difilmkan. Pasti seru, terakhir kan Chrisye. Saya berhaarap kalau kelak Koes Plus dibikinin film saya punya kesempatan join.

	Eksklusif Bisma Karisma (Foto: Febio Hernanto, Digital Imaging: Muhammad Nurfajri/Bintang.com)

Pilih musik atau film?

Beda ya, musik itu lebih jujur dan lebih cepat proses pembuatannya. Film itu karya kolektif, karya keluarga. Semua tim harus benar-benra singkron. Itu yang membuat film lebih sulit ya, karena skalanya lebih besar.

Film memang bikin ketagihaa. Tapi balik lagi saya lahir di musik memang jalur saya sebenarnya di musik tapi film cukup seru. Di film masih bisa kontribusi musik. Di Silariang ada judulnya Rumah itu saya produksi bareng teman-teman.

Tahun ini mungkin membatasi film karena ingin membuat album solo. Saya berharap lewat single Rumah dari film Silariang ini membuat orang lebih tahu saya.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading